Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2024

Neverland A Go Go ~ Asanuma Shintaro

 Halo semua, lama tak bersua


Sebenarnya ada beberapa hutang review yang belum dibayar, tapi aku udah bawa yang lain. Sorry

Buat kamu yang lagi belajar bahasa Jepang ini bagus juga buat coba ditonton. Ya maaf aja karena aku nonton ini karena aku suka sama penulis naskahnya, sekaligus sutradara. Namanya Asanuma Shintaro. Dan kebetulan aku juga belum pernah cerita soal dia di blog ini ya? Dia penulis naskah, director theater, dan dubber juga di Jepang. Ada 2 drama panggung karya dia yang paling aku suka. Dia lebih kita kenal karena profesi dubbernya si, itu juga ga kaya dubber yang lagi naik daun sekarang, biasa aja. Tapi aku lumayan suka sama aktingnya. Baik di suara atau visual, fisik juga.

Jadi dari 2 karyanya yang aku suka Neverland A Go Go ini salah satunya. Aku ga bisa spoiler ya, karena bener, ini ga bisa banget di spoiler cuma aku kasih tau beberapa yang menurutku musti kalian perhatiin saat nonton mungkin ya, meski ga banyak.

Oke. Sekali lagi deh aku kasih tau. Ini pendapat orang tapi aku juga setuju sama dia, jadi sekali lagi..

Karya ini bener-bener ga bisa spoiler!!

Jadi kalo emang kalian ada niatan untuk nonton, tonton dulu!!

Tonton dulu sekarang, tanpa kalian tau apapun!



Buat kalian yang susah untuk cari karya ini, aku ada link yang bisa kalian pakai untuk nonton


Oke, balik ke topik. Aku coba untuk ga spoiler atau kasih klue banyak-banyak.

Sebelumnya, aku nonton ini cuma pure karena karyanya Asanuma Shintaro, jadi aku nonton. Tanpa tau sama sekali ini karya cerita soal apa dan genrenya apa. Mungkin buat dapet kejutannya kalian harus gitu juga kali ya. Karena aku tipe yang kaya gitu makanya paling ga suka spoiler mpe mati. Ya, meskipun kalo minta rekomendasi dari orang pasti diceritain dulu si.

Jadi, aku mau cerita kesan juga sebenernya bingung harus bilang apa. Tapi kaya yang aku bilang tadi, yang nomor 1 suprise kali ya. Lumayan terkejut sama akhirnya. Dan itu kejutan yang bisa bikin cewe-cewe disitu bereaksi seperti biasa, teriak aaaaa. Dan karena aku suka Asanuma Shintaro mungkin teriakanku lebih kenceng lagi. Wkwk

Trus ke 2 mungkin dibikin jengkel kali ya. Bukan di akhir di awal ato gimana, dikit-dikit dibikin "ish, apaan si" kesel gitu. wkwk

Ke 3 mungkin ini aku kasih tau aja ya. Jadi tokohnya itu banyak, lumayan. Tapi karena suatu alasan mereka bukan pake nama asli, tapi pake nama samaran. Dan nama samaran itu nama-nama karakter Disney. Mickey, Pluto, Donald, Piglet, Alice, dll, itu aku ga tau spellingnya bener atau ga wkwk

Dan di awal ketika mereka keluar, mereka dikenalin sekaligus semua, makanya ada yang komentar juga susah untuk hafalin ini siapa yang Mickey, siapa yang Alice, dan ketika nongol pertama mereka cuma bilang line penting dari karakternya masing-masing aja. Nama mereka di dalem ceritanya bakal keluar satu-satu di dialog gitu. Tapi ya karena tokoh yang banyak mungkin jadi bingung ya. Tapi menurutku karena dari cerita mereka harus pake nama samaran, dan nama samarannya bukan nama yang asing buat kita ya, nama karakter Disney, menurutku ga terlalu bingung-bingung banget si.

Jadi intinya itu, yang ke 3 mereka pake nama samaran tokoh Disney, jadi ketika nonton ini perasaannya gimana gitu, karena harus disandingkan dengan perasaan kita ke tokoh-tokoh Disney yang notabene kaya dunia mimpi, kenangan masa kecil, menyenangkan gitu kaaan. Ehem, dah sampai situ aja


Dalam jangka lumayan cukup lama, aku akhirnya nemuin karya yang bener-bener bisa aku bilang bagus, dari segi cerita dan impact yang aku dapet, untuk bisa aku review di blog ini. Yang lain, seperti yang aku bilang aku punya utang, juga ada. Tapi saat ini otakku lagi ga bisa mikir kesitu. Sorry wkwk

Dan sekali lagi, aku rekomendasiin ini buat kalian belajar bahasa Jepang juga. Sudah pasti yang aku maksud ya kalian liat karya itu, rasakan, tanpa sub wkwk. Yang sudah lama belajar semoga bisa memahami sebagian besar jalan ceritanya wkwk. Semangat belajarnya kawan!


Jayalah Indonesiaku!

Salam

Jumat, 13 Mei 2022

KinKi Kids (Entertainer buatmu siapa?)

Hai, semua! Lama aku ga nulis entry. (hiatus?) wkwk istirahat.

Yang tadinya cuma sekedar nengok ga niat ngepost, jadi ini hasilnya. Aku liat-liat draft, nemu draft ini dan aku ga edit terlalu banyak entry ini, langsung cuuus, postingan dari draf yang aku tulis kurang lebih 2 tahun silam. Wwww

******
Mungkin ga banyak yang tau KinKi Kids. Tapi kayaknya banyak orang Indonesia, terutama penyuka entertainment asia, yang tau Johnny's Entertainment.

Yup! KinKi Kids adalah duo idol di bawah naungan agensi Johnny & Associates  (Johnny's), dan perusahaan rekaman Johnny's Entertainment (sekarang J-Strom kalo ga salah).


Aku sendiri mulai tau nama "KinKi Kids" dari sebuah artikel. Awalnya karna game Idolish7, game kesukaan. Ketika cari-cari artikel, karna pingin denger pendapat orang-orang soal game itu, terutama dari sisi ke-real-an ceritanya, ketemu deh sama artikel yang ditulis sama penggemar Idolish7 sekaligus fans Johnny's. Isi artikelnya, penulis ngejejerin cerita Idolish7 sama Johnny's. "Kalau 2D (Idolish7) ini, kalau real life (Johnny's) itu". Kalau di Idolish7 Re:vale, kalau di Johnny's KinKi Kids. Dari situ aku cari tau tentang grup ini.


Nama Grup   KinKi Kids
Debut CD      21 Juli 1997 (Garasu no Shonen)

Keduanya masuk Johnny's tahun 1991, dapet nama grup dan beraktivitas di dunia entertainment. Sejak main di drama Ningen Shikkaku (1994), mereka naik daun dan terus digemari sampe sekarang. Konser pertama mereka sebelum debut diadakan di Nihon Buddokan. Baru tahun 1997 mereka debut dan itu pun diberitahukan satu hari sebelum konferensi persnya.

Dari sejak debut, 41 single (sekarang 43 kayaknya) mereka berturut-turut selalu menduduki peringkat satu di kemunculan pertamanya di Oricon Jepang dan menjadi rekor pertama dalam dunia musik Jepang yang tercantum di Buku Rekor Dunia.

KinKi selalu mengadakan konser tutup dan buka tahun dan tercatat 20 tahun berturut-turut mengadakan konser di Tokyo Dome. Namun untuk tahun 2018-2019, konser tutup buka tahun ditiadakan karena keadaan telinga Tsuyoshi, yang mengalami kehilangan pendengaran mendadak tahun 2017 silam, belum sanggup menerima suara keras selevel dome. Namun, mereka kembali mengadakan konser di Tokyo Dome dan Kyosera Dome tahun 2019-2020 kemarin.

Koichi, memulai semua aktivitas entertainmentnya sejak masuk Johnny's. Namun Tsuyoshi, sejak kelas 1 SD merupakan anggota sebuah kelompok theater, menjadi aktor cilik, memainkan drama panggung, beberapa drama dan film, serta MC di beberapa acara televisi lokal hingga kelas 5 SD. Kelas 6 SD barulah ia masuk Johnny's Entertainment karena kakak perempuannya mengirim lamaran ke Johnny's tanpa dia ketahui, sama seperti Koichi.






Ketika orang pingin tau soal seorang seniman sebagian besar dari mereka biasanya akan liat karya dari seniman itu. Tapi kalau pingin tau seniman itu secara pribadinya, aku ga tau kalian gimana, mungkin kebanyakan orang akan dengerin cerita seniman itu atau aku biasa bilang, dengerin talk-nya, berbincang dengannya. Karna dari apa yang orang itu ucapin kita bisa tau apa yang orang itu pikirkan. Gimana cara berpikir orang itu.


Gitulah aku ke KinKi Kids. Aku selalu pingin kenal orang dari pribadinya dulu, apapun profesinya. Jadi ketika pingin tau tentang KinKi Kids aku mulai dari perhatiin talk-nya. Lupa si, video yang mana, tapi kalau ga salah kumpulan scene menarik dari acara TVnya Kinki Kids, "Domoto Kyodai". Dan hasilnya, liat video itu, reaksinya kebanyakan ketawa. オモシローーー!!
Kalau ditanya lucunya kenapa, bukan karena tingkah bodoh, kaya muka aneh dan semacemnya, tapi bener-bener karna banyolan yang keluar dari mulut mereka dan cara mereka cerita episode-episode menarik dengan kemampuan aktingnya.

Dari situ makin tertarik sama KinKi Kids. Hingga akhirnya liat dramanya, sambil baca artikel, liat konsernya, baru dengerin lagunya. =>polaku seperti biasa




Sebelum aku lanjut bahas lebih banyak, peringatan ni hehe
Tulisan di bawah adalah kesan bocah yang cuma liat anime, main game dan ga pernah liat acara TV Jepang, ataupun paham banyak artis Jepang, wkwk. Jadi harap maklum ya. Lebih tepatnya mohon koreksi dan pendapat kalian.




TALK (Domoto Kyodai, Shin Domoto Kyodai)

Kaya yang tadi aku bilang, talknya menarik. Ya, untuk bisa paham emang harus bisa bahasa Jepang kalau ga ada subtitlenya. Ya, sesusah itulah sekarang aku mikir harus gimana ngejelasinnya. Domoto Kyodai yang kasih liat aku talk-nya Kinki, jadi aku ambil ini.

Katanya si karena ''orang Kansai (bagian timur Jepang), pasti jago ngomong'', atau lebih tepatnya kalau kata Tsuyoshi, orang kansai itu lucu, menarik.
Domoto Kyodai itu acara musik, tapi ada talknya juga, dan tiap minggu ngundang guest atau bintang tamu.
Seperti yang tertera di lirik lagu tema acaranya, Kinki yaritai hodai, a.k.a bebas, sesuka hati mau ngapain di acara mereka, tapi tetep berjalan dengan baik acaranya.
Nah, suka-sukanya mereka itu,,

  1. Terhadap guest yang cukup aneh, ga sungkan bilang, ''kamu aneh ya'' dan semacamnya.
  2. Kadang kalau guestnya komedian atau orang lucu yang udah akrab ma mereka, kadang di opening mereka diem. Guestnya suruh ngenalin dirinya sendiri, ga dikenalin. Intinya ga diladenin.
  3. Nyeritain episode-episode yang mereka alamin dengan kemampuan akting mereka yang sanggup bikin cerita itu hidup.
  4. Intinya, mereka pinter berekspresi ketika lagi cerita. Namanya juga aktor.
  5. Ketika ga sependapat sama guest tentang suatu hal, mereka blak-blakan ngomong.
  6. Lawakan diantara mereka berdua doang. Bukan berarti yang lain ga paham si. Maksudnya saling ceritain episode lucu satu sama lain. Tsuyoshi cerita tingkah atau perkataan lucu Koichi, begitu sebaliknya, meskipun paling banyak kedenger, cerita soal Koichi.


Itu inti yang bisa aku ceritain dari yang aku perhatiin, sebagai ''KinKi Kids".
Kalau masing-masing,,

~Koichi
Pertama, paling banyak yang keluar dari mulutnya dan bikin orang langsung tau karakter dia yakni kata-kata polosnya dia. Dikatain polos terlalu biasa sebenernya, karna dia itu polosnya luar biasa.
Kedua, tanggepannya yang kaya bapak-bapak, om-om, atau maksudnya laki-laki berumur padahal dia masih muda ketika itu.
Ketiga, ejekan dia terutama ke penonton di studio, kaya ''ih, kalian bego ya'' atau ''jelek''. Aku tulis kayak gini jadi kesannya beneran ga baik ya, tapi sebenernya ada alurnya kenapa dia bilang kayak gitu. Koichi yang penonton, terutama fans KinKi kenal, emang Koichi yang kaya gitu. Bahkan penonton bales ngejek Koichi dengan kata-kata ''botak''. Itu udah jadi komunikasi Koichi sama fans.
Ketika obrolan berlangsung, Koichi cuma ngomongin apa yang dia pikirin aja sebenernya terkesan tanpa bohong, tapi ya karena kepolosannya dia jadinya begitu. Orang bisa polos kaya gitu karena pengetahuan dia soal kebiasaan hidup beda ma orang-orang, ya ga si? XD

~Tsuyoshi
Pertama, pengetahuan dia soal artis lebih luas dari Koichi dan emang paling suka nonton acara komedi. Jadi, dia lebih jago memperluas perbincangan dengan bahasan artis lain atau niru lawakan komedian-komedian Jepang. Tapi, karena dia kalau cerita panjang, jadi bagian mandu jalannya acara tugasnya Koichi.
Kedua, dia ngbanyol dan nglawak dengan cerdas, kreatif.
Ketiga, kalau lagi ga serius, cerita dari dia selalu lucu. Penonton pasti ketawa. Dia selalu bisa cerita dengan baik, bikin ceritanya hidup dengan permainan ekspresinya yang jago. Cara dia ngungkapin sesuatu bagus banget menurutku. Ga lagi cerita pun ekspresinya dia beragam walau sebenernya lebih sering ga bereaksi berlebihan sama omongan dan kelakuan yang lain.
Kesimpulan, aku suka dengan kemampuan berekspresinya Tsuyoshi tadi. Haha. Ceritanya bener-bener lucu. Jago niruin orang, dan cerdas nglawaknya, atau sebenernya lebih tepat kalau ''Tsuyoshi isinya nglawak mulu''. XD



DRAMA

Pertama liat akting mereka di drama ''Ningen Shikkaku''. Akting mereka berdua bagus. Tapi yang lebih menarik perhatianku aktingnya Tsuyoshi. Aku bukan ahli di bidang bermain peran sebenernya. Tapi entah karena karakter yang dimainin Tsuyoshi lebih kentel atau gimana, aku lebih pingin tau gimana perasaan tokoh yang diperanin sama Tsuyoshi. Entah karena ceritanya juga yang terlalu berat buat batinku atau gimana, wkwk, tapi ngliat tokoh Tsuyoshi disitu ngerasa pingin bantuin. Hingga akhirnya sepatah kata dari ayahnya tokoh Tsuyoshi itu bikin dia bernafas lega, dan ketika tokoh Tsuyoshi harus mati, hmm,, banjir deh, air mata. Wkwk

Setelah itu, ''Wakaba no Koro'', ''Bokura no Yuuki -Miman City-'', 2 drama yang pemeran utamanya juga mereka berdua. Karena dua-duanya main bareng jadi aku ga perlu repot-repot nonton drama masing-masing dari mereka berdua. Hasilnya, ga berubah. Aku masih suka aktingnya Tsuyoshi. Hingga akhirnya nangis lagi di dramanya Tsuyoshi sendiri sebagai tokoh utamanya, Mukai Arata -Doubutsu no Nikki-.



KONSER

Aku lupa konser mana yang pertama aku tonton. Karena awalnya aku udah terlanjur dibuat perhatian ma talknya KinKi. Lagian aku lama untuk nelen musik hanya dengan dengerin. Makanya, selama ini lebih milih liat konsernya untuk bisa nangkep musiknya. Audiovisual.
Tapi ya akhirnya mengalah, ''ok lah, aku coba tonton satu konser''. Tapi sayang. Kaya yang aku bilang tadi, aku lupa konser apa yang pertama aku tonton dan kesan soal konser itu yang aku inget bener-bener ga ada! Karna pertama, aku nonton konser yang lagunya ga aku tau dan talk serta dramanya KinKi nyuri perhatian dan akhirnya nutup semuanya. XD
Jadi, sekarang aku kasih kesimpulan aja dari konser-konser yang udah ditonton dan kesannya.


Kalau suruh nyampein kesan konsernya KinKi dengan satu kata, mungkin ギャップ. Apa ya, bahasa Indonesianya. Perbedaan? Beda jauh. Kebalik malah.

Ketika konser, mereka nyanyi, nari,, keren! Secara natural mereka keren. Keren dari dalem, bukan karena sok keren. Atau daripada dibilang keren, lebih tepatnya apa ya, bagus? Intinya mereka bener-bener nunjukkin sebuah pertunjukkan, performance, entertainment! Dengan penampilan mereka, tarian mereka, setting panggung, lighting, musik/band, semuanya yang ada disitu.
Selain itu, mereka ga teriak-teriak buat bikin meriah ataupun lari-lari dan jingkrak sana-sini. Apalagi headbang, mereka bukan band rock. XD

Mereka ga call and respons sama penonton, kaya teriak "yeeeaaaah!" trus penonton balikin teriak "yeeeeaaah!". Yang kaya gitu, ga ada di konser KinKi! Tsuyoshi masih mending fans servicenya ada meskipun dikit, Koichi sama sekali nol! Yang ada dulu paling cuma lambaiin tangan, sekarang ga sama sekali.

Sebagai sebuah pertunjukkan itu enak dinikmati, ga kurang ga lebih BUAT AKU. Dan mereka bawa suasana enak dengan lagu-lagu mereka yang notabene romantis. Ya, alasan sebenernya mungkin adalah apa yang nanti akan aku tulis dibawah.

Tapi, ketika masuk MC,,, bahkan mereka sendiri pernah bilang "KinKi yang bikin suasana enak, pake lagu romantis mereka tadi. Begitu masuk MC, mereka sendiri yang ngancurin suasana" XD
Intinya sama kaya bagian talk tadi. Di awal mereka emang ga teriak "Hai, semuanyaaaaaaa. Makasih udah dateng yaaaaaaaaaaa!!", trus penonton bales "Iyaaaaaaaaaaaaaaa". Ga ada. Yang ada malah dengan tone rendah mereka sebut nama. "Domoto Koichi", "Domoto Tsuyoshi". Selesai. Trus langsung mulai cerita sendiri hal-hal lucu. Asik ngobrol berdua sambil,, apa ya namanya,, ngledekin(?) penonton yang aneh yang ketangkep mata mereka. Hampir ga ada lips service. Dulu fans dipersilahkan duduk kalau masuk MC, sekarang sebelum dipersilahkan pun fansnya udah pada duduk. Sama kaya Kinki, fansnya juga makin tua. XD

Itu MC pertama. Masuk MC kedua, te re reng, musik habis, langsung cerita, yang intinya asik sendiri berdua. Penonton dicuekin juga ga jarang di konsernya KinKi. Bahkan Koichi pernah cerita soal pembiasan cahaya di atas panggung. Emang kayaknya 'ko ga jelas si?', tapi karena dia yang full power pingin orang ngerti maksud dia, padahal dia juga ga pinter ngejelasin, dan Tsuyoshi yang ngladenin dengan santai sambil minum di tangga panggung deket tempat band, itu jadi kesenengan tersendiri buat penggemar yang ngerti mereka.

MC kaya gitu berlanjut, 20 menit, 30 menit, 45 menit, bahkan hampir 1 jam juga pernah katanya. KinKi terkenal dengan MC mereka yang lama, nurunin seniornya SMAP! Tapi apa yang dinantiin di konser KinKi sama fansnya bukan cuma musik dan perfomance aja, tapi MC mereka juga dinanti-nantiin, karena walaupun konser musik, MCnya aja jadi hiburan. Dan mereka selalu ganti perbincangan. Karena ga ada temanya. Mereka asal cerita apa aja.

Gitulah. Mereka berdua yang asik ngobrol sendiri, ketawa-ketawa, itulah yang dinikmatin ma penggemarnya. Itu, KinKi yang selama ini fans kenal dan semoga akan tetep kaya gitu.

Satu lagi kesimpulan dari cerita tadi, kalau kalian paham konsep 'idol' di Jepang, banyak yang bilang KinKi ga kaya idol. Bahkan ga kaya talent Johnny's yang lain. Senior-senior KinKi selama ini udah bikin orang kenal Johnny's sebagai tempatnya cowo-cowo keren. Tapi gambaran itu sama sekali ga ada di KinKi. Bukan karena mereka ga keren, karena mereka 'pelawak'. XD



LAGU

Sebelum mereka bisa main gitar dan bikin lagu sendiri, musisi lain yang kasih lagu ke mereka. Jadi emang asli lagu-lagunya bagus. Tapi "Ai no Katamari", lagu buatan mereka sendiri, juga ga kalah hit.
Ga banyak komentar dari aku. Kaya yang penggemar lain tau, lagu yang dinyanyiin KinKi itu minor, karena KinKi sendiri suaranya minor. Aku ga terlalu ngerti sebenernya soal itu.
Satu yang paling bikin penasaran, seceria apapun lagu, kalau KinKi yang nyanyi jadi suram. Makanya lagu yang ceria-ceria banget ga cocok buat KinKi.
Secara pribadi, aku suka kemampuan nyanyinya Tsuyoshi. Emang dasarnya diantara semua talent Johnny's, dia termasuk yang kemampuan nyanyinya tinggi dan diakuin sama Michael Jackson. Suaranya bagus!







Mungkin dari yang udah aku ceritain, ada satu dua hal yang mungkin kalian pahami soal pribadi KinKi sendiri.

Pertama, pada dasarnya mereka berdua itu suram! Banyak yang bilang gitu. Makanya dari dalem diri mereka sendiri juga ga ada rasa pingin teriak-teriak, jingkrak-jingkrakan dan nglempar senyum merekah ke sana sini terutama ketika konser.

Kedua, mereka sebenernya ga terlalu suka muncul di depan banyak orang. Ga suka kamera. Lebih suka sendiri. Itu yang mereka bilang. Ya, salah satu ciri orang suram.

Ketiga, mereka serius kerja. Profesional. Bener-bener profesional. Profesional bukan berarti serius, trus jadi kaku. Mereka kan entertainer. Kalau dari cerita Yoshida Takurou, di ruang ganti mereka diem, ga ngobrol, suram. Tapi ketika kamera on, mereka bisa nglawak dan bikin orang ketawa hanya dengan obrolan mereka berdua.

Keempat juga masih nyambung. Kalau tadi aku bilang 'keren dari dalem', mungkin itu karena keseriusan mereka kerja. Maksudnya, ketika nyanyi, nari di atas panggung, dalam benak mereka mungkin, 'Ini kerjaan kami. Tugasku kasih performance terbaik, kasih pertunjukkan yang enak dinikmati. Orang bayar buat nonton konser pertunjukkan. Karena ini kerjaan, kami harus kasih yang terbaik'. Buat aku orang yang profesional dengan apa yang dia lakuin, salah satunya pekerjaan, adalah orang paling keren. Maka dari itu aku bisa bilang mereka keren dari dalem, karena yang keliatan di mataku adalah keprofesionalan mereka. Di acara SONGS Spin off (NHK) Tsuyoshi bilang, dia berusaha ngeluarin 'dirinya' dalam pertunjukkan dan ngajak temen-temen band gitu juga, biar penonton atau orang yang liat, juga bisa ngeluarin 'diri' mereka masing-masing. Dari situ mereka nikmatin pertunjukkan secara total dari dalem. Aku sendiri selalu ngerasa heboh di dalem ketika ngeliat Tsuyoshi yang ngedance dengan asiknya. Walau asik bukan berarti dia teriak-teriak, loncat-loncat. Koreo yang sederhana, tenang sekalipun, karena gerakannya luwes dan masuk ke musik, bikin aku yang liat pingin ikut nari.

Kelima. Kalau tadi aku bilang keren soal performance mereka, tapi bilang juga mereka ga kaya talent Johnny's lain yang notabene cowo keren, itu bener. Performance mereka emang keren, profesional, pertunjukkan yang enak dinikmati, tapi pribadi mereka sendiri ga kaya yang cewe-cewe harepin. Karena mereka itu ga romantis dan bilang kalau cewe itu ribet dan ngerepotin. Tsuyoshi masih mending, masih ngerti perasaan cewe istilahnya. Contoh. Yang mereka permasalahin salah satunya, cewe-cewe yang pingin selalu keliatan anggun, kaya cewe pada umumnya dan cewe yang pingin diperhatiin pacar, dan pingin pacarnya baca perasaan dia sementara dia ga bilang apa-apa. XD
Maaf, tambah lagi, soalnya ini juga jadi keanehan cewe yang ga habis aku pikir. Contohnya marahan, si cewe bakal keluar rumah tapi pingin cowonya nghentiin dia. Yang mana sebenernya?? Bikin cowo berasa serba salah. XD Sabar ya kaum adam.
Makanya, Koichi ga populer. Wkwk. Tapi bukan karena itu mereka belum nikah sampe sekarang. Menurutku karena mereka sibuk kerja dan cuma kerjaan yang hinggap di kepala mereka. Sementara mereka ga kunjung dipertemukan ma 'jodoh' yang mereka maksud. Ya lah, orang ga keluar rumah. Meskipun sama-sama tipe indoor, Tsuyoshi masih mending, tapi itu juga di lokasi shooting drama jarang ngobrol ma pemain dan staff lain. Kalau break paling kerjanya mainin gitar sendiri. Ga terlalu suka ngobrol ma orang, tapi jago dengerin cerita dan keluhan orang. Kalau Koichi, orang ngeliat aja udah ngerasa susah untuk negor. Jadi ga ditegor sama artis lain yang tampil bareng dia. Kalau dapet libur, isinya cuma tidur dan main game di rumah. Kaya aku. Wkwk. Ketika keluar negri pun cuma di kamar hotel main game dan ga keluar kecuali buat kerja. Itu KinKi. XD


Keenam, apa ya,, kalau soal keprofesionalan, mungkin dari cara aku cerita gimana KinKi terhadap sebuah pekerjaan, ada dari kalian yang bilang dalam hati 'masa si? sampe segitunya?'.

Jadi gini, ga sedikit terutama orang Indonesia yang iri sama artis apalagi sama yang sering nongol di TV, terkenal, banyak duit. Banyak orang kita berharap bisa jadi artis. Pekerjaan impian mungkin. Jujur aku udah ga pernah liat TV Indonesia lagi, jadi ga tau sekarang gimana, tapi ketika mulai ngliat acara TV Jepang, publik sana lebih ngebuka apa itu 'entertainment'. Hanya dengan nonton, aku denger banyak cerita soal 'entertainment', 'dunia pertelevisian', 'talent', bahkan 'musik'. Aku belum tau kesimpulanku bener atau ga, tapi dari banyak video, akhirnya aku tau dan paham gimana KinKi 'kerja'. Meskipun aku ga bisa baca majalah-majalah yang memuat banyak interview mereka lebih detail, tapi dengan cerita mereka yang aku denger dari layar TV aja, aku merasa pingin tau lebih dalem gimana mereka kalau kamera lagi off. Apa yang sebenernya mereka pikirin.
Koichi keliatannya si mentalnya masih lebih kuat dari Tsuyoshi. Tapi Tsuyoshi, dari sering sakit perut, kena panic disorder, ambruk di Shanghai, otot lutut hampir sobek, dan tahun 2017 kehilangan pendengaran mendadak terutama telinga kiri. Sebagian karena stress katanya. Terlalu sibuk. Emang. Terutama ketika umurnya masih belasan, dua puluh tahun (panic disorder) dan ketika mau hari jadi ke 20 tahunnya KinKi, makin sibuk lagi (kehilangan pendengaran, masuk rumah sakit) karena diundang stasiun TV sana-sini untuk di interview, main drama spesial, perform di sana-sini. Meskipun sebenernya semua itu bentuk peringatan dari orang-orang buat 20 tahunnya KinKi.


Apa si 'entertainment' itu? Apa si 'dunia hiburan' itu?

Dua pribadi yang sebenernya ga suka tampil di depan banyak orang, harus nanganin rasa gugupnya sendiri untuk nyanyi, nari, ngomong di depan ribuan orang dan hampir tiap hari ngadepin kamera.





Tapi aku ga munafik. Wkwk. Seberapa ga sukanya Tsuyoshi untuk main drama lagi karena lama, cape, schedule padat dan lain-lain, aku tetep pingin liat dia akting lagi. XD




SOLO

~Koichi
Aktivitas solo dia, drama musical (theater) dan konser (musik).
Koichi tipe pekerja keras, profesional dan suka buat sesuatu untuk kemudian dipertunjukkan. Dia tipe produser. Koichi berbakat tapi bukan tipe yang punya banyak bakat kaya Tsuyoshi.
Dari drama panggungnya dia, kayaknya aku paham dengan apa yang Johnny H. Kitagawa (Presiden Johnny's) maksud dengan 'entertainment'. Emang Koichi pernah bilang sendiri, "Johnny bilang hiburan itu, pertunjukkan yang bisa semua orang nikmatin meskipun dia ga ngerti bahasa Jepang". Pada kenyataannya, orang asing yang dateng nonton drama panggungnya Koichi bisa nikmatin pertunjukkannya dia. Koichi adalah orang yang bisa mewujudkan 'entertainment'nya Johnny.

~Tsuyoshi
Aktivitas solo Tsuyoshi lebih banyak di musik. Yang lain, fashion, art, yang masih hangat komedi tapi bentuknya ga kaya yang kalian bayangin. Dia tipe artis, seniman kalo aku liat. Ya, producing sendiri emang.
Kalau Koichi bener-bener bikin pertunjukkan, beda sama Tsuyoshi. Project solo buat Tsuyoshi adalah tempat buat dia nunjukkin dirinya apa adanya. Dia dimarahin juga sama orang agensinya karena lagu buat debut karier solonya yang dia tulis. Judulnya "Machi". Syairnya cowo banget. Dikatain, "Kamu mau terkenal di kalangan cowo?!". Katanya, dia idol jadi harusnya terkenal di kalangan cewe. Itu juga yang bikin dia ngerasa "idol itu ga boleh ya, nulis jujur apa yang dia pikirkan? Jadi aku harus bilang bohong di depan orang-orang?" semacem itu. Dari situ juga keliatan, apapun yang Tsuyoshi lakuin, bukan atas nama KinKi Kids, tapi sebagai seniman sekaligus manusia, itu Domoto Tsuyoshi. Ga jarang dia nangis di konser. Ketika nyanyiin lagu Machi atau Eni wo Yuite pun dia nangis karena semua lagunya, dia sendiri yang bikin. Liriknya lahir jujur dari dalem dirinya. Bener-bener cuma nulis apa yang dia pikirin aja. Aku juga pernah ngerasa nyesek sama sebaris lirik di lagu Machi. Apalagi orang-orang yang bener-bener merasa terwakili sama syairnya, ya?
Sisanya, musiknya Tsuyoshi itu funk, bukan genre musik yang biasa aku nikmatin. Tapi sebenernya makna lirik lagunya patut buat diamatin.




Untuk pribadinya sendiri, Koichi itu tipenya urut sementara Tsuyoshi acak. Koichi gerak pake otak, Tsuyoshi pake feel. Bener-bener beda. Tapi, dua orang yang punya bakat dan tingkat keprofesionalan yang sama-sama tinggi disatuin,,?


KinKi Kids



Sejak mulai perhatian ama acara TV sana terutama ngeliat Kinki, "oh, ini ya, entertainer?". Kalo Kinki Kids, nyanyi, bikin lagu, nari, bikin koreo, penata panggung, bikin panggung pertunjukkan, bikin pertunjukkan. Plus, nglawak?, bawain acara, ngobrol, nghibur orang-orang, dan main drama panggung, main drama dan film, akting.




Berkebalikan dengan semua yang aku ceritain di atas, ga sedikit orang yang bilang "Jangan percaya TV". "Yang muncul di TV itu semuanya bohong. Bikinan. Udah di atur".
Tapi kalian yang paham maksudku mungkin ga bilang gitu. Kayaknya wkwk.
Yup. Kita liat mereka sebagai seorang pekerja.
"Wih, enak ya, ngomong kaya gitu doang bisa dapet duit. Ngomong asal ngablak gitu, aku juga bisa"
"Wih, enak ya, bikin joged aneh aja bisa terkenal dapet duit." Tapi kalau orang udah mulai bosen, kita ga tau riwayat artis itu gimana lagi dengan pekerjaannya dia itu.

*****

Tenang. Dibaca ulang pun aku juga agak ga paham sama apa yang aku tulis. Haha

Tahun ini KinKi Kids merayakan 25 tahun debut mereka. Selamat! Semoga selalu menghibur.
Aku di 2022 sekarang ini merasa cuma perlu bilang gitu si. Mungkin ga seheboh yang kalian pikirin.




Jayalah Indonesiaku!

Salam!

Senin, 17 Oktober 2016

Fukigen na Mononokean

Menonton sebuah film yang menceritakan tentang ayah tak membuatku menangis, tapi temanku yang memang sangat dekat dengan ayahnya, menangis tersedu. Sementara temanku yang lain tak ingin berhubungan dengan laki-laki karena masalah yang terjadi pada orang tuanya terutama dengan sang ayah membuatnya trauma, aku berharap bisa menemukan sosok laki-laki sebagai penanggung jawabku seperti ayah dan adikku. Lalu, Filosofi Kopi, film itu secara garis besar sepertinya hanya mampu membuat segelintir orang saja menangis. Termasuk aku. Kalian yang tahu film itu pasti bingung kenapa ada orang yang menangis melihatnya.


Seperti itulah. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Latar belakang yang berbeda-beda. Dari situlah kita bisa mendengarkan berbagai macam pendapat yang berbeda akan suatu hal. Dunia bisa dilihat dari puluhan bahkan ratusan dan jutaan sudut pandang yang berbeda. Berbeda orang yang melihat, berbeda pula yang kita dengar ketika kita meminta mereka menyampaikan apa yang ada di dalam otaknya.



Anime ini aku review bukan karena mampu membuatku menangis. Sebuah hal kecil, hal yang diketahui semua orang, pelajaran hidup yang bahkan anak kecil pun tahu. Tapi entah karena hal kecil ini sudah menjadi kebiasaan atau seperti apa, aku baru teringat akan hal kecil itu dan menyadarinya ketika menonton “Fukigen na Mononokean”





Judul : 不機嫌なモノノケ庵 (Fukigen na Mononokean)
Pengarang : Kiri Wazawa
Produser : Pierrot Plus
Episode : 13
Tayang : 28 Juni 2016 - 21 September 2016
Genre : Shonen, Comedy, Supernatural


Anime ini menceritakan tentang Ashiya, anak SMA yang memiliki kemampuan melihat siluman. Suatu hari ia tak sengaja menemukan siluman di jalan. Siluman berbulu itu kemudian melekat pada tubuhnya dan tak mau lepas. Karena itu, kondisi badan Ashiya melemas berangsur-angsur seiring semakin besarnya tubuh siluman berbulu itu. Lalu Ashiya menemui Abeno, pemilik Mononokean (berwujud ruang minum teh Jepang) untuk meminta bantuan. Terkejut dengan permintaan bayaran yang tak diberitahukan di awal, Ashiya terpaksa bekerja di Mononokean karena tak sanggup membayarnya. Dan dimulailah keseharian baru Ashiya yang mendambakan kehidupan anak SMA yang normal sebagai pekerja paruh waktu di Mononokean.

Tetapi, dengan bekerjanya ia di Mononokean, ia bertemu dengan banyak siluman yang rata-rata adalah klien Abeno. Dengan masalahnya masing-masing, Ashiya dan Abeno menolong mereka dan setelah masalah mereka di dunia manusia selesai Abeno akan membukakan pintu yang hanya bisa dibuka oleh pemilik Mononokean agar para siluman itu dapat kembali ke dunia lain.


Abeno adalah tipe karakter yang berpikir, bertindak atas dasar akal dan pengalamannya sementara Ashiya adalah karakter periang yang bertindak berdasarkan kata hatinya. Hanya dengan keberadaan dua karakter seperti itu saja kita sudah tahu akan jadi seperti apa isi ceritanya.


Sebelum masuk episode 9, hal yang aku sadari sekedar ‘Gunakan otakmu, tapi jangan lupa untuk dengarkan kata hatimu’. Sementara itu di episode 9, Abeno tak mempersoalkan sikap orang tua dari kliennya yang meragukan pekerjaan mereka, mengusir siluman, karena tak percaya dengan hal-hal tak masuk akal seperti itu serta mengatakan dengan keras agar Ashiya melakukan hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa depannya.

Karena sikap Ashiya terhadap siluman selalu baik dan penuh kasih sayang, aku bisa ikut merasakan perasaannya yang ingin agar manusia percaya bahwa siluman itu ada. Selain itu, Ashiya selalu bekerja membantu siluman dengan sepenuh hati. Dengan kasih sayangnya terhadap siluman yang semakin hari semakin kuat.



Namun pelajaran dari anime ini yang membuatku sadar, sebenarnya adalah tentang saling berbaik hati dan menolong orang lain. Ashiya selalu berusaha semampunya untuk membantu para siluman yang sedang dalam masalah. Sehingga ketika di beberapa episode terakhir Ashiya diceritakan kehilangan kemampuannya melihat siluman untuk membantu siluman, siluman-siluman yang sebelumnya pernah di tolong Ashiya berbalik menolongnya. Mereka, dan Ashiya sendiri ingin agar kemampuannya kembali.

Ketika sadar, ingatanku memutar adegan-adegan ketika aku menolong orang lain atau ditolong orang lain. Menolong dan ditolong mungkin biasa terjadi bagi masing-masing dari kita. Atau dalam kasus ini, ketika kita dalam masalah, orang-orang yang dulu pernah kita tolong, datang pada kita untuk berbalik menolong kita. Balas budi. Terlepas dari pemikiran, “mungkin saja orang itu hanya merasa tak enak karena dulu pernah kita tolong”.


Namun satu hal yang lebih istimewa bagiku adalah ketika orang yang kita tolong, melakukan kebaikan juga untuk orang lain. Ketika kita membantu seorang anak yang terjatuh, ditempat lain anak itu menolong seorang tua untuk menyebrang jalan. Rasa kepuasan karena kita masih diberikan kesempatan untuk menebar kebaikan. Jika semua orang seperti itu indahnya dunia ini. Seperti di film-film saja ya? Terlalu berharap? Tidak. Karena aku tahu banyak orang yang seperti itu termasuk kalian. Hanya saja, kalian yang memang sudah terbiasa melakukan itu tak menyadari bahwa kalian telah melakukan hal baik untuk dunia meskipun itu kecil.




Terima kasih.
Aku harap aku bisa terus belajar dari kebaikan-kebaikan kecil yang kalian lakukan itu.
^_^





Semoga bermanfaat.




Jayalah Indonesiaku!


Salam. :)b

Rabu, 18 Mei 2016

Kopi Sumatera di Amerika



Judul : Kopi Sumatera di Amerika
Penulis : Yusran Darmawan (Kompasianer of The Year 2013)
Tahun : 2013
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Tebal : 268 halaman
ISBN : 978-602-1606-08-7


“Gara-gara keranjingan menulis blog, aku dapat beasiswa ke Amerika. Kubayangkan, aku akan tinggal di sebuah negara megah dan adidaya, tempat segala impian bisa terwujud. Namun, aku melihat sepotong kenyataan lain. Orang miskin menuntut haknya. Pengemis dan homeless masih tersisa di sudut-sudut kota. Di tengah perayaan hari kemerdekaannya, ternyata masih ada teriakan-teriakan pencarian kebebasan.

Pada saat yang bersamaan, aku menemukan keindahan negeriku. Kau akan tahu bahwa kopi andalan Starbucks adalah kopi asli Indonesia. Patut berbangga, koleksi komik RA Kosasih—sang legenda komik Indonesia—berjajar rapi di Library of Congress, perpustakaan terbesar di dunia. Dan hatiku sungguh haru, saat menonton pertunjukkan wayang Bali yang dipentaskan oleh seorang professor Ohio University.

Mungkin Indonesia memang masih perlu belajar dari dunia luar. Namun jika mau melihat ke dalam diri, sesungguhnya kita punya kekuatan yang luar biasa!”




Tak bisa dipungkiri. Setelah mengalaminya sendiri, memang masih terlalu banyak ilmu yang perlu disimpan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Aku bersyukur bisa mencicipi bagaimana rasanya bertegur sapa dengan dunia luar dan melihat bagaimana orang-orang disana hidup. Meskipun aku mengaku masih terlalu jauh dari kualifikasi untuk bisa berbincang jauh, dapat memahami karakter dan pemikiran mereka, serta menggali makna kehidupan hanya dari perkataan yang mungkin tak lebih dari setengah halaman kertas A4. Dan membaca buku ini membuatku belajar untuk mengambil makna dari sudut pandang yang lain, memperhatikan lingkungan dan lebih peka, terus belajar serta berinteraksi dengan lebih banyak orang. Bersyukur dengan yang sekarang, dipilih untuk menjadi pendengar setiap orang-orang di sekitar ingin bercerita mengungkapkan isi hati, sementara aku belajar dari mendengarkan kisah mereka itu, namun masih kurang, kurang, dan kurang. Harus belajar lebih banyak lagi. Manusia tak akan pernah puas walau ilmu pengetahuan atau apapun itu yang ia inginkan telah terpenuhi.



Dalam bukunya ini, penulis menceritakan banyak pengalaman selama ia belajar di negeri adidaya, Amerika. Mengungkapkannya dengan kata-kata, mencoba menorehkan tinta menggambarkan Amerika dalam kanvas imajinasi pembaca. Tak hanya mengungkapkan apa yang ada di Amerika namun juga semua pemikirannya tentang negeri Paman Sam dikaitkan dengan apa yang ada di tanah air.

Dari belajar memahami sistem belajar di kampus Amerika, juga pendapat penulis tentang bahasa, di mana pemikiran, ide, gagasan lebih dihargai tinggi meskipun bahasa Inggris pas-pasan. Perbedaan pemikiran siswa, mahasiswa Amerika dengan Indonesia. Penulis juga menceritakan semua bau Indonesia yang tercium di tanah Amerika. Dari kopi asli Indonesia, wayang dan lain sebagainya seperti yang telah diungkapkan. Melihat dan mendengar mahasiswa Jepang yang belajar bahasa Indonesia saja sudah senang, bahagia dalam hati, apalagi jika kuterbang juga ke Amerika melihat orang-orang di sana bermain gamelan? Bahkan salah seorang profesor dari Ohio University memainkan wayang Bali.

Penulis buku “Kopi Sumatera di Amerika” ini pun menceritakan bagaimana beberapa pemandangan tak terduga di sudut-sudut kota sebuah negeri Adidaya tertangkap retina matanya seperti yang diungkapkan dalam sinopsis buku. Aku berpikir bahwa semua bangsa sama setelah membaca bagian ini. Setiap bangsa pasti memiliki masalahnya masing-masing. Tinggal bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu. Tuhan Maha Adil.


Sejak berkuliah di kampus pendidikan, Universitas Negeri Jakarta pun isi kepalaku dipenuhi dengan masalah pendidikan. Harus itulah yang selalu aku lihat agar aku mampu bekerja profesional. Dari pendidikan usia dini, perguruan tinggi. Formal, informal, serta non formal. Berkaitan dengan itu, menjadi salah satu bahasan yang menarik ketika membaca tulisan Yusran mengenai anak-anak di Amerika. Jelas berbeda dengan perlakuan orang dewasa di Indonesia yang lebih terkesan selalu menggurui dan memarahi. Orang tua di Indonesia yang berpandangan bahwa anak haruslah mematuhi semua kata orang tua karena orang tua lebih banyak tahu dari anak kecil masihlah terlalu banyak aku rasa. Pemikiran seperti itu menjadikan cara mendidik yang kurang baik karena tak mampu memaksimalkan potensi anak. Orang tua di Amerika terkesan selalu menyamakan derajat anak dengan mereka. Orang tua yang mengucapkan ‘maaf’ kepada anak kecil adalah hal biasa, begitu juga ‘terima kasih’. Mereka mampu menjelaskan apapun kondisi mereka kepada anak sehingga anak mengerti.

Satu hal lagi yang tak boleh terlewatkan ketika kita, seorang muslim, menceritakan pengalaman hidup di negeri orang, sudah pasti ialah menjalani hari-hari sebagai pemeluk agama Islam di negeri dengan mayoritas warga non muslim. Dibandingkan denganku yang tak menjalani puasa dan hari raya di negara orang, Yusran bercerita lebih banyak tentang muslim di Amerika. Aku pun paham bagaimana rasanya bertemu dengan sesama muslim di negeri minoritas seperti Amerika. Beribadah di masjid tertua di Jepang—Masjid Kobe—pun sudah senang sekali rasanya. 


Dan masih banyak cuplikan kehidupan Yusran di Amerika yang lain yang pastinya menginspirasi. Sebagai anak yang tumbuh di keluarga yang untuk membeli buku sekolah pun harus bersusah payah, serta tak dikenalkan dengan kebiasaan buku sejak kecil, ingin rasanya membaca lebih banyak buku seperti karya hebat Yusran Darmawan ini.




Yusran melihat nilai kehidupan yang berharga dari sebuah hal yang mungkin jika orang lain lihat bukanlah sesuatu yang seberat itu. Yusran mampu menarasikan pemikirannya dengan baik. Sebuah pemikiran kritis yang positif dan berpandangan jauh ke depan. Caranya mengambil sudut pandang akan suatu kejadian sekecil apapun itu mampu ia ungkapkan sehingga siapapun yang membaca catatan sejarahnya akan ikut berpikir.

Berada jauh dari tanah air memberikan pelajaran yang sangat berharga. Seperti yang ia ungkapkan betapa kita masih jauh dari negara-negara maju itu. Betapa masih banyak hal yang kurang dari kita. Banyak hal yang harus kita pelajari dari dunia luar. Namun Yusran seolah tak menampik bahwa seperti apapun kondisi kita saat ini, satu-satunya alasan mengapa kita masih ada di sini hanyalah karena kita masih dan akan terus mencintai Indonesia.


Tak ada yang mengharamkan ilmu pengetahuan. Menggali ilmu adalah hal yang penting. Untuk itu kita berjuang mencari setetes demi setetes air kesana kemari tak lain demi bangsa sendiri. Ilmu pengetahuan bukan untuk ditinggalkan, bukan untuk diterlantarkan hanya karena kita merasa tidak butuh. Ilmu pengetahuan bukan hanya sebagai pajangan di atas meja kerja. Ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang perlu kita takutkan ialah ketika kita menjadi orang yang semakin berakal namun akal kita menutupi mata hati. Menjadi manusia pendusta, bermuka dua, naif, dan keji.

Melihat ke bawah perlu agar kita bersyukur. Namun ilmu pengetahuan, pengalaman berharga di luar sana masih terlalu banyak, untuk kita cepat merasa puas. Pengalaman berharga yang mungkin tak akan kita dapatkan di tempat lain. Pengalaman berharga, bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga atau mungkin bangsa dan negara.

Tak hanya pembelajaran dari luar. Ketika kita di luar, jauh dari tanah pertiwi terkadang, seolah terngiang nasehat ibu di rumah, justru tanah pertiwilah yang memberikan pelajaran berharga. Selain itu, selalu berada di zona aman tidaklah buruk. Namun seseorang yang terjatuh di pertarungan bukanlah orang gagal, mereka yang tak pernah maju dalam pertarunganlah orang yang tak pernah berkembang. Selalu berada di lingkungan yang satu pemikiran dengan kita bukanlah hal berbahaya. Namun orang sukses adalah mereka yang berani keluar untuk menjemput pengalaman bak berlian. Mendapat ilmu pengetahuan yang telah disajikan, kita harus bersyukur, namun kita pun harus malu karena tak berkembang jika tetap diam dalam zona aman tanpa mencari zona pertarungan untuk meraih medali emas.



Untuk saat ini hanya ini yang bisa kusampaikan. Sekian dan terima kasih.






Jaya Indonesiaku!

Salam! :)b

Rabu, 11 Mei 2016

Boku Dake ga Inai Machi



Judul : Boku dake ga inai Machi (僕だけがいない街)
Tipe : TV
Episode : 12
Status : Completed
Tayang : 8 Januari 2016 sampai 25 Maret 2016
Adaptasi : Manga
Genre : Mystery, Psychological, Seinen, Supernatural


Anime ini menceritakan tentang seorang pemuda yang memiliki kemampuan yang melemparnya kembali ke masa lalu baik itu 1 jam yang lalu atau 18 tahun yang lalu karena ia seharusnya dapat mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada saat itu. Suatu ketika ia terlempar ke masa ketika ia SD dimana sebuah pembunuhan beruntut kepada 3 orang siswa SD seusianya dengan 2 orang diantaranya adalah teman sekelasnya. Ketika dia hanyalah manusia berukuran tak lebih dari 120 cm. Ketika dia hanyalah anak kecil yang tak punya kekuasaan. Tak ada orang dewasa yang percaya dengan ceritanya. Hanya dengan beberapa sahabatnya ia berjuang bersama melindungi teman mereka yang menjadi target. Hingga akhirnya ia yang menghadapi bahaya, berdiri berhadapan dengan pelaku pembunuhan sendirian.




Anime ini menyadarkanku akan suatu nilai penting yakni kepercayaan. Menyaksikan perjuangan sang tokoh membuatku ikut merasakan kesakitannya. Bagaimana rasanya ketika tidak ada orang yang percaya pada kita hanya karena kita anak kecil. Bagaimana rasanya ketika tak ada orang dewasa yang mempercayai cerita kita karena menganggap itu sebagai imajinasi anak-anak. Hingga akhirnya anak-anak kita harus menghadapi keadaan bahaya sendiri. Anak kecil melawan orang dewasa yang memiliki kekuasaan. Padahal hanya sakit dan sesal yang tertancap di hati ketika nanti pada akhirnya kita menemukan buah hati kecil kita dalam keadaan yang tak seharusnya ia alami andai kita percaya padanya.


Mungkin 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun ke depan akan semakin sulit untuk kita menemukan orang yang percaya pada kita. Disaat kita tahu bahaya mungkin saja akan terjadi, tanpa bukti dan kawan-kawannya, yang membuat kita tak bisa berbuat banyak, tak bisa mengambil tindakan apapun jika seorang diri. Kita harus pula merasakan sakit ketika tidak ada yang percaya pada kita. Tidak ada satu tangan pun yang bersedia menyambut ajakan tangan kecil ini.

Orang semakin berpikir realistis. Rasional. Ketika kita tahu ada hal buruk yang mungkin akan terjadi jika tidak kita hentikan, tidak kita protes. Tapi membuat orang percaya pada idealisme kita, mencoba mengajak orang untuk tak terlalu rasional, mengajak orang untuk bergerak dan tak hanya duduk diam. Tak sedikit yang menolaknya dengan anggapan kita profokator.

Hal seperti itulah yang aku yakin kalian pun berharap agar tidak terjadi di atas tanah pertiwi. Agar warga dunia tak tumbuh menjadi orang dengan otak dan hati dipenuhi akan rasionalitas.




Anak kecil. Dari yang kupelajari, baik di Amerika, Jepang, sikap orang dewasa terhadap anak kecil sangat berbeda dengan warga kita. Mereka selalu tersenyum, menyapa, dan menegur, mengajak berbicara ketika bertemu dengan anak kecil. Pegawai restaurant membukakan pintu jika ada anak kecil akan masuk. Membukakan pintu dengan senyum, sapa, dan tertunduk hormat memperlakukan mereka bak raja atau ratu. Mereka selalu mendengarkan kata anak-anak. Meminta pendapat anak-anak. Bercerita apa yang mereka hadapi sebagai orang dewasa kepada anak-anak secara terbuka. Mereka meminta maaf jika melakukan kesalahan pada anak-anak atau membuat malaikat-malaikat kecil itu terluka. Pemikiran orang dewasa dan anak kecil memang berbeda. Namun dalam rapat mendengarkan pendapat banyak orang yang beda pemikiran bukankah akan menciptakan project yang sempurna?


Aku mencintai anak-anak. Meskipun aku bukan tipe orang yang mudah akrab dengan anak-anak atau dicintai mereka, tapi aku tak mau ada orang dewasa yang menyakiti adik-adikku. Anak-anakku. “Karena kalian adalah idealismeku”. Tanpa kalian, kami orang dewasa yang telah terlalu banyak diracuni realita kehidupan tak akan pernah mendengarkan kata hati kecil yang terdalam. Keingingan kasih sayang yang polos, salah satu yang sudah ada pada kita sejak kecil. Sejak terlahir. Sesuatu yang kini telah tertutup banyak fakta logika tentang dunia.












Jaya Indonesiaku!

Salam. :)b

Senin, 25 April 2016

Hai to Gensou no Grimgar



Mungkin kurang pantas karena aku bukan pengamat anime. Tapi dari sekian banyak anime yang sudah pernah aku tonton anime ini memiliki sudut pandang yang berbeda. Entah karena jumlah episode yang sedikit atau apa, tetapi anime ini adalah anime fantasi yang tidak terlalu menfokuskan pada kisah atau informasi-informasi tentang dunia fantasinya. Pengarang tidak terlalu banyak membahas tentang goblin (makhluk fantasi dalam anime ini), atau sihir, maupun tempat-tempat asing. Karena menurutku akan banyak informasi yang muncul jika hal seperti itu dibahas lebih rinci. Seperti jenis-jenis goblin, kekurangan dan kekuatannya. Macam-macam sihir baik yang dipakai pendeta maupun penyihir sendiri, dan lain-lain. Dalam anime memang dibahas tetapi tidak serinci yang aku kira. Anime ini tidak memfokuskan pada pertarungan para tokohnya seperti halnya anime-anime action lain.

Judul : Hai to Gensou no Grimgar (灰と幻想のグリムガル)
Tipe : TV
Episode : 12
Status : Completed
Tayang : 11 Januari 2016 sampai 28 Maret 2016
Produser : Toho Company
Adaptasi : Light Novel
Genre : Action, Adventure, Drama, Fantasy

Melihat anime ini aku merasa dibawa untuk ikut memikirkan apa yang dipikirkan si tokoh utama. Kelompok mereka kehilangan sosok pemimpin yang memang memiliki sifat yang lebih dewasa dibandingkan yang lain. Sebagai gantinya tokoh utamalah yang menggantikan perannya sebagai pemimpin. Ia memikirkan banyak hal tentang apa itu pemimpin? Bagaimana seharusnya menjadi pemimpin? Bagaimana ia harus bersikap? Tak jarang ia kembali memikirkan bagaimana jika pemimpin lama mereka masih hidup, apa yang akan ia lakukan, atau lebih tepatnya, ia pasti bisa mengatasi masalah apapun itu yang ada dalam kelompok.

Bukan permasalahan menghadapi goblin, tetapi masalah kerjasama dengan anggota kelompok yang lain. Bagaimana memahami sifat dan watak teman-temannya yang berbeda-beda. Bagaimana agar ia dapat menerima anggota baru yang notabene sikapnya tak disukai baik olehnya atau oleh teman-temannya. Tapi ia harus membuat anak baru itu senang dengan kelompok barunya. Ia harus memahami sifat anak itu dan membuat teman-temannya menyukainya sehingga dapat menerimanya.

Ketika kau diserahkan untuk menjadi pemimpin dalam kelompok, padahal kau tahu kau tak bisa. Tapi ia berjuang dan seiring berjalannya waktu ia bisa memimpin dengan caranya dan membuat kelompok yang menyenangkan seperti yang diharapkan teman berharganya yang telah tiada.


Tanpa mengabaikan cerita fantasinya pengarang mampu membuat penikmat cerita merasakan arti teman seperjuangan dengan imajinasi masing-masing. Membuatku kembali mengingat rasanya menjadi pemimpin walau dalam kelompok kecil tanpa tahu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang pemimpin.

Bisa dikatakan anime fantasi kadang mendapat gambaran anime dengan cerita berat, tetapi dengan fokus yang berbeda anime ini menjadi lebih halus, lebih tenang, lebih ringan. Ringan karena kita hanya diajak merenung.



Aku memang menyayangkan pemimpin lama mereka yang telah tiada, karena aku menyukai karakternya. TAT

Meski dikatakan pemimpin karakternya tidak digambarkan sebagai seseorang yang selalu menggurui teman-temannya. Ia sosok yang pintar dan selalu dapat diandalkan dan bukan sosok yang tak pernah melakukan hal konyol sama sekali. XD

Ia yang selalu dielu-elukan ketika sang tokoh utama tak tahu bagaimana harus berbuat atau merasa sepi tanpa kehadiran teman berharga dalam kelompok kecil mereka itu. Aku pun, jika aku berada di posisi mereka, akan sangat menyakitkan. Sedih kehilangan sosok seperti pemimpin lama mereka. Dimataku ia sosok seorang kakak yang punggungnya setia terbuka lebar untuk kita jadikan sandaran.

Seperti halnya sosok yang paling kehilangan jika salah satu orang berharga telah pergi, sang tokoh utama pun yang paling terakhir menangisi kepergian teman mereka. Tangisan sesak, menyedihkan membuat penikmat cerita tahu betapa berharganya sosok dewasa itu dalam kelompok kecil si tokoh utama.



Aku rasa, anime dengan beat seperti ini akan selalu kurindukan kehadirannya. Mengupas habis semua yang dipikirkan tokoh dalam cerita meskipun itu hal kecil, atau hanya egonya saja. Lebih peka dengan lingkungan kita, lebih banyak memikirkannya, membuat kita tak akan mudah melupakan setiap detik yang kita lalui. Membuat kita mengerti apa yang kita pelajari detik ini. Membuat pelajaran itu tak hanya mampir di otak kita tetapi benar-benar terpatri, tertanam tak bisa lepas. Sekalipun detik itu adalah detik paling menyakitkan dalam hidup, tapi aku yakin, sedih, perih, sakit, kita membutuhkan itu. Tak selamanya hidup kita disinari indahnya sinar mentari pagi. Ada siang ada malam. Ada sedih ada senang.


Sekian dan terima kasih.



Jaya Indonesiaku!

Salam. :)b

Kamis, 31 Maret 2016

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela (Pendidikan Membangun Bangsa)



“Saya tidak akan hilang kesabaran kalau hanya itu masalahnya.”
Mama jadi salah tingkah ketika guru itu mencondongkan badannya ke depan. “Kalau dia tidak membuat kegaduhan dengan mejanya, dia berdiri. Selama jam pelajaran!”
“Berdiri? Di mana?” tanya Mama kaget.
“Di depan jendela,” jawab guru itu ketus.
“Kenapa dia berdiri di depan jendela?” tanya Mama heran.
“Agar dia bisa memanggil pemusik jalanan!” guru itu nyaris menjerit.
Kuroyanagi, 1981: 14


Mendidik berbeda dengan mengajar. Semua orang mampu mengajarkan asalkan mempunyai ilmu pengetahuan. Tetapi tidak semua orang mampu mendidik. Karena mendidik bukan hanya soal menyampaikan materi tetapi meneruskan dan mengembangkan nilai hidup.

Secara garis besar tujuan pendidikan di sini dan di sana sama saja. Tidak berbeda. Hanya cara mencapai tujuan itulah yang berbeda. Ada cara yang efektif, ada yang tidak. Ada cara yang cepat, ada yang tidak. Ada cara yang simple, ada juga yang membutuhkan segunung properti dalam pelaksanaannya. Bermacam-macam. Sama halnya dengan setiap individu yang dalam mencapai tujuannya mereka menggunakan cara yang berbeda-beda, setiap negara pun memiliki cara yang berbeda untuk mencapai tujuan pendidikan nasionalnya. Namun apakah benar cara tersebut mampu dengan tepat mewujudkan tujuan tersebut? Atau tidak?

Pengalaman melihat-lihat langsung ke sekolah dasar di Jepang memberikan pelajaran berharga. Membaca buku ini memberikan pengetahuan berharga. Betapa tidak, hati berkata bahwa di sinilah kunci sebuah bangsa tumbuh menjadi bangsa yang besar.


Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?
Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.
Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain disana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.


Judul asli : Madogiwa no Totto-chan
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi
Negara : Japan
Genre : Sastra anak-anak, novel autobiografi
Tanggal rilis : 1981
Alih bahasa : Widya Kirana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 272 halaman
Cetakan : Ke-3, September 2003
ISBN : 979-22-0234
(Wikipedia, http://srimuliyani.blogspot.co.id/2014/08/resensi-novel-totto-chan.html)

Hari itu ia benar-benar sial. Dompet kesayangannya jatuh ke dalam kakus! Tidak ada uang di dalamnya, tapi Totto-chan sangat suka dompet itu.
Tapi totto-chan bertekad takkan menangis atau merelakan dompetnya hilang. Ia pergi ke gudang peralatan tukang kebun lalu mengeluarkan gayung kayu bertangkai panjang yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman. Ia berjalan ke belakang sekolah sambil menyeret gayung itu dan mencoba menemukan lubang untuk mengosongkan bak penampungan kotoran. Setelah susah payah mencari, akhirnya ia melihat penutup lubang berbentuk bundar kira-kira satu meter dari situ. Dengan susah payah, ia membuka penutup itu dan akhirnya menemukan lubang yang dicarinya. Totto-chan menjulurkan kepalanya ke dalam.
“Wah, ini sama besarnya dengan kolam di Kuhonbutsu!” serunya.
Kemudian Totto-chan mulai bekerja. Ia mulai mencedok isi bak penampungan kotoran itu. Totto-chan mencedoki kotoran lalu menuangkannya ke tanah di sekitar lubang.
Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.
“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan.
“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tak ingin membuang waktu.
“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaanya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu. Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Kepala sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetnya?” tanyanya.
“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.
Kepala Sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Kemudian pria itu pergi lagi, seperti sebelumnya.
“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya. Ia memandang tumpukan itu. Kalau aku sudah selesai aku bisa memasukkan semua kotoran itu kembali ke dalam bak, tapi bagaimana airnya?
Air kotor terserap cepat ke dalam tanah. Totto-chan berhenti bekerja dan mencoba memikirkan cara memasukkan air kotor kembali ke dalam bak, karena ia telah berjanji kepada Kepala Sekolah akan memasukkan semua kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan tanah yang basah.
Sekarang gundukkan itu benar-benar sudah menggunung dan bak penampungan nyaris kosong, namun dompet Totto-chan belum juga ditemukan. Mungkin tersangkut di pinggir bak atau tenggelam di dasar bak. Tapi Totto-chan tidak peduli. Ia puas karena telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari dompet itu. Kepuasan Totto-chan jelas adalah hasil rasa percaya diri yang ditanamkan Kepala Sekolah dengan mempercayainya dan tidak memarahinya. Tapi, tentu saja hal itu terlalu rumit untuk bisa dimengerti Totto-chan saat itu.
Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-chan dalam situasi seperti itu, akan bereaksi dengan berteriak, “Apa-apaan ini?” atau “Hentikan, itu berbahaya!” atau malah menawarkan bantuan.
Bayangkan, Kepala Sekolah hanya berkata, “Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai, kan?”
Sungguh Kepala Sekolah yang hebat, pikir Mama ketika mendengarkan cerita kejadian itu dari Totto-chan.
Kuroyanagi 1981: 56-59



Ini memang buku lama, dan aku menyayangkan baru membacanya sekarang. Mungkin diantara kalian sudah ada yang membaca buku ini ketika tahun 90-an sampai 2000.

Bahasa yang digunakan ringan. Aku rasa anak kecil pun mampu dengan mudah memahaminya. Tak salah jika setelah terbitnya buku ini tak ada kendala yang berarti ketika buku ini dijadikan bahan ajar di sekolah dasar di Jepang.


Sistem mendidikan anak yang digunakan di Tomoe Gakuen terbukti menjadikan bangsa mereka memiliki warga negara yang berkepribadian dan bermoral baik.

Mereka memberikan kepercayaan pada anak-anak agar anak-anak tidak merasa disepelekan dan dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak patut ikut campur urusan orang dewasa. Mereka mendengar cerita, pendapat, keluhan anak-anak. Mereka mau berbagi dengan anak-anak, bercerita tentang masalah orang lain agar si anak belajar peduli dan belajar memahami masalah orang lain. Mereka tak menekankan mana benar mana salah, membiarkan anak-anak tumbuh sesuai umur, membiarkan alam dan lingkungan mendidik mereka.

Tomoe Gakuen. Bukan sekolah yang hanya sekedar sekolah. Tomoe Gakuen menjadi sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Sekolah yang tak ingin ditinggalkan mereka. Sekolah yang selalu menumbuhkan bahagia dalam hati anak-anak. Menginginkan agar matahari cepat menyambut pagi agar mereka cepat berangkat sekolah dan menginginkan senja tak kunjung datang karena mereka tak mau berpisah dengan ‘sekolah’


Sekolah dasar di sana saat ini menerapkan bermacam-macam aktifitas dalam sekolah. Membersihkan gedung sekolah sendiri agar anak-anak menjaga kebersihan, karena mereka paham beratnya membersihkan sekolah. Mereka mengangkut makanan untuk makan siang dan bersama-sama bertanggung jawab apabila makanan itu tumpah atau tidak habis agar mereka lebih menghargai segumpal nasi. Mereka secara bergiliran membagikan makanan kepada teman-teman. Mereka membuat peraturan di sekolah sendiri.

Anak-anak butuh dihargai. Anak-anak butuh didengar. Mereka butuh belajar menghargai dan memahami masalah orang lain. Biarkan anak-anak tumbuh sesuai usianya. Biarkan rasa ingin tahunya membimbingnya. Yang harus kita lakukan hanya mengawasinya dan jangan berani menghilangkan perhatian setetespun dari pendidikan anak. Semua yang kita lakukan harus bertujuan untuk pendidikan anak bangsa.


Ada hari lain yang sangat berkesan bagi Totto-chan. Hari itu, untuk pertama kalinya ia berenang di kolam renang. Tanpa mengenakan apa-apa!
Bukankah seharusnya aku memakai baju renang kalau berenang? pikir Totto-chan. Waktu pergi ke Kamakura bersama Mama dan Papa, ia membawa baju renang, ban pelampung dan perlengkapan renang lainnya. Ia berusaha mengingat-ingat, memangnya kemarin guru mereka berpesan agar mereka membawa baju renang?
Kemudian, seakan bisa membaca pikirannya, Kepala Sekolah berkata, “Jangan pikirkan baju renang. Pergi dan lihatlah di Aula.”
Ketika Totto-chan dan anak-anak kelas satu lainnya masuk ke Aula, anak-anak yang lebih besar sedang menjerit-jerit kegirangan sambil melepas pakaian mereka, seperti kalau mau mandi. Kemudian mereka berlari keluar dengan tubuh telanjang, susul-menyusul, ke halaman sekolah. Totto-chan dan kawan-kawannya segera meniru anak-anak itu.
Orang mungkin heran mengapa Kepala Sekolah membiarkan anak-anak berenang telanjang. Menurutnya tidak wajar jika anak laki-laki dan perempuan terlalu ingin tahu tentang perbedaan tubuh mereka, sampai melebihi batas kewajaran. Menurutnya pula, tidak wajar jika ada orang yang mati-matian berusaha menyembunyikan tubuh mereka dari orang lain.
Ia ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa semua tubuh itu indah. Di antara murid-murid Tomoe, ada anak yang menderita polio, seperti Yasuaki-chan, yang badannya sangat kecil, atau yang cacat. Kepala Sekolah berpendapat jika mereka bertelanjang dan bermain bersama, rasa malu mereka akan hilang dan itu akan membantu mereka menghilangkan rasa rendah diri. Pendapatnya terbukti. Mula-mula anak-anak yang cacat merasa malu, tapi perasaan itu segera hilang, dan akhirnya mereka benar-benar berhasil menghilangkan rasa malu mereka.
Kuroyanagi 1981: 70-73


Aku bertanya pada teman yang telah membacanya semasa sekolah mereka dulu. Namun mereka berpikiran dari sudut pandang Totto-chan. Sementara jika kalian memusatkan perhatian juga pada kepala sekolah dan Tomoe Gakuen, aku yakin kalian dapat melihat betapa hebatnya jika sebuah sekolah yang hanya bermodalkan gerbong kereta bekas menjadi pengaruh pendidikan sekolah dasar yang menjadikan bangsanya menjadi bangsa besar seperti sekarang.

Betapa jauhnya perbedaan kepedulian pemerintahan kita terhadap pendidikan. Bangsa mereka dengan cepat menanyakan jumlah guru dan buku yang tersisa setelah bencana dan cekatan dalam memperbaiki sarana pendidikan. Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan dasar yang juga ikut mengawasi jalannya sistem pendidikan. 




Selalu berdoa. Semoga Allah SWT. mengampuni dosa kita semua. Senantiasa menuntun kita ke jalan yang dianugerahinya. Semoga para pemimpin diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran. Semoga Allah SWT. memberikan hidayah pada pemimpin-pemimpin bangsa.


Semoga Allah SWT. membukakan pintu hati kita semua. Agar kita lebih peduli pada lingkungan. Pada keluarga kita. Pada pendidikan anak-anak kita. Pada bangsa dan negara. Semoga setiap insan nusantara mampu menjadi agen perubahan untuk bangsa Indonesia yang lebih besar. Untuk bangsa Indonesia yang lebih sadar akan segala kekurangannya.



Tampar kami sebelum terlambat!





Jayalah Indonesiaku.

Salam.
;)V

Jumat, 01 Januari 2016

Review 2015

Ketika kubuka buku diariku untuk melihat apa yang telah aku lakukan selama satu tahun di 2015, sedikit terkejut. Karena ternyata awal tahunku di 2015 dimulai dari buku diari satu jilid sebelumnya. Ternyata banyak hal yang sudah kulalui.

Tentang Januari, aku mulai dari cerita di HIMA Bahasa Jepang. Kami melaksanakan evaluasi akhir kepengurusan secara internal di Depok. Mendapat satu pelajaran dari teman, atau lebih tepatnya dia mendapat pelajaran setelah membaca sebuah buku. “Yang orang inginkan dari kita bukanlah materi, tetapi waktu. Waktu agar kita bisa menjadi bagian dari cerita hidupnya” kira-kira seperti itulah. Dan pesan itulah yang membuat dia yang awalnya memutuskan tidak akan bergabung di evaluasi karena agenda bersama teman-temannya yang lain, akhirnya melangkahkan kaki keluar rumah bergabung bersama kami berangkat ke Depok. Sementara untuk evaluasi di Biro Kestari, mungkin Biro Kestari yang paling banyak mendapat evaluasi, tapi terima kasih untuk teman-teman HIMA yang peduli pada Kestari, peduli pada HIMA. Untuk satu tahun kepengurusan di HIMA, banyak hal telah kulalui bersama teman-teman BPH. Entahlah, tapi dengan saat ini aku menulis entri ini aku lebih merasakan perjuangan yang kemarin kami lalui. Ketua kami bahkan menangis. Akupun sadar banyak kesalahan dan mungkin kedzaliman yang aku perbuat selama mengemban amanah sebagai Kepala Biro Kestari. Rasanya sampai detik ini pun aku ingin meminta maaf kepada teman-teman atas semua perbuatan jahatku. Dan terima kasih, tidak hanya untuk teman-teman BPH, tapi juga semua pengurus HIMA 2014-2015, dosen kemahasiswaan kami, seluruh dosen jurusan bahasa Jepang termasuk dosen pembimbing akademikku, semua keluarga jurusan bahasa Jepang dari angkatan pertama sampai adik-adik kami yang paling kecil, atas dukungan, sokongan dan doa hingga akhirnya kami mampu melalui masa kepengurusan satu tahun yang merupakan amanah yang tak ringan, tanggung jawab yang sangatlah besar. Secara umum, aku dan 10 orang teman-teman BPH berharap HIMA tahun berikutnya akan jauh lebih baik dari HIMA kepengurusan kami.

Selain cerita tentang HIMA, di Januari aku memutuskan untuk belajar di Forum Bidikmisi UNJ (FBM UNJ). Setelah seleksi, wawancara, aku diberi amanah sebagai staff di Divisi Hubungan Masyarakat (HUMAS). Salah seorang senior berpesan, “jangan berpikir apa yang bisa kau dapatkan dari FBM, tetapi apa yang bisa kau berikan untuk FBM”. Di bulan itupun salah satu program kerja Divisi HUMAS dilaksanakan dan kembali berkutat dengan arsip, aku melaksanakan tugas sebagai sekretaris dalam kegiatan Sosialisasi Bidikmisi. Mengerjakan LPJ kegiatan yang ini dan yang itu sebagai akhir kesempatan belajar di HIMA sebagai kepala biro, dan proposal untuk kegiatan di FBM menjadi bukti dimulainya pembelajaran di organisasi tingkat kampus.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hujan yang mengancam Jakarta pun turun kembali di bulan Januari. Aku sempat kesal karena teman-teman kelas yang dimataku terlihat berusaha menjadikan hujan sebagai alasan agar mata kuliah hari tersebut ditiadakan. Aku memang sempat bersuara, bersyukur itu bukan awal konflik diantara kami. Sebenarnya kondisi setiap mahasiswa terkait daerah tempat tinggalnya masing-masing perlu dimengerti. Bahwa tidak semua mahasiswa bisa dengan mudah menembus banjir. Hanya saja dengan sikap yang benar ketika ingin mengutarakan kondisi pribadi bukan malah menjadi provokator untuk mahasiswa lain.



Destinasi dalam perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKL) 2015 diputuskan di bulan Februari. Biaya yang tidak semua mahasiswa mampu melunasinya dalam hitungan hari. Panitiapun terasa akan menanggung beban yang lebih berat daripada yang seharusnya karena terdengar pendapat dari banyak orang tentang panitia yang telah terbentuk. Sebagian besar panitia bukan anak yang sudah terbiasa berkutat dalam kepanitiaan suatu kegiatan. Itu menjadi alasan beberapa anak untuk berujar bahwa mereka khawatir dengan kepanitiaan KKL. Lain lagi tentang keputusan berkunjung ke Provinsi Bali yang bagiku mahasiswa mengedapan ego tanpa melihat siapa yang sebenarnya mereka turut bawa, dengan kata lain tak hanya mahasiswa, peserta KKL, yang semua masih berkepala dua, tetapi juga ada dosen yang kita tidak tahu keadaan beliau sebenarnya. Hingga akhirnya melalui diskusi panjang, suara palu terdengar dengan hasil akhir Bali sebagai tempat yang akan dikunjungi.



Lawanlah kejahatan. Jika kau mati karenanya maka kau mati syahid. Itu salah satu yang aku pelajari di bulan ketiga 2015. Rasulullah SAW. mendidik kaumnya untuk menjadi kaum pemberani. Berani membela agama. Berani membela kebaikan. Berani melawan tindak kejahatan. Berani membela hak milik. Berita tentang begal adalah berita paling hangat ketika itu. Masyarakat termasuk akupun menjadi lebih waspada ketika keluar rumah di malam hari berkat media yang tak pernah lelah memberitakannya untuk masyarakat.

Mengenai aktifitas di organisasi, bulan Maret menjadi bulan persiapan melaksanakan salah satu program Divisi HUMAS, Explore Bidikmisi. Salah satu rapat membuatku merasakan perbedaan antara bersosialisasi di dalam rumah (jurusan Bahasa Jepang) dengan di luar rumah. Perbincangan mengenai tokoh dunia menjadi salah satu topik yang belum pernah aku temui selama aku beraktifitas bersama teman-teman jurusan. Dunia ini luas. Masih banyak hal yang belum kita ketahui. Dan aku bersyukur aku memiliki teman-teman di luar rumah. Ketika itu pun aku berpikir mungkinkah aku ada di zona nyaman? Jawabannya mungkin “tidak”. Aku hanya pandai bersyukur. Hanya karena itu. selalu menyebut namaNya ketika sakit mendera sehingga sakit itu tak terasa. Indonesia punya banyak masalah. Dari mereka yang ada di atas sampai yang di bawah. Carut-marut, hanya bisa menancapkan pisau belati di hati warganya. Tetapi kenapa masih disini? Karena tidak bisa pergi kemanapun. Aku pikir itu jawabannya tetapi meskipun bisa pergi, tidak hanya aku, mungkin kalian juga akan memilih untuk tetap disini. Percayalah, karena kalian cinta Indonesia. Satu hal lagi tentang FBM. Selama menjalani persiapan kegiatan Explore Bidikmisi, satu masalah yang mungkin dimata kalian juga fatal, panitia jarang mengadakan rapat atau sekedar berkumpul karena jadwal yang tak sesuai. Aku hanya bertanya pada teman-teman pengurus, apakah kalian tahu artinya menjadi salah satu pejuang di FBM? Forum Bidikmisi berbeda dengan BEMJ. Forum Bidikmisi menaungi para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi se-universitas, yang artinya pengurusnya berasal dari seluruh fakultas yang ada di UNJ. Yang artinya jadwal kuliahnya berbeda-beda. Jika tak menyanggupi berkumpul atau rapat di akhir pekan bagaimana kepanitiaan berjalan? Di hari kerja pun kalian tak menyanggupi jam-jam sore karena kemungkinan besar rapat akan ditutup pada malam hari. Aku pikir kalian bergabung dengan FBM karena telah paham dengan konsekuensi akhir pekan yang dilalui dengan rapat.

Kalau untuk cerita menariknya ada di lapangan tembak Yoniv Mekanis 201/JY. Peserta upgrading FBM diberi kesempatan mencicipi rasanya naik panser atau mobil amfibi, menembak sasaran, yakni balon, dengan senjata laras panjang setelah diisi 3 amunisi.

Sementara dari perjalanan menyusuri dunia maya, ada beberapa hal yang aku pelajari dan aku suka. Salah satunya tulisan seorang motivator yang terkenal di Indonesia, “tidak ada kritik yang membangun”. Beras yang diberi banyak kritik akan cepat rusak dan membusuk, sementara beras yang diberi pujian atau apresiasi akan tetap putih. Kira-kira seperti itu. Dari situlah aku berpikir, mungkin ini salah satu kesalahan di HIMA 2014-2015. Kami, BPH dan anak-anak 2012, terlalu banyak mengkritik.

Satu hal lagi yang aku katakan ketika aku ada di bulan ini, “Aku tak suka wanita”. Mungkin lebih tepat kalau aku sebut ‘cewek’. Karena mereka lemah dan bodoh. “Hei! Kau pikir kau bukan salah satu dari mereka?”, mungkin kalian akan berujar seperti itu. Aku katakan aku benci bukan berarti aku kuat dan tidak bodoh.

Terakhir untuk bulan ini, “Untukmu agamamu, untukku agamaku. Islam agama yang paling benar. Dan aku percaya itu. Aku yakin agamaku terbaik, karena itu aku memilihnya, dan dengannya aku selamat”.



Di awal bulan April, salah seorang temanku mulai aku anggap rival di salah satu mata kuliah. Aku kembali memikirkan tentang, apa itu rival bagiku. Apa rival baik untukku atau justru buruk untukku? Rasanya aku ingin bertanya padamu, apa arti rival untukmu? Mengenai mata kuliah yang aku maksud, aku berpikir bahwa aku memang benar-benar pemalas terutama berkaitan dengan “membaca buku”. Ditambah lagi, aku merasa tidak mendapatkan pengetahuan dengan cara yang seharusnya, sehingga ketika ilmu disampaikan, ilmu itu hanya lewat di otakku lalu pergi.

Masih dalam masa KKL, di rapat kegiatan Praktek Kebahasaan, aku belajar agar berbicara dengan lebih tertata supaya mereka yang mendengarkan mengerti apa maksudku.

Satu event dari HIMA jurusan bahasa Jepang yang saat itu kepengurusannya dipegang mahasiswa angkatan 2013 dan 2014 adalah Speech dan Kanji Kontes. Hanya satu dua orang dari angkatan 2012 yang mengikuti kompetisi, membuat para dosen gemas dan meminta dengan tegas untuk berpartisipasi. Dan akhirnya aku mengikuti kontes pidato. Kontes dilaksanakan tanggal 12. Pidato berjudul 「母さん、お帰り!」membawaku meraih juara 1 di kompetisi itu. Dan yang mengikuti pengumuman pemenang adalah nyanyian Happy Birthday dari dosen pembimbing akademik serta teman-teman. Hadiah terbaik bisa kubilang. Tapi sepatah kata yang aku katakan saat itu adalah “Maaf, saya belum bisa jadi kakak yang baik untuk kalian”. Mulai hari itu, aku mempersiapkan diri untuk kontes pidato tingkat Jabodetabek di The Japan Foundation, Jakarta. Sebenarnya, kisah yang mengiringi kontes hari itu lebih panjang. Salah satunya, obrolan antar mahasiswa 2012 yang menganggap dosen-dosen lebih memilih mahasiswa 2013. Terlihat dari perlakuan dosen-dosen terhadap KKL berbeda dengan perlakuan dosen-dosen terhadap kontes itu. Dari 5 orang lebih yang saat itu berbincang di jam istirahat hanya aku yang tidak setuju atas anggapan itu. Perdebatan kecil pun ada, tapi aku berusaha menghindari kekeraskepalaanku dan menghindari perdebatan dengan berujar dalam hati “Mungkin mereka lelah dengan kepanitiaan KKL”. Selembar kertas dari buku agendaku yang aku coret dengan ucapan terima kasih untuk dosen, “Sensei memberi feedback. Sensei mengajariku banyak hal. Terima kasih, senseigata. Hontou ni arigatou.” dan “Aku sayang adik-adikku. Maaf ya, aku ga bisa jadi kakak yang baik. Maaf”, menyertaiku hari itu hingga sore menjelang. Dan di malam harinya, ide dari salah satu teman kostku membuatku terkejut karena ulah anak-anak kost. Terima kasih dengan kejutan paling memalukan yang pernah aku terima. Salah satu yang terlupakan mengenai kontes pidato, salah satu teman dekatku membuatku kagum dan belajar darinya. Karena dia rajin dan semangat. Dia selalu mengikuti perlombaan dan mengambil banyak kesempatan. Karena itu aku harus menang di perlombaan tingkat Jabodetabek demi bagiannya juga. Pikirku saat itu.

Dipertengahan bulan April aku sempat berbincang dengan teman terkait kepanitian KKL. Temanku ada di pihak panitia sementara aku, jika boleh aku katakan, aku bukan di pihak siapa-siapa tapi aku berani bilang aku menyalahkan panitia. Aku juga panitia, kalian tahu. Hanya karena satu hal, “Panitia tak mau mengakui kesalahannya”. Andai kata mereka mau mengakui kesalahan, aku yang memang sedari awal tak berniat bergabung menjadi panitia aktif pun akan selalu menerima apapun itu keterbatasan panitia. Yang bisa kulakukan hanya mengkaji (bertanya lebih detail agar tak salah sangka), menyampaikan pendapat, dan berdoa semoga kami diberi kekuatan hingga mata kuliah tersebut selesai.

Akhir April menjadi akhir dari rangkaian kegiatan KKL yakni berkunjung ke Bali. Dari cerita panjang selama satu pekan disana, aku hanya akan menyampaikan hal-hal yang membuatku tertarik. Tari Kecak dan Sendratari Ramayana, lalu Pentas Seni, yang diluar dugaanku, sangat berkesan. Hanya itu yang bisa aku ceritakan karena keterbatasan. Selebihnya, terima kasih teman-teman panitia. Sampai detik ini pun aku senang aku telah diberi kesempatan berkunjung ke tanah kaya akan budaya tersebut.



Bulan Mei, menjadi bulan yang penuh dengan pidato. Bukan karena aku banyak berpidato di bulan ini, tapi karena persiapan sampai pelaksanaan pidato. Pertama, aku ingin minta maaf karena mengecewakan. Aku harap menjadi pembelajaran agar lebih baik. Terima kasih sensei, yang tak pernah lelah mengajariku. Terima kasih untuk dosen-dosen yang lain. Terima kasih teman-teman atas dukungannya.



Semangatku untuk membantu mereka yang serba kekurangan dalam hal pendidikan berkobar di awal Juni setelah mengikuti seminar SM-3T. Semoga kalian pun lolos dalam seleksinya. Amin. Selain seminar, Juni dipenuhi dengan persiapan UAS dan sidang proposal skripsi adalah yang paling mengerikan untukku. Terima kasih. Lalu, micro teaching juga menjadi salah satu menu di bulan Juni. Di pertengahan, Ramadhan menyambut. Aku sudah melalui banyak Ramadhan sampai detik ini. Tapi ketika itu, rasa rindu akan bulan Ramadhan sangat terisa. Beribu terima kasih, aku dipertemukan kembali dengan RamadhanNya. Semoga tahun ini juga.



Hari raya Idul Fitri jatuh di bulan Juli. Entah bagaimana harus mengatakannya. Adikku tumbuh dengan baik. Dan semoga semakin bisa berpikir lebih dewasa. Pikiran itu muncul karena moment lebaran dimana kami berkumpul dengan keluarga besar. Pulang. Mudik. Keluarga besar. Yang artinya kau dilihat oleh mereka, apa perubahan yang ada pada dirimu. Apa yang kau bawa dari dunia luar sana. Apa yang bisa kau tunjukkan dan kau banggakan dihadapan kami. Aku harap kalian mengerti. Rasa sakit, atau mungkin lebih baik jika aku katakan yang sangat disayangkan, ketika mereka tak memberikan kalian kesempatan untuk memperlihatkan semua itu. Mereka hanya menunjukkan raut wajah yang “kenapa kau gunakan ini untuk mengambil buah di dahan pohon yang ada di atas sana, bodoh?! Kau tak mungkin bisa meraihnya!!” Dan kau hanya bisa berujar “Ini caraku” dalam hati. Itu motivasi. Untukmu dan juga untukku. Bagaimana pun kita sudah memilih “ini”. Tak bisa ditukar dengan alat lain. Dengan “ini” kita harus bisa mengambil buah yang ada di atas sana.



Di bulan Agustus, aku sudah ada di Pandeglang, Banten untuk melaksanakan tugas sebagai mahasiswa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pengabdian Masyarakat. Menjalani satu bulan di desa itu. Akhir perjalanan tersebut bukanlah akhir, tapi awal dari pembelajaran sosialku. Semoga kalian pun bisa menjadi insan bermanfaat untuk lingkungan.



Bulan September, bulannya Praktek Kegiatan Mengajar (PKM) dan persiapan mengikuti pelatihan. Aku masih perlu belajar banyak untuk bisa menjadi guru yang baik. Sangat banyak. Dari suaraku yang kecil, kurangnya persiapan, kurangnya pemahaman tentang teknik atau cara mengajar, dan kurangnya referensi tentang metode pengajaran. Itu untuk PKM. Untuk persiapan pelatihan, pengorbanannya tidak sedikit. Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Yang jelas cerita mengenai persiapan pelatihan adalah yang paling banyak aku tulis di buku diari selama bulan September.



Salah satu temanku yang kuliahnya tertinggal menjadi alasanku berani membuang waktuku di sore hingga petang selama beberapa hari di bulan Oktober. Aku yakin dia bisa. Jadi kenapa dia tidak bisa? Itu yang menjadi pertanyaan. Aku ingin tahu caranya belajar, aku ingin aku yang memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia belajar, aku ingin mencobakan berbagai cara agar dia tak tertinggal.
Sementara dari sekolah tempatku menempuh perkuliahan PKM aku tahu dunia maya bukan hanya untuk kau berbagi status. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan seperti membuat cerita atau cerpen dan essay, dengan kata lain menjadi seorang blogger. Bisnis online, membaca berita sembari berdiskusi, menulis atau menandatangani petisi, sekolah online dan lain-lain.

Di bulan Oktober ini pula, aku mengikuti seminar. Sang pembicara berpesan bahwa seorang guru pun harus eksis. Satu kegiatan yang telah habis kau laksanakan, tulislah. Bagikan. Berilah ilmu di luar kelas. Pesan-pesan beliau memberiku semangat, meskipun pada akhirnya sekarang aku berhutang banyak tulisan pada kalian. Maafkan hambaMu ini, Ya Allah.

Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan (PKMJ) juga menjadi bagian dari bulan Oktober. Satu yang aku sayangkan adalah teman-temanku yang kurang dalam hal berkumpul dengan adik-adik panitia. Karena kecewa dengan kepanitiaan katanya. Entahlah, mungkin karena aku tak terlalu dekat dengan dua angkatan di bawah kami sehingga aku tak tahu duduk perkaranya atau karena hal lain. Selain itu, di PKMJ ini teman-teman grup musik jurusan “merilis” lagu yang mereka buat. Lagu yang kami anggap sebagai hymne HIMA bahasa Jepang.

Suatu malam di Oktober temanku bercerita tentang kekasihnya. Otakku kembali bekerja. Aku bertanya dalam hati “bagaimana jika suamimu kelak bukanlah kekasihmu yang sekarang?”. Menjalin hubungan bertahun-tahun pastilah modalnya tak sedikit, aku tahu. Pulsa untuk selalu menghubungi, waktu untuk bertemu dan bersenang-senang berdua termasuk ongkos untuk menemui sang kekasih, dan uang untuk membelikan hadiah yang dia sukai walau berates-ratus ribu rupiah pun. Teringat pesan dari seorang ustad, setelah aku membaca buku beliau, ingin rasanya aku bilang “daripada buat beli hadiah buat doi ratusan ribu, mending tu duit ente sedekahin. Setelah memberi, minta lah sama Allah jodoh yang ente pingin. Kaya gimana deh, suka-suka ente, minta aja sama Allah.” Pasti sakit jika bukan sang kekasih yang ada disamping ketika akad nikah. Subhanallah. Semoga saudara-saudaraku cepat sadar, bahwa yang kalian lakukan selama ini dengan si dia tak ada manfaatnya. Dia bukan siapa-siapamu. Ingat? Tapi dia menghabiskan waktu dan materimu. Lebih baik kau gunakan uangmu untuk sedekah dan waktumu untuk berdoa.

Dan akhirnya kakiku menginjak tanah Negeri Sakura di akhir Oktober. Sekian.



Terima kasih September. Benar-benar penuh cerita. Aku berusaha untuk menulis lebih detail tentang pelatihan guru yang aku jalani selama 45 hari di The Japan Foundation, Kansai setelah ini. Jadi kali ini aku hanya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yang ingin kusampaikan, aku semakin cinta Indonesia dan aku belajar banyak dari Jepang.



November pun aku lalui dengan banyak aktifitas yang bermanfaat.



Dan di Desember aku dan peserta pelatihan yang lain kembali ke tanah air. Kembali ke dunia nyata. Mengejar ketertinggalan, tugas, UTS susulan, UAS.











Akhir kata, terima kasih untuk dukungan kalian semua selama satu tahun penuh. Terima kasih, Allah. Terima kasihku untuk kedua orang tuaku dan adik tercintaku. Terima kasih guru-guruku. Terima kasih, teman-teman. Dan maaf.


Aku tak akan menyebutkan, semoga “di tahun 2016”, tetapi “Semoga kita selalu dalam lindunganNya. Dilancarkan dan dipermudah segala urusan. Selalu diberi petunjuk agar senantiasa berjalan dijalanNya yang lurus. Diberi hidayah. Dan semoga kita bisa menjadi insan yang lebih baik dan bermanfaat. Untuk agama, keluarga, lingkungan, Indonesia dan dunia. Amin.”




Sekian dariku. Terima kasih. Apabila ada yang tersinggung, aku mengucap maaf yang sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya. Akan lebih dihargai publik rasanya jika kalian dapat menyampaikan kekecewaan, sanggahan, keluh, kritik secara pribadi padaku. Terima kasih.







Jaya Indonesiaku!
Salam.
:)