Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Mei 2022

KinKi Kids (Entertainer buatmu siapa?)

Hai, semua! Lama aku ga nulis entry. (hiatus?) wkwk istirahat.

Yang tadinya cuma sekedar nengok ga niat ngepost, jadi ini hasilnya. Aku liat-liat draft, nemu draft ini dan aku ga edit terlalu banyak entry ini, langsung cuuus, postingan dari draf yang aku tulis kurang lebih 2 tahun silam. Wwww

******
Mungkin ga banyak yang tau KinKi Kids. Tapi kayaknya banyak orang Indonesia, terutama penyuka entertainment asia, yang tau Johnny's Entertainment.

Yup! KinKi Kids adalah duo idol di bawah naungan agensi Johnny & Associates  (Johnny's), dan perusahaan rekaman Johnny's Entertainment (sekarang J-Strom kalo ga salah).


Aku sendiri mulai tau nama "KinKi Kids" dari sebuah artikel. Awalnya karna game Idolish7, game kesukaan. Ketika cari-cari artikel, karna pingin denger pendapat orang-orang soal game itu, terutama dari sisi ke-real-an ceritanya, ketemu deh sama artikel yang ditulis sama penggemar Idolish7 sekaligus fans Johnny's. Isi artikelnya, penulis ngejejerin cerita Idolish7 sama Johnny's. "Kalau 2D (Idolish7) ini, kalau real life (Johnny's) itu". Kalau di Idolish7 Re:vale, kalau di Johnny's KinKi Kids. Dari situ aku cari tau tentang grup ini.


Nama Grup   KinKi Kids
Debut CD      21 Juli 1997 (Garasu no Shonen)

Keduanya masuk Johnny's tahun 1991, dapet nama grup dan beraktivitas di dunia entertainment. Sejak main di drama Ningen Shikkaku (1994), mereka naik daun dan terus digemari sampe sekarang. Konser pertama mereka sebelum debut diadakan di Nihon Buddokan. Baru tahun 1997 mereka debut dan itu pun diberitahukan satu hari sebelum konferensi persnya.

Dari sejak debut, 41 single (sekarang 43 kayaknya) mereka berturut-turut selalu menduduki peringkat satu di kemunculan pertamanya di Oricon Jepang dan menjadi rekor pertama dalam dunia musik Jepang yang tercantum di Buku Rekor Dunia.

KinKi selalu mengadakan konser tutup dan buka tahun dan tercatat 20 tahun berturut-turut mengadakan konser di Tokyo Dome. Namun untuk tahun 2018-2019, konser tutup buka tahun ditiadakan karena keadaan telinga Tsuyoshi, yang mengalami kehilangan pendengaran mendadak tahun 2017 silam, belum sanggup menerima suara keras selevel dome. Namun, mereka kembali mengadakan konser di Tokyo Dome dan Kyosera Dome tahun 2019-2020 kemarin.

Koichi, memulai semua aktivitas entertainmentnya sejak masuk Johnny's. Namun Tsuyoshi, sejak kelas 1 SD merupakan anggota sebuah kelompok theater, menjadi aktor cilik, memainkan drama panggung, beberapa drama dan film, serta MC di beberapa acara televisi lokal hingga kelas 5 SD. Kelas 6 SD barulah ia masuk Johnny's Entertainment karena kakak perempuannya mengirim lamaran ke Johnny's tanpa dia ketahui, sama seperti Koichi.






Ketika orang pingin tau soal seorang seniman sebagian besar dari mereka biasanya akan liat karya dari seniman itu. Tapi kalau pingin tau seniman itu secara pribadinya, aku ga tau kalian gimana, mungkin kebanyakan orang akan dengerin cerita seniman itu atau aku biasa bilang, dengerin talk-nya, berbincang dengannya. Karna dari apa yang orang itu ucapin kita bisa tau apa yang orang itu pikirkan. Gimana cara berpikir orang itu.


Gitulah aku ke KinKi Kids. Aku selalu pingin kenal orang dari pribadinya dulu, apapun profesinya. Jadi ketika pingin tau tentang KinKi Kids aku mulai dari perhatiin talk-nya. Lupa si, video yang mana, tapi kalau ga salah kumpulan scene menarik dari acara TVnya Kinki Kids, "Domoto Kyodai". Dan hasilnya, liat video itu, reaksinya kebanyakan ketawa. オモシローーー!!
Kalau ditanya lucunya kenapa, bukan karena tingkah bodoh, kaya muka aneh dan semacemnya, tapi bener-bener karna banyolan yang keluar dari mulut mereka dan cara mereka cerita episode-episode menarik dengan kemampuan aktingnya.

Dari situ makin tertarik sama KinKi Kids. Hingga akhirnya liat dramanya, sambil baca artikel, liat konsernya, baru dengerin lagunya. =>polaku seperti biasa




Sebelum aku lanjut bahas lebih banyak, peringatan ni hehe
Tulisan di bawah adalah kesan bocah yang cuma liat anime, main game dan ga pernah liat acara TV Jepang, ataupun paham banyak artis Jepang, wkwk. Jadi harap maklum ya. Lebih tepatnya mohon koreksi dan pendapat kalian.




TALK (Domoto Kyodai, Shin Domoto Kyodai)

Kaya yang tadi aku bilang, talknya menarik. Ya, untuk bisa paham emang harus bisa bahasa Jepang kalau ga ada subtitlenya. Ya, sesusah itulah sekarang aku mikir harus gimana ngejelasinnya. Domoto Kyodai yang kasih liat aku talk-nya Kinki, jadi aku ambil ini.

Katanya si karena ''orang Kansai (bagian timur Jepang), pasti jago ngomong'', atau lebih tepatnya kalau kata Tsuyoshi, orang kansai itu lucu, menarik.
Domoto Kyodai itu acara musik, tapi ada talknya juga, dan tiap minggu ngundang guest atau bintang tamu.
Seperti yang tertera di lirik lagu tema acaranya, Kinki yaritai hodai, a.k.a bebas, sesuka hati mau ngapain di acara mereka, tapi tetep berjalan dengan baik acaranya.
Nah, suka-sukanya mereka itu,,

  1. Terhadap guest yang cukup aneh, ga sungkan bilang, ''kamu aneh ya'' dan semacamnya.
  2. Kadang kalau guestnya komedian atau orang lucu yang udah akrab ma mereka, kadang di opening mereka diem. Guestnya suruh ngenalin dirinya sendiri, ga dikenalin. Intinya ga diladenin.
  3. Nyeritain episode-episode yang mereka alamin dengan kemampuan akting mereka yang sanggup bikin cerita itu hidup.
  4. Intinya, mereka pinter berekspresi ketika lagi cerita. Namanya juga aktor.
  5. Ketika ga sependapat sama guest tentang suatu hal, mereka blak-blakan ngomong.
  6. Lawakan diantara mereka berdua doang. Bukan berarti yang lain ga paham si. Maksudnya saling ceritain episode lucu satu sama lain. Tsuyoshi cerita tingkah atau perkataan lucu Koichi, begitu sebaliknya, meskipun paling banyak kedenger, cerita soal Koichi.


Itu inti yang bisa aku ceritain dari yang aku perhatiin, sebagai ''KinKi Kids".
Kalau masing-masing,,

~Koichi
Pertama, paling banyak yang keluar dari mulutnya dan bikin orang langsung tau karakter dia yakni kata-kata polosnya dia. Dikatain polos terlalu biasa sebenernya, karna dia itu polosnya luar biasa.
Kedua, tanggepannya yang kaya bapak-bapak, om-om, atau maksudnya laki-laki berumur padahal dia masih muda ketika itu.
Ketiga, ejekan dia terutama ke penonton di studio, kaya ''ih, kalian bego ya'' atau ''jelek''. Aku tulis kayak gini jadi kesannya beneran ga baik ya, tapi sebenernya ada alurnya kenapa dia bilang kayak gitu. Koichi yang penonton, terutama fans KinKi kenal, emang Koichi yang kaya gitu. Bahkan penonton bales ngejek Koichi dengan kata-kata ''botak''. Itu udah jadi komunikasi Koichi sama fans.
Ketika obrolan berlangsung, Koichi cuma ngomongin apa yang dia pikirin aja sebenernya terkesan tanpa bohong, tapi ya karena kepolosannya dia jadinya begitu. Orang bisa polos kaya gitu karena pengetahuan dia soal kebiasaan hidup beda ma orang-orang, ya ga si? XD

~Tsuyoshi
Pertama, pengetahuan dia soal artis lebih luas dari Koichi dan emang paling suka nonton acara komedi. Jadi, dia lebih jago memperluas perbincangan dengan bahasan artis lain atau niru lawakan komedian-komedian Jepang. Tapi, karena dia kalau cerita panjang, jadi bagian mandu jalannya acara tugasnya Koichi.
Kedua, dia ngbanyol dan nglawak dengan cerdas, kreatif.
Ketiga, kalau lagi ga serius, cerita dari dia selalu lucu. Penonton pasti ketawa. Dia selalu bisa cerita dengan baik, bikin ceritanya hidup dengan permainan ekspresinya yang jago. Cara dia ngungkapin sesuatu bagus banget menurutku. Ga lagi cerita pun ekspresinya dia beragam walau sebenernya lebih sering ga bereaksi berlebihan sama omongan dan kelakuan yang lain.
Kesimpulan, aku suka dengan kemampuan berekspresinya Tsuyoshi tadi. Haha. Ceritanya bener-bener lucu. Jago niruin orang, dan cerdas nglawaknya, atau sebenernya lebih tepat kalau ''Tsuyoshi isinya nglawak mulu''. XD



DRAMA

Pertama liat akting mereka di drama ''Ningen Shikkaku''. Akting mereka berdua bagus. Tapi yang lebih menarik perhatianku aktingnya Tsuyoshi. Aku bukan ahli di bidang bermain peran sebenernya. Tapi entah karena karakter yang dimainin Tsuyoshi lebih kentel atau gimana, aku lebih pingin tau gimana perasaan tokoh yang diperanin sama Tsuyoshi. Entah karena ceritanya juga yang terlalu berat buat batinku atau gimana, wkwk, tapi ngliat tokoh Tsuyoshi disitu ngerasa pingin bantuin. Hingga akhirnya sepatah kata dari ayahnya tokoh Tsuyoshi itu bikin dia bernafas lega, dan ketika tokoh Tsuyoshi harus mati, hmm,, banjir deh, air mata. Wkwk

Setelah itu, ''Wakaba no Koro'', ''Bokura no Yuuki -Miman City-'', 2 drama yang pemeran utamanya juga mereka berdua. Karena dua-duanya main bareng jadi aku ga perlu repot-repot nonton drama masing-masing dari mereka berdua. Hasilnya, ga berubah. Aku masih suka aktingnya Tsuyoshi. Hingga akhirnya nangis lagi di dramanya Tsuyoshi sendiri sebagai tokoh utamanya, Mukai Arata -Doubutsu no Nikki-.



KONSER

Aku lupa konser mana yang pertama aku tonton. Karena awalnya aku udah terlanjur dibuat perhatian ma talknya KinKi. Lagian aku lama untuk nelen musik hanya dengan dengerin. Makanya, selama ini lebih milih liat konsernya untuk bisa nangkep musiknya. Audiovisual.
Tapi ya akhirnya mengalah, ''ok lah, aku coba tonton satu konser''. Tapi sayang. Kaya yang aku bilang tadi, aku lupa konser apa yang pertama aku tonton dan kesan soal konser itu yang aku inget bener-bener ga ada! Karna pertama, aku nonton konser yang lagunya ga aku tau dan talk serta dramanya KinKi nyuri perhatian dan akhirnya nutup semuanya. XD
Jadi, sekarang aku kasih kesimpulan aja dari konser-konser yang udah ditonton dan kesannya.


Kalau suruh nyampein kesan konsernya KinKi dengan satu kata, mungkin ギャップ. Apa ya, bahasa Indonesianya. Perbedaan? Beda jauh. Kebalik malah.

Ketika konser, mereka nyanyi, nari,, keren! Secara natural mereka keren. Keren dari dalem, bukan karena sok keren. Atau daripada dibilang keren, lebih tepatnya apa ya, bagus? Intinya mereka bener-bener nunjukkin sebuah pertunjukkan, performance, entertainment! Dengan penampilan mereka, tarian mereka, setting panggung, lighting, musik/band, semuanya yang ada disitu.
Selain itu, mereka ga teriak-teriak buat bikin meriah ataupun lari-lari dan jingkrak sana-sini. Apalagi headbang, mereka bukan band rock. XD

Mereka ga call and respons sama penonton, kaya teriak "yeeeaaaah!" trus penonton balikin teriak "yeeeeaaah!". Yang kaya gitu, ga ada di konser KinKi! Tsuyoshi masih mending fans servicenya ada meskipun dikit, Koichi sama sekali nol! Yang ada dulu paling cuma lambaiin tangan, sekarang ga sama sekali.

Sebagai sebuah pertunjukkan itu enak dinikmati, ga kurang ga lebih BUAT AKU. Dan mereka bawa suasana enak dengan lagu-lagu mereka yang notabene romantis. Ya, alasan sebenernya mungkin adalah apa yang nanti akan aku tulis dibawah.

Tapi, ketika masuk MC,,, bahkan mereka sendiri pernah bilang "KinKi yang bikin suasana enak, pake lagu romantis mereka tadi. Begitu masuk MC, mereka sendiri yang ngancurin suasana" XD
Intinya sama kaya bagian talk tadi. Di awal mereka emang ga teriak "Hai, semuanyaaaaaaa. Makasih udah dateng yaaaaaaaaaaa!!", trus penonton bales "Iyaaaaaaaaaaaaaaa". Ga ada. Yang ada malah dengan tone rendah mereka sebut nama. "Domoto Koichi", "Domoto Tsuyoshi". Selesai. Trus langsung mulai cerita sendiri hal-hal lucu. Asik ngobrol berdua sambil,, apa ya namanya,, ngledekin(?) penonton yang aneh yang ketangkep mata mereka. Hampir ga ada lips service. Dulu fans dipersilahkan duduk kalau masuk MC, sekarang sebelum dipersilahkan pun fansnya udah pada duduk. Sama kaya Kinki, fansnya juga makin tua. XD

Itu MC pertama. Masuk MC kedua, te re reng, musik habis, langsung cerita, yang intinya asik sendiri berdua. Penonton dicuekin juga ga jarang di konsernya KinKi. Bahkan Koichi pernah cerita soal pembiasan cahaya di atas panggung. Emang kayaknya 'ko ga jelas si?', tapi karena dia yang full power pingin orang ngerti maksud dia, padahal dia juga ga pinter ngejelasin, dan Tsuyoshi yang ngladenin dengan santai sambil minum di tangga panggung deket tempat band, itu jadi kesenengan tersendiri buat penggemar yang ngerti mereka.

MC kaya gitu berlanjut, 20 menit, 30 menit, 45 menit, bahkan hampir 1 jam juga pernah katanya. KinKi terkenal dengan MC mereka yang lama, nurunin seniornya SMAP! Tapi apa yang dinantiin di konser KinKi sama fansnya bukan cuma musik dan perfomance aja, tapi MC mereka juga dinanti-nantiin, karena walaupun konser musik, MCnya aja jadi hiburan. Dan mereka selalu ganti perbincangan. Karena ga ada temanya. Mereka asal cerita apa aja.

Gitulah. Mereka berdua yang asik ngobrol sendiri, ketawa-ketawa, itulah yang dinikmatin ma penggemarnya. Itu, KinKi yang selama ini fans kenal dan semoga akan tetep kaya gitu.

Satu lagi kesimpulan dari cerita tadi, kalau kalian paham konsep 'idol' di Jepang, banyak yang bilang KinKi ga kaya idol. Bahkan ga kaya talent Johnny's yang lain. Senior-senior KinKi selama ini udah bikin orang kenal Johnny's sebagai tempatnya cowo-cowo keren. Tapi gambaran itu sama sekali ga ada di KinKi. Bukan karena mereka ga keren, karena mereka 'pelawak'. XD



LAGU

Sebelum mereka bisa main gitar dan bikin lagu sendiri, musisi lain yang kasih lagu ke mereka. Jadi emang asli lagu-lagunya bagus. Tapi "Ai no Katamari", lagu buatan mereka sendiri, juga ga kalah hit.
Ga banyak komentar dari aku. Kaya yang penggemar lain tau, lagu yang dinyanyiin KinKi itu minor, karena KinKi sendiri suaranya minor. Aku ga terlalu ngerti sebenernya soal itu.
Satu yang paling bikin penasaran, seceria apapun lagu, kalau KinKi yang nyanyi jadi suram. Makanya lagu yang ceria-ceria banget ga cocok buat KinKi.
Secara pribadi, aku suka kemampuan nyanyinya Tsuyoshi. Emang dasarnya diantara semua talent Johnny's, dia termasuk yang kemampuan nyanyinya tinggi dan diakuin sama Michael Jackson. Suaranya bagus!







Mungkin dari yang udah aku ceritain, ada satu dua hal yang mungkin kalian pahami soal pribadi KinKi sendiri.

Pertama, pada dasarnya mereka berdua itu suram! Banyak yang bilang gitu. Makanya dari dalem diri mereka sendiri juga ga ada rasa pingin teriak-teriak, jingkrak-jingkrakan dan nglempar senyum merekah ke sana sini terutama ketika konser.

Kedua, mereka sebenernya ga terlalu suka muncul di depan banyak orang. Ga suka kamera. Lebih suka sendiri. Itu yang mereka bilang. Ya, salah satu ciri orang suram.

Ketiga, mereka serius kerja. Profesional. Bener-bener profesional. Profesional bukan berarti serius, trus jadi kaku. Mereka kan entertainer. Kalau dari cerita Yoshida Takurou, di ruang ganti mereka diem, ga ngobrol, suram. Tapi ketika kamera on, mereka bisa nglawak dan bikin orang ketawa hanya dengan obrolan mereka berdua.

Keempat juga masih nyambung. Kalau tadi aku bilang 'keren dari dalem', mungkin itu karena keseriusan mereka kerja. Maksudnya, ketika nyanyi, nari di atas panggung, dalam benak mereka mungkin, 'Ini kerjaan kami. Tugasku kasih performance terbaik, kasih pertunjukkan yang enak dinikmati. Orang bayar buat nonton konser pertunjukkan. Karena ini kerjaan, kami harus kasih yang terbaik'. Buat aku orang yang profesional dengan apa yang dia lakuin, salah satunya pekerjaan, adalah orang paling keren. Maka dari itu aku bisa bilang mereka keren dari dalem, karena yang keliatan di mataku adalah keprofesionalan mereka. Di acara SONGS Spin off (NHK) Tsuyoshi bilang, dia berusaha ngeluarin 'dirinya' dalam pertunjukkan dan ngajak temen-temen band gitu juga, biar penonton atau orang yang liat, juga bisa ngeluarin 'diri' mereka masing-masing. Dari situ mereka nikmatin pertunjukkan secara total dari dalem. Aku sendiri selalu ngerasa heboh di dalem ketika ngeliat Tsuyoshi yang ngedance dengan asiknya. Walau asik bukan berarti dia teriak-teriak, loncat-loncat. Koreo yang sederhana, tenang sekalipun, karena gerakannya luwes dan masuk ke musik, bikin aku yang liat pingin ikut nari.

Kelima. Kalau tadi aku bilang keren soal performance mereka, tapi bilang juga mereka ga kaya talent Johnny's lain yang notabene cowo keren, itu bener. Performance mereka emang keren, profesional, pertunjukkan yang enak dinikmati, tapi pribadi mereka sendiri ga kaya yang cewe-cewe harepin. Karena mereka itu ga romantis dan bilang kalau cewe itu ribet dan ngerepotin. Tsuyoshi masih mending, masih ngerti perasaan cewe istilahnya. Contoh. Yang mereka permasalahin salah satunya, cewe-cewe yang pingin selalu keliatan anggun, kaya cewe pada umumnya dan cewe yang pingin diperhatiin pacar, dan pingin pacarnya baca perasaan dia sementara dia ga bilang apa-apa. XD
Maaf, tambah lagi, soalnya ini juga jadi keanehan cewe yang ga habis aku pikir. Contohnya marahan, si cewe bakal keluar rumah tapi pingin cowonya nghentiin dia. Yang mana sebenernya?? Bikin cowo berasa serba salah. XD Sabar ya kaum adam.
Makanya, Koichi ga populer. Wkwk. Tapi bukan karena itu mereka belum nikah sampe sekarang. Menurutku karena mereka sibuk kerja dan cuma kerjaan yang hinggap di kepala mereka. Sementara mereka ga kunjung dipertemukan ma 'jodoh' yang mereka maksud. Ya lah, orang ga keluar rumah. Meskipun sama-sama tipe indoor, Tsuyoshi masih mending, tapi itu juga di lokasi shooting drama jarang ngobrol ma pemain dan staff lain. Kalau break paling kerjanya mainin gitar sendiri. Ga terlalu suka ngobrol ma orang, tapi jago dengerin cerita dan keluhan orang. Kalau Koichi, orang ngeliat aja udah ngerasa susah untuk negor. Jadi ga ditegor sama artis lain yang tampil bareng dia. Kalau dapet libur, isinya cuma tidur dan main game di rumah. Kaya aku. Wkwk. Ketika keluar negri pun cuma di kamar hotel main game dan ga keluar kecuali buat kerja. Itu KinKi. XD


Keenam, apa ya,, kalau soal keprofesionalan, mungkin dari cara aku cerita gimana KinKi terhadap sebuah pekerjaan, ada dari kalian yang bilang dalam hati 'masa si? sampe segitunya?'.

Jadi gini, ga sedikit terutama orang Indonesia yang iri sama artis apalagi sama yang sering nongol di TV, terkenal, banyak duit. Banyak orang kita berharap bisa jadi artis. Pekerjaan impian mungkin. Jujur aku udah ga pernah liat TV Indonesia lagi, jadi ga tau sekarang gimana, tapi ketika mulai ngliat acara TV Jepang, publik sana lebih ngebuka apa itu 'entertainment'. Hanya dengan nonton, aku denger banyak cerita soal 'entertainment', 'dunia pertelevisian', 'talent', bahkan 'musik'. Aku belum tau kesimpulanku bener atau ga, tapi dari banyak video, akhirnya aku tau dan paham gimana KinKi 'kerja'. Meskipun aku ga bisa baca majalah-majalah yang memuat banyak interview mereka lebih detail, tapi dengan cerita mereka yang aku denger dari layar TV aja, aku merasa pingin tau lebih dalem gimana mereka kalau kamera lagi off. Apa yang sebenernya mereka pikirin.
Koichi keliatannya si mentalnya masih lebih kuat dari Tsuyoshi. Tapi Tsuyoshi, dari sering sakit perut, kena panic disorder, ambruk di Shanghai, otot lutut hampir sobek, dan tahun 2017 kehilangan pendengaran mendadak terutama telinga kiri. Sebagian karena stress katanya. Terlalu sibuk. Emang. Terutama ketika umurnya masih belasan, dua puluh tahun (panic disorder) dan ketika mau hari jadi ke 20 tahunnya KinKi, makin sibuk lagi (kehilangan pendengaran, masuk rumah sakit) karena diundang stasiun TV sana-sini untuk di interview, main drama spesial, perform di sana-sini. Meskipun sebenernya semua itu bentuk peringatan dari orang-orang buat 20 tahunnya KinKi.


Apa si 'entertainment' itu? Apa si 'dunia hiburan' itu?

Dua pribadi yang sebenernya ga suka tampil di depan banyak orang, harus nanganin rasa gugupnya sendiri untuk nyanyi, nari, ngomong di depan ribuan orang dan hampir tiap hari ngadepin kamera.





Tapi aku ga munafik. Wkwk. Seberapa ga sukanya Tsuyoshi untuk main drama lagi karena lama, cape, schedule padat dan lain-lain, aku tetep pingin liat dia akting lagi. XD




SOLO

~Koichi
Aktivitas solo dia, drama musical (theater) dan konser (musik).
Koichi tipe pekerja keras, profesional dan suka buat sesuatu untuk kemudian dipertunjukkan. Dia tipe produser. Koichi berbakat tapi bukan tipe yang punya banyak bakat kaya Tsuyoshi.
Dari drama panggungnya dia, kayaknya aku paham dengan apa yang Johnny H. Kitagawa (Presiden Johnny's) maksud dengan 'entertainment'. Emang Koichi pernah bilang sendiri, "Johnny bilang hiburan itu, pertunjukkan yang bisa semua orang nikmatin meskipun dia ga ngerti bahasa Jepang". Pada kenyataannya, orang asing yang dateng nonton drama panggungnya Koichi bisa nikmatin pertunjukkannya dia. Koichi adalah orang yang bisa mewujudkan 'entertainment'nya Johnny.

~Tsuyoshi
Aktivitas solo Tsuyoshi lebih banyak di musik. Yang lain, fashion, art, yang masih hangat komedi tapi bentuknya ga kaya yang kalian bayangin. Dia tipe artis, seniman kalo aku liat. Ya, producing sendiri emang.
Kalau Koichi bener-bener bikin pertunjukkan, beda sama Tsuyoshi. Project solo buat Tsuyoshi adalah tempat buat dia nunjukkin dirinya apa adanya. Dia dimarahin juga sama orang agensinya karena lagu buat debut karier solonya yang dia tulis. Judulnya "Machi". Syairnya cowo banget. Dikatain, "Kamu mau terkenal di kalangan cowo?!". Katanya, dia idol jadi harusnya terkenal di kalangan cewe. Itu juga yang bikin dia ngerasa "idol itu ga boleh ya, nulis jujur apa yang dia pikirkan? Jadi aku harus bilang bohong di depan orang-orang?" semacem itu. Dari situ juga keliatan, apapun yang Tsuyoshi lakuin, bukan atas nama KinKi Kids, tapi sebagai seniman sekaligus manusia, itu Domoto Tsuyoshi. Ga jarang dia nangis di konser. Ketika nyanyiin lagu Machi atau Eni wo Yuite pun dia nangis karena semua lagunya, dia sendiri yang bikin. Liriknya lahir jujur dari dalem dirinya. Bener-bener cuma nulis apa yang dia pikirin aja. Aku juga pernah ngerasa nyesek sama sebaris lirik di lagu Machi. Apalagi orang-orang yang bener-bener merasa terwakili sama syairnya, ya?
Sisanya, musiknya Tsuyoshi itu funk, bukan genre musik yang biasa aku nikmatin. Tapi sebenernya makna lirik lagunya patut buat diamatin.




Untuk pribadinya sendiri, Koichi itu tipenya urut sementara Tsuyoshi acak. Koichi gerak pake otak, Tsuyoshi pake feel. Bener-bener beda. Tapi, dua orang yang punya bakat dan tingkat keprofesionalan yang sama-sama tinggi disatuin,,?


KinKi Kids



Sejak mulai perhatian ama acara TV sana terutama ngeliat Kinki, "oh, ini ya, entertainer?". Kalo Kinki Kids, nyanyi, bikin lagu, nari, bikin koreo, penata panggung, bikin panggung pertunjukkan, bikin pertunjukkan. Plus, nglawak?, bawain acara, ngobrol, nghibur orang-orang, dan main drama panggung, main drama dan film, akting.




Berkebalikan dengan semua yang aku ceritain di atas, ga sedikit orang yang bilang "Jangan percaya TV". "Yang muncul di TV itu semuanya bohong. Bikinan. Udah di atur".
Tapi kalian yang paham maksudku mungkin ga bilang gitu. Kayaknya wkwk.
Yup. Kita liat mereka sebagai seorang pekerja.
"Wih, enak ya, ngomong kaya gitu doang bisa dapet duit. Ngomong asal ngablak gitu, aku juga bisa"
"Wih, enak ya, bikin joged aneh aja bisa terkenal dapet duit." Tapi kalau orang udah mulai bosen, kita ga tau riwayat artis itu gimana lagi dengan pekerjaannya dia itu.

*****

Tenang. Dibaca ulang pun aku juga agak ga paham sama apa yang aku tulis. Haha

Tahun ini KinKi Kids merayakan 25 tahun debut mereka. Selamat! Semoga selalu menghibur.
Aku di 2022 sekarang ini merasa cuma perlu bilang gitu si. Mungkin ga seheboh yang kalian pikirin.




Jayalah Indonesiaku!

Salam!

Senin, 17 Oktober 2016

Lebih Kangen dari Naruto

Setelah 3 BANGSA, aku pikir aku tak akan menulis entri “serius” seperti itu lagi dalam kurun waktu cukup lama. Awalnya hanya ingin aku tulis sebagai “obrolan” santai, tapi setelah kupikir-pikir aku ingin membahasnya lebih mendalam. Yah, meskipun aku harap kalian tidak memendam ekspektasi yang terlalu tinggi.


Mungkin tulisan ini diperuntukkan untuk kalian, anak-anak 90-an yang senang menonton kartun di minggu pagi.

Kuawali dengan doa, semoga bermanfaat.





Berbicara tentang anak 90-an, meme mengenai kenangan masa kecil anak tahun 90-an sudah banyak berkeliaran di berbagai media sosial. Bahkan mungkin kalian yang bukan anak 90-an pernah melihatnya. Setiap masa memang ada kenangannya masing-masing. Kenangan baik maupun buruk. Kenangan akan permainannya, makanannya, mitos-mitos konyol, dan juga tontonan. Anak 90-an pasti bisa menyebutkan kartun-kartun apa saja yang pernah tayang di televisi pada zaman mereka.

Awalnya menonton kartun dan/atau anime sebagai ‘kartun’. Tertarik karena gambarnya, full color, cerita yang imajinatif. Begitu pula aku. Melihatnya asli sebagai hiburan anak-anak. Benar-benar melihatnya dari presfektif anak-anak. Namun beberapa diantara anak-anak itu, sampai sekarang masih menikmati ‘kartun’. Salah satunya aku, yang lebih condong ke anime (kartun Jepang). Anime memang menghilang dari layar televisi, tapi jujur, aku tak tahu “kenapa aku harus mengharapkan anime-anime itu ditayangkan lagi di televisi?”. Terlebih anak-anak sekarang tumbuh kembangnya tak dibarengi dengan pengawasan yang cerdas, berkualitas. Kekhawatiran akan dampak negatif karena anak-anak diberikan kebebasan oleh orang tuanya untuk mengakses internet pada usia yang belum tepat pasti ada, Karena anak-anak ini dianggap belum mengetahui bagaimana seharusnya sikap terhadap globalisasi atau belum cukup mengerti alasan kenapa suatu hal lebih baik tak dilakukan. Itu yang membuatku tak terlalu mempermasalahkan anime tak lagi tayang di televisi meskipun teman-teman memprotesnya. Toh, untuk menonton, menikmati anime di jaman sekarang itu mudah. Dengan televisi kabel, streaming di internet, bahkan rekaman penayangan anime di Jepang yang sudah dibubuhi subtitle Indonesia pun banyak. Aku acungi jempol untuk mereka pengelola website tempat download anime-anime ini. Bukan karena bersyukur aku jadi bisa puas mendownload anime lalu menontonnya. Aku hanya dibuat kagum oleh orang-orang itu yang dapat melakukan suatu hal yang tak bisa aku lakukan. Aku baru mengenal internet ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan dimasa itupun, aku masih bisa menikmati anime di televisi. Aku belum mengenal situs-situs yang setia memberikan anime gratis semacam itu. Dan ketika menyapa mereka, “Wah, situs seperti ini sudah ada sejak kapan ya? Pengelolanya pasti penggila anime” dan lain sebagainya pun terkadang membuatku ingin bertanya-tanya pada si pendiri situs. Dan seperti biasa, aku hanya ingin mencurahkan apa yang aku pikirkan. Karena aku bukan pengamat anime, jadi aku harap kalian tak menjadikan pendapatku ini sebagai teori.

Aku penasaran, ingin tahu, bagaimana perasaan dan apa pendapat kalian-kalian yang menonton anime dari zaman Naruto, One Piece, Bleach, Detective Conan, Dragon Ball, Doraemon, Shinchan dan kawan-kawannya, sampai anime-anime baru sekarang.







Naruto, One Piece. Kalau boleh aku sebut, anime legenda. Jumlah episodenya ratusan. Seperti sinetron. Tapi dengan cerita dan keseruan berbeda tentunya. Bahkan Detective Conan, One Piece, ceritanya masih berlanjut hingga sekarang. Anime-anime seperti itu sangatlah berjaya di masanya. Sampai saat ini pun sebenarnya masih enak dinikmati. Tak kenal kata bosan. Ceritanya kompleks. Setiap episodenya pasti bagus, menarik, seru. Walau sebenarnya aku tidak melanjutkan menontonnya lagi karena sudah tertinggal jauh.


Sebenarnya entah hanya karena aku tak mengetahui step by step perkembangan anime atau karena hanya tahu mengenai seluk beluk industri anime baru-baru ini, tapi satu kata yang tak pernah aku sematkan di anime ketika aku masih sekolah dulu, kini aku mulai menyuarakannya meskipun dalam hati atau hanya lewat tulisan. “Membosankan”. Tak sepenuhnya dalam arti sesungguhnya. Maksudku, tak sepenuhnya, tak 100% dan tak berarti dari semua aspek atau semua anime. Mungkin lebih tepatnya, “industri anime”nya.



Pertama, memang pengarang yang dapat membuat cerita seperti Naruto, One Piece, pada masa itu tidak banyak. Masa sekarang pun tetap kata ‘tak mudah’ tidak boleh dilupakan dalam hal membuat cerita seperti itu. Tak mudah mencari cara penyampaian cerita yang mampu membuat cerita itu tertanam di hati penikmatnya. Cerita yang mampu membawa komiknya diadaptasi menjadi anime, dan terkenal. Karya berkualitas pun tak harus memiliki cerita komplek dan episode yang banyak. Meskipun anime berepisode banyak atau berseason banyak di masa sekarang masih ada.

Menurutku, berdasarkan apa yang aku rasakan, aku hanya orang yang sedang berada di titik kejenuhan akan suatu hal yang sudah ia tekuni dari lama. Meskipun dalam kasusku, aku tidak ‘tekun’. Ketika anak-anak dulu, mengenal film animasi dengan ceritanya yang imajinatif, adalah hal yang luar biasa. Seperti menemukan mainan baru yang beratus kali lipat jauh lebih menarik dari mainan lamanya. Karena ‘anak-anak’ sama dengan ‘imajinasi’. Di situ titik awalnya. Semakin lama, mengenal anime, menonton anime lain dengan cerita berbeda, membaca banyak komik, semakin suka. Hingga dari yang dulunya hanya seorang anak yang terbatas hanya bisa ‘diberi makan’ cerita sihir dan hal-hal tak masuk akal lainnya, sampai tumbuh menjadi anak muda, remaja, yang dapat mencerna cerita berat seperti serial detektif atau bahkan sekarang yang cara mengkonsumsinya sudah masuk ke level mereview anime dengan cerita lebih rumit, contohnya, dan mengkritisinya. Kemudian, ketika kebutuhan akan cerita yang membuat penikmat anime lebih memeras otak, tak terpenuhi, disitulah puncak kebosanannya. Kebutuhan cerita yang lebih orisinil. Atau, tak harus ide baru sebenarnya. Ambillah contoh ceritanya sama-sama menitikbesarkan pada amanat bahwa kita harus menolong orang lain, namun cara menyampaikan amanat itu dengan cara yang berbeda, yang terpenting amanat itu tersampaikan hingga melekat di hati penonton atau penikmat cerita.

Soal ini, dari sini dan seterusnya mungkin akan lebih banyak membahas tentang anime-anime sekarang. Sebelumnya, anime yang aku rekomendasi bisa dihitung jari. Kilas balik sedikit, Death Note, tak hanya aku, media Jepang, terutama, juga menuliskan bahwa anime atau cerita ini adalah cerita terbaik hingga saat ini. Sementara untuk anime sekarang, anime yang ingin aku rekomendasikan ke orang-orang selalu aku review di blog. Ya, diantaranya ada Zankyou no Terror, Hai to Gensou no Grimgar, Boku Dake ga Inai Machi, dan yang tak aku review tapi aku rekomendasikan, Ace of Diamond atau Daiya no Ace. Serta, ada satu anime di tahun ini, anime summer, yang muncul dan membuatku ingin mereviewnya ditengah-tengah suasana hatiku yang merasa bosan dengan anime-anime sekarang, Fukigen na Mononokean. Tunggu saja reviewnya, ya.

Jadi, seperti itulah. Anime yang membuatku tak menyesal menontonnya. Sementara anime yang lain? Apa yang membuatku jenuh? Bukan jenuh, hanya merasa gemas mungkin. Lebih tepatnya, aku tak mendapatkan hal yang bisa aku ambil dari anime atau cerita itu. “Amanat di setiap karya itu banyak. Tapi yang tertanam di hati penikmatnya tak selalu ada dan tak sama karena penikmat yang kisah hidup dan latar belakangnya berbeda-beda”, selalu itu yang ingin kuingat. Berbeda cara menikmati Naruto dan kawan-kawannya, kini cara pandangku terhadap dunia berubah sesuai umur. Anak-anak ingin tontonan yang seru dan berwarna, orang dewasa ingin tontonannya yang bisa menyadarkannya tentang arti hidup. Kira-kira seperti itulah aku berpikir.



Anime sekarang tak hanya diadaptasi dari anime atau game, tapi juga novel, dan project. Project ini juga salah satu yang melahirkan anime idol, katakanlah. Terutama anime-anime idol ini, yang mungkin membuatku melihat bahwa anime-anime ini menjual karakter dan lagu. Atau mungkin dari menjual karakter mereka jadi bisa menjual lagu. Intinya, bukan karena cerita. Meskipun mungkin, anime, yakni menyampaikan cerita melalui gambar dua dimensi atau tiga dimensi-lah yang menjadi nilai jualnya. Namun sama halnya dengan musik, lukisan, dan tarian. Setiap karya pasti mengandung makna. Dan ketika penggemar menyukai karya bernama anime tersebut hanya karena karakter, dari situlah banyak pertanyaan muncul di benakku.




Kedua. Aku mulai menilik anime lagi ketika sudah masuk perguruan tinggi, setelah lama tak ada tayangan kartun di televisi. Dengan situs khusus tentang anime, aku melihat lebih banyak dibandingkan hanya dengan melihat di televisi. Di sana ada komentar penikmat anime yang lain, ada ulasan, dan informasi tentang anime. Dan aku juga mendapatkan informasi lain yang berkaitan dengan karya tersebut, seperti goods atau merchandise, drama panggung, event, live action, kolaborasi dan lain sebagainya.


Untuk goods atau merchandise, hal seperti itu sudah lama memang sepertinya. Mungkin juga bisnis anime menjanjikan karena itu salah satunya. Penggemar pasti tergiur dengan kata ‘Limited Edition’ dan jurus pemasaran lainnya. Aku tak bilang salah. Uang, uang mereka, bagus kalau memang itu benar-benar uang hasil kerja keras mereka sendiri. Terserah mereka menggunakannya untuk apa, aku tak punya hak untuk melarang.


Dubber atau seiyuu dalam bahasa Jepang, menjadi topik yang sudah banyak diperbincangkan sekarang ini, tidak seperti dulu. Pengisi suara karakter-karakter dalam anime One Piece atau Naruto, yang notabene sudah berumur pun mungkin saja baru-baru ini merasakan yang namanya event meskipun kecil. Bertemu penggemar One Piece dan merasakan menjadi pemain di balik layar tetapi muncul di depan publik. Bahkan event anime Naruto tak ada rasanya. Entahlah. Tapi anime sekarang, hampir semua mengadakan event. Menjual tiketnya. Menampilkan para pengisi suara, berbincang tentang karya tersebut, bermain game atau semacamnya. Lalu setelah beberapa pekan mengeluarkan DVD dari event tersebut untuk kemudian dijual. Dari situ pulalah, beberapa dubber muda saat ini namanya naik daun.


Drama panggung. Karya itu bermacam-macam termasuk teatrikal. Tak salah, apalagi dengan pemikiran, “mengusung cerita dari sebuah karya yang sedang booming di masyarakat saat ini, mampu menaikkan pamor sebuah karya seni bernama teater atau drama panggung”. Akhirnya banyak pihak yang mencoba menampilkan cerita dari anime yang sedang terkenal keatas panggung teater. Tak buruk. Bahkan tiga diantara yang pernah aku lihat, aku akui mempunyai nilai tersendiri dimataku.


Tak seperti teater yang sepertinya baru-baru ini mengangkat cerita dari anime atau manga (komik Jepang), live action juga drama yang diangkat dari cerita anime sudah banyak yang memproduksi. Ada film ada juga drama. Ada yang mendapat respon baik, ada juga yang tidak.

Drama panggung dan live action yang didasarkan pada cerita manga adalah dua karya yang pembuatannya di bawah tekanan. Tekanan akan ekspetasi penggemar karya aslinya. Apakah para pemain dapat memainkan karakter dengan baik, baik secara fisik maupun kepribadian? Apakah dua karya ini mampu menyampaikan cerita dengan tensi yang sama seperti yang penggemar rasakan ketika menikmati karya aslinya?



Ada satu hal baru-baru ini yang ingin aku bahas sedikit. Mengungkapkan isi hati. Maaf, membuat semakin malas membaca.

Death Note, yang tadi aku sebut merupakan salah satu karya dengan cerita terbaik sampai saat ini, ceritanya telah dibawakan dengan live action, sebagai drama maupun film, juga dengan teater, lebih tepatnya drama musical. Awalnya, ketika melihat berita tentang serial dramanya aku penasaran, “Hebat juga mereka dapat mengangkat ceritanya sampai sekarang. Padahal Death Note adalah karya yang cerita komiknya telah tamat di majalah komik tahun 2006 dengan rapi”. Namun, melihat serial dramanya, menurutku tak buruk. Tapi tak bisa juga aku katakan bagus walau dengan cara mengakhiri kasusnya yang berbeda. Kemudian, di film yang saat ini sedang banyak diperbincangkan dan dinantikan peluncurannya, beberapa berita yang mengatakan bahwa L dan Light Yagami generasi pertama muncul kembali membuatku untuk kesekian kali mengerutkan kening. “Kenapa?” Film kali ini berlatarkan setelah peristiwa di cerita aslinya selesai. Dan dua tokoh yang sudah tewas bangkit kembali. Aku tahu ini anime, apapun itu bisa saja terjadi termasuk hal tak masuk akal seperti itu. Tapi aku tak bisa berbohong bahwa sangkaan terkadang muncul dibenakku. “Apakah mereka ingin menaikkan rate film ini dengan L dan Light yang kita tahu adalah dua tokoh yang paling digemari dari karya ini? Apakah tidak bisa dengan tokoh lain? Tokoh yang meskipun itu bukan L dan Light, tapi bisa membawa suasana pertarungan seru seperti L dan Light dulu. Kecerdasan pemecahan kasus, daya analisis, hal-hal yang membuat pertarungan mereka menjadi seru seperti itu bukankah ciptaan sang pengarang? Bukan L dan Light yang memiliki kepintaran itu, tapi sang pengarang, komikus, sang pembuat cerita yang membuatnya. Siapa yang akan melakukan strategi A, strategi B, pengarang yang menentukan. Pun pengarang memutuskan strategi itu akan dijalankan oleh karakter baru, selama strategi itu cerdik, dan mampu membawa suasana pertarungan menjadi panas tak masalah menurutku. Bahkan mungkin si karakter baru ini akan disukai banyak orang dan masuk di jajaran karakter favorite dari cerita Death Note bersama L dan Light. Tapi ya sudahlah, kita lihat bagaimana filmnya nanti karena ceritanya yang memang berbeda, jadi kita tidak bisa memprediksinya.



Selain live action, merchandise dan sebagainya, ada juga novel. Beberapa anime yang aku tahu misalnya, Naruto dan Death Note, mengeluarkan karya yang lain yakni novel. Dengan cerita berbeda, ada juga yang ceritanya sama hanya saja menceritakan dari sudut pandang yang berbeda. Mau dibawakan dengan cara apapun itu, meskipun ceritanya sama, namun teater adalah karya yang berbeda, bermain peran dalam film adalah karya yang berbeda, novel lagi-lagi karya yang berbeda dengan yang lain. Semoga kita tak lupa bahwa masing-masing karya tersebut mempunyai cirinya masing-masing dalam membawakan cerita yang sama. “Bagaimana dengan karya ini? Bagaimana cara karya ini membawakan cerita yang sama?”, itulah yang menjadi tantangan pekerja di masing-masing karya.




Pergantian musim di Jepang terjadi sekitar tiga bulan sekali. Dan setiap pergantian musim pasti banyak anime baru yang muncul.

Jika boleh aku katakan, aku jenuh dan bosan karena bisnis mulai terlihat ke permukaan. Sangat terasa malah. Dulu memang bukan berarti tak ada bisnis di industri anime itu, tapi sekarang “haus keuntungan”nya sangat terlihat. Semoga saja semangat menghasilkan karya yang berkualitas, cerita yang berbobot tak benar-benar hilang hanya karena mengikuti keinginan masyarakat.

Sama seperti di Indonesia, ups. Semoga saja, berita yang diangkat, dibahas media bukan berita yang diinginkan masyarakat saja, apalagi kita tahu masyarakat kita tak sedikit yang lebih menyukai berita soal orang lain yang tak ada hubungannya dengan negara, serta mudah terbawa isu juga menjadi saah satu ciri masyarakat kita. Aku berharap media di sini menjadi media yang mendidik, netral, dan benar-benar memberikan informasi yang contohnya saja bisa membuka wawasan dan pikiran masyarakat kita terhadap dunia, tentu saja fakta. Mungkin ‘NETRAL’ adalah kata yang sensitif untuk media kita saat ini.



Jadi, kembali ke penutupan. Semua yang aku tulis di blogku bukanlah sesuatu yang dapat dijadikan dasar apalagi teori. Ini hanya pendapatku yang masih belajar. Pendapat dari apa yang aku rasakan secara pribadi. Selain itu, di tambah dengan entri ini, semua reviewku mengenai anime atau sebuah karya aku rasa hanya melihat dari aspek ceritanya, karena aku tak mengerti bagaimana kriteria membuat manga, bagaimana bermain peran, berakting yang baik. Jadi, aku harap setelah membaca review ini, kalian juga akan membaca ulasan-ulasan tentang anime dari orang lain juga, agar kalian bisa memilah dan tak menelan apa yang masuk ke otak kalian mentah-mentah.



Mungkin satu kata lagi, “Aku rindu cerita orisinil,” meskipun aku sendiri tak jago membuatnya. Aku rindu ditampar. Tamparan yang menyadarkanku akan nilai hidup sekecil apapun itu.



Selamat berkarya!




Jayalah Indonesiaku!


Salam. :)b

Selasa, 11 Oktober 2016

3 BANGSA*

Aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya, tapi “tidak ada maksud menghina suatu bangsa. Aku mencoba sebisa mungkin membahas ini dengan pikiran terbuka”. Kuawali dengan doa. Selamat membaca.



“Andai orang-orang negaraku, bangsaku seperti orang Amerika, pasti Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. Andai warga negaraku seperti orang-orang Jepang, pasti Indonesia maju. Kalau aku lahir di luar negeri, jadi warga di negara maju pasti enak”

Aku rasa tak sedikit orang yang berpikir seperti itu. Aku sendiri, karena Jepang adalah negara pertama yang aku ketahui sampai budaya atau cara hidup orang-orangnya, ketika SMA aku sering berpikir “andai aku warga negara Jepang”. Meskipun sebenarnya saat itu aku ingin menjadi warga negara Jepang karena kagum dengan komik. Bagaimana orang-orang itu bisa membuat cerita sekreatif itu? Ide cerita yang tak pernah terpikir olehku. Namun bersyukur karena teringat ketika itu aku juga berpikir bagaimana jika seseorang bertanya padaku “jika kau diberi kebebasan memilih, kau ingin jadi warga negara apa?”. “Warga negara Jepang”, kau berpikir aku akan menjawab seperti itu? Tapi sudah kuduga “Warga negara Indonesia saja, sudah cukup untukku” jawaban itu yang ingin aku keluarkan. Saat ini aku memang bersyukur menjadi warga negara Indonesia, tapi saat itu aku belum terlalu paham bagian mana yang harus aku syukuri dari terlahir sebagai orang Indonesia, jadi aku bersyukur karena entah kenapa dan entah datang dari mana, aku memiliki cinta untuk tanah airku. Dan sekarang? Aku mengerti mengapa aku bersyukur dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Karena aku cinta Indonesia. Munafik? Kalian boleh berkata seperti itu, karena jika Dr. Zakir Naik bilang “Jika kau ingin mempelajari suatu agama, lihat agamanya, jangan lihat pengikutnya”, maka aku tak bisa bilang aku mencintai ‘warga negara’ Indonesia, untuk beberapa alasan. Aku cinta alam Indonesia yang indah. Aku cinta Indonesia yang kaya akan SDAnya. Aku cinta Nusantara. Dan, aku bersyukur aku terlahir di sebuah bangsa yang menantang. Aku bersyukur mendapat pelajaran berharga lebih dulu dibanding dengan teman-teman yang terlahir di negara yang semua serba ada, serba enak, serba aman dan nyaman. Kami memiliki kekuatan lebih ketika kami mampu menghadapi tantangan yang bangsa kami berikan ini. Jadi, bagaimana denganmu? Apa yang kau cintai dari Indonesia?





Indonesia. Sebenarnya aku tak tahu pasti, maaf, karena aku penulis yang kurang giat membaca buku, sepengetahuanku sampai saat ini, sejak zaman kerajaan, Hindu-Budha, lalu Islam, Nusantara diberi pengetahuan tentang religi, spiritual, terlebih dahulu saat bangsa lain telah terbiasa dengan ilmu pengetahuan alam dan kawan-kawannya. Itu terus berlanjut sampai zaman penjajahan, reformasi, hingga sekarang, Nusantara lebih menonjol dengan ciri khas ilmu religinya.

Agama, religi. Dalam hal ini ialah ajaran yang datang dari Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Satu, agama apapun itu. AjaranNya tidak hanya soal hal-hal gaib. Surga, neraka, ibadah, doa, tetapi juga tentang ilmu pengetahuan. Disampaikan oleh Dr. Zakir Naik, dalam agamaku 80% isi kitab kami logis, ilmiah, 20% belum terbukti tapi beliau berkata ketika kita tahu nanti, itu pasti logis. Jadi, itu kira-kira isi dari ilmu religi itu sendiri. Namun di Nusantara pada zaman Islam, yang lebih aku tahu, bukan sisi ilmiah atau logisnya yang disampaikan pada masyarakat kami kala itu. Para penyampai ajaran Islam bukan menyampaikan suatu kejadian nyata yang ada pada zaman ini, yang ternyata Islam sudah mengajarkannya, Nabi kami sudah mengetahuinya 1400 tahun lalu dimana belum ada mikroskop, sebagai contoh ilmu tentang bagaimana janin terbentuk. Bukan soal itu yang disampaikan. Bukan ingin membuktikan bahwa ajaran yang mereka bawa benar. Tapi, penyampai agama ini menjelaskan tentang ajaran agama yang mereka bawa itu. Apa itu? Ajaran seperti apa itu? Apa yang diajarkan? Dan sekarang pun, di zaman yang ketika aku berumur kurang dari lima tahun pun sudah mendapatkan ilmu mengenai agama, mereka juga tidak menyampaikan hal yang ilmiah yang ada dalam ajaran agama mereka. Ya, lagi pula anak umur lima tahun juga tidak akan mengerti, kecuali soal pelangi, gunung, lautan dan semacamnya. Mereka menyampaikan bahwa dalam agama yang mereka bawa tak ada kasta, semua manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan. Agama itu mengajarkan kita untuk saling berbagi, saling tolong menolong, selalu tersenyum dan bersikap ramah, serta tak pernah marah. Menghargai perbedaan, hidup rukun, tenggang rasa, menyayangi sesama dan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Dan ajaran itu yang akhirnya menjadi dasar dari sikap ataupun watak sebagian besar warga negara Indonesia yang memang mayoritas Islam. Agama lain yang ada di sini pun demikian aku rasa.

Ramah dan suka tersenyum. Sampai saat ini menjadi jawaban yang sering aku dengar ketika seorang asing ditanya “Bagaimana orang Indonesia menurutmu?” Kami tak marah meskipun dikerjai. Kami suka tersenyum dan tertawa, meskipun komedi zaman sekarang banyak yang keluar jalur. Kami suka tolong menolong. Rasa kemanusiaan yang tinggi, mungkin. Kami senang memberi. Bahkan terkadang dikatakan ‘terlalu baik’. Seperti ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ibuku sedikit menegurku karena aku terlalu sering mengatakan ‘iya’ ketika teman meminta pertolongan sampai-sampai aku yang susah sendiri padahal sebenarnya itu bukan urusanku. Selain itu, orang Indonesia juga selalu menghargai perbedaan. Kami hidup rukun dan menyukai kesederhanaan. Lebih senang menghabiskan waktu di desa dengan tetangga sambil makan besar bersama di atas daun pisang. Kalau sedang mengobrol dengan sobat karib, terkadang bicaranya ‘tak pakai mikir’, yang justru membuat suasana menjadi hangat. Walau banyak yang akhirnya berujung pertikaian. Dan macam-macam orang yang wataknya tak seperti yang aku tulis tadi. Soal mereka kita abaikan saja dulu. Kita bahas yang dominan. Ya, itulah yang muncul di benak ketika kata ‘Nusantara’ disebut. Tak hanya Indonesia, Malaysia dan negara-negara tetangga mungkin juga seperti itu, karena aku tak pernah mengunjungi mereka. Orang Asia Tenggara, katanya.


Itu Indonesia. Bagaimana dengan bangsa lain? Jepang misalnya. Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata ‘orang Jepang’?

Disiplin, selalu on time, menjaga peraturan, bersih. Tidak salah. Melihat bagaimana proses pendidikan di tingkat sekolah dasar berlangsung, memang itulah yang menjadikan karakter orang Jepang tumbuh seperti sekarang. Mereka selalu menjaga kebersihan bahkan di masa sekarang, yang tempat sampah di tempat umumnya dikurangi karena waspada dengan ancaman terror bom yang seringkali meletakkan bom di tempat sampah, mereka tak lantas membuang sampah sembarangan. Mereka akan menyimpannya di kantong kertas yang selalu mereka bawa atau di tas untuk selanjutnya dibuang setelah mereka sampai di rumah nanti. Mereka selalu tepat waktu, datang maksimal 15 menit sebelum waktunya. Selalu mematuhi peraturan, menepati janji, dan memiliki etos kerja yang luar biasa. Pendidikan usia dini di Jepang berhasil menjadikan warga negaranya tumbuh menjadi warga negara yang mudah diatur sehingga semua elemen masyarakat mampu mengantarkan Jepang menjadi bangsa besar seperti sekarang.


Bangsa ketiga adalah Amerika dan orang-orang Eropa, atau kita sebut saja bangsa barat. Beberapa kali pernah aku singgung tentang cara hidup bangsa barat di beberapa entriku sebelumnya. “Kopi Sumatera di Amerika” contohnya. Aku rasa kita semua tahu bahwa bangsa barat tumbuh menjadi manusia yang kritis dan berpikir. Mereka tak hanya hidup sekedar hidup mengikuti air yang mengalir. Sekalipun mereka punya agama yang biasa kita sebut pedoman hidup, mereka tak enggan untuk selalu mempelajari dan mencari kebenaran dari agama yang mereka anut itu. Maaf, sebenarnya aku tak terlalu tahu soal bangsa barat dari sisi religinya, namun dari sebuah video yang aku lihat di youtube, aku mempelajari mereka tak terlalu membaca kitab mereka. Orang video itu bilang, jemaat juga diberi tahu untuk tak banyak bertanya. Lebih tepatnya mungkin kalian bisa cek di youtube. Tapi terlepas dari itu, pendidikan usia dini di barat memang bagus. Ketika kita sering mendengar orang tua yang selalu menasihati anaknya, selalu memaksa anaknya untuk mendengarkan perkataan mereka walau sebenarnya itu untuk kebaikan sang anak, sementara mereka sendiri tak pernah mendengarkan curahan hati anaknya, orang dewasa di negara barat selalu membuka lebar telinga mereka untuk mendengarkan cerita anak kecil. Mereka selalu bertanya pada anak-anak, anak siapapun itu. Mereka tak memarahi anak mereka, karena anak mereka dengan kesal protes kalau ‘sang ayah selalu bekerja, tidak pernah ada waktu untuk bermain bersama putri kecilnya’, dengan berkata “ayah bekerja untukmu! Kau anak kecil tak akan mengerti!” Sekalipun mereka marah, mereka akan minta maaf kemudian. Orang dewasa disana selalu mendengarkan apa pendapat anak-anak. Mereka selalu menanyakan pendapat anak-anak meskipun itu mengenai urusan orang dewasa. Ya, setidaknya mereka menjawab ketika sang anak bertanya ‘ada apa?’ Mereka menghargai anak-anak. Mereka memperlakukan anak-anak bak raja. Mereka menempatkan anak-anak setara dengan orang dewasa jika sudah berbicara mengenai pendapat, baik dalam hal bertanya ataupun menyampaikan. Itulah yang aku pikir menjadi sebab mengapa anak-anak bangsa barat tumbuh menjadi orang yang kritis dan berpikir. Mereka benar-benar berpikir akan nilai, kualitas dan kebermanfaatan hidup mereka. Mereka selalu mencari kebenaran yang masuk akal. Mereka berpikir bagaimana seharusnya mereka hidup. Tujuan hidup, itu salah satu yang mereka cari dari pedoman hidup yang selama ini mereka pegang sekarang.


3 poin yang, Alhamdulillah, baik dari 3 bangsa. Indonesia dengan religinya, Jepang dengan attitude, karakternya, dan Amerika, bangsa barat, dengan akalnya. Bagaimana jika ketiga sisi itu ditukar?

Ya, maksudku seperti, pertama, bangsa Indonesia. Kita semua tahu kita rajanya ‘jam karet’. Soal attitude seperti bangsa Jepang, untuk mayoritas, bisa kukatakan nol besar. Apa lagi semenjak aku mulai menjalani kehidupanku di kota besar seperti ini. Individualisme, sampah di mana-mana, tak ada toleransi terhadap orang lain. Sementara untuk budaya pemikir, aku tak terlalu mengerti, tapi yang pasti tak sedikit orang kita yang kritis, bukan? Kalau tak ada yang kritis semua hanya akan jadi mainan pemilik kekuasaan yang dibutakan nafsu. Namun banyak juga orang yang hidup sekedar hidup. Sama sekali tak mengerti apa makna dan kebermanfaatan hidup mereka selama ini sampai mereka akhirnya menyapa liang kubur.


Kedua, Jepang. Mereka memiliki ilmu religi, tapi sejauh yang aku amati sampai sekarang, mereka seperti hanya mendapat pelajar bahwa ada Sang Pencipta dan ada makhluk gaib seperti roh atau arwah dan hantu. Namun dengan berjalannya waktu, karakter mereka yang disiplin, on time, serba terjadwal dan semacamnya itu sedikit banyak mulai mendominasi sampai ke hati mereka, jika aku lihat. Karena dalam pemberitaan di sini pun, sekarang Shinto, agama asli Jepang, sudah tak dianggap sebagai agama, namun gaya, pandangan atau cara hidup. Dari sebelum-sebelumnya juga sudah terlihat sebenarnya. Orang Jepang sudah lebih banyak yang Atheis. Mereka lahir beragama Shinto, hidup sebagai orang Kristen dan mati dengan cara Budha. Mereka pergi ke kuil namun mereka juga merayakan hari raya Natal. Ketika ditanya apakah mereka butuh agama, hampir setengah dari orang Jepang yang temanku wawancarai menjawab tak terlalu butuh. Mungkin sebenarnya mereka yang percaya ada Tuhan. Percaya bahwa terkadang suatu hal aneh datang karena ada roh-roh nenek moyang yang minta didoakan sehingga sampai saat ini pun orang-orang di kota kecil dan di desa masih mengadakan festival atau semacam ritual untuk mendoakan arwah leluhur. Namun, agama sebagai pedoman hidup, menganggapnya sebagai kebutuhan, kebutuhan yang sampai seperti yang bangsa kita lakukan yaitu sesuatu yang mempengaruhi sebagian besar cara hidup kita, aku tak merasa bisa mengatakannya sampai situ. Cara hidup yang mereka anut, ialah cara hidup yang alasannya masuk di akal. Mereka tahu, paham, mengapa mereka harus disiplin. Mereka menjalani hidup dengan cara hidup yang ada kaitannya dengan hubungan antar manusia. Selama mereka aman, nyaman, mereka tak butuh agama. Maaf jika seperti judgement, itu hanya pendapatku, opini dari apa yang selama ini aku lihat.

Sekarang, apa bedanya hidup logis mereka, ‘pemikir’ bangsa Jepang dengan barat?

Mengenai hal ini, jujur, aku rehat menulis, 2, 3 hari aku butuhkan untuk berpikir lagi. Bukan berpikir mencari perbedaannya. Tapi justru selama 2, 3 hari itu aku semakin tak mengerti apa yang harus aku tulis. Aku semakin tak mengerti dimana titik perbedaannya. Apakah benar berbeda? Jika sama kenapa mereka tumbuh menjadi dua bangsa yang berbeda di mataku? Dan ketika aku mulai menulis lagi karena aku rasa aku telah menemukan jawabannya, aku bingung bagaimana harus mengungkapkannya dengan benar. Ya, memang. Terkadang banyak sekali alasan mengapa kita tak mengungkapkan isi hati dan pikiran kita. Ketika di dalam sebuah rapat kita terpikirkan suatu ide atau pertanyaan, ujung-ujungnya kita tak jadi mengutarakannya karena berbagai alasan. “Apa jika aku bertanya aku tak akan ditertawakan karena pertanyaanku bodoh?”, “Apa pendapatku ini benar? Atau justru aku malah akan diserang balik karena tak tahu duduk perkaranya?” Suara-suara hebat, yang mungkin saja suatu hari nanti mampu mengubah dunia, terkadang terpendam, hilang tak berbekas, tak pernah keluar satu kalipun dari mulut sang empunya hingga sang empunya meninggal. Dan itu bukan hanya karena faktor dalam dirinya, tetapi juga ada faktor lingkungan yang tanpa disadari hanya berkata, jika tidak “benar”, ya “salah”. Tanpa pernah sekalipun ia berusaha mengerti tentang proses belajar sang pengutara pendapat ini, lingkungan langsung men-judge suara itu.

Maaf, jika tulisanku membuat kalian pusing tak mengerti dengan arah pembahasan karena tiba-tiba membahas itu. Karena, bohong, jika aku bilang aku menulis ini bukan karena ingin dimengerti, bukan karena ingin agar kalian tak langsung mencap sesuatu padaku ketika aku mengungkapkan pendapatku setelah ini meskipun aku berusaha membuatnya ‘halus’. Bukan sesuatu yang berarti, hanya saja aku sedikit merasa berat hati untuk menulis sesuatu tentang satu bangsa dari sudut pandang orang awam sepertiku yang notabene tak tahu benar mengenai mereka. Oleh karena itu, senang rasanya kalau kalian bersedia mengoreksi dasar dari opini seorang pembelajar sepertiku ini.


Kembali ke topik, beberapa orang yang aku lihat, aku temui, dan aku dengar pendapatnya, membuatku merasa bangsa Jepang masih terpengaruh dengan masa lalu mereka yakni sebelum restorasi Meiji. Jepang menutup diri terhadap bangsa barat. Pada dasarnya mereka sama dengan bangsa kita. Diawal, mereka sama-sama membiarkan cinta tumbuh dalam hati sama seperti kita. Cinta terhadap tanah air dan cinta dengan pandangan hidup, ajaran, agama yang berkembang di tanah air, yang didapat dari nenek moyang. Namun setelahnya apa yang terjadi di Jepang dan di Indonesia sangatlah berbeda. Sistem pendidikan dasar yang diberlakukan di Jepang mampu menjadikan negara itu maju dengan salah satunya teknologi canggih yang kini mempengaruhi banyak bangsa terutama negara berkembang. Guruku di Negri Sakura sana sangat membanggakan ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsanya sekarang. Robot berbentuk manusia yang mungkin akan benar-benar digunakan suatu hari nanti di seluruh dunia. Bakteri dalam daging babi yang telah hilang dengan teknologi mereka sehingga daging babi bisa dikonsumsi dengan aman, kata guruku itu. Selain itu, Jepang adalah negara yang bersih dan peringkat 8 dari 10 negara paling aman di dunia. Siapa juga yang tak betah tinggal disana? Salah satu personality radio yang aku dengar setiap hari Jumat pun bilang bahwa ia tak ingin pergi ke luar negeri. Amerika misalnya, tak seperti Jepang dimana kepemilikan senjata api harus dengan ijin, kita tak tahu siapa saja yang memiliki senjata api di Amerika sana. “Rasanya seperti aku bisa saja terbunuh kapan saja”, katanya. Dia tak ingin keluar negeri karena selain di negaranya sendiri pun masih banyak tempat yang belum dikunjungi, baginya Jepang adalah negara paling aman, damai.

Tertutup. Tak terbuka. Hal itulah yang diwariskan sejarah hingga, aku rasa, sampai saat ini kepada orang Jepang. Aku tahu tak semua orang. Orang Indonesia yang selalu ramah juga tak semua. Hanya menyayangkannya. Karena, dengan “mengurung diri dirumah” itulah, mereka tak memperoleh ilmu pengetahuan yang tak ada dirumah mereka. Salah satunya ilmu religi, ajaran, pandangan, filsafat hidup. Ada banyak agama, pandangan dan ajaran hidup di dunia ini. Ada banyak tokoh pemikir filsafat hidup di dunia ini. Orang Jepang tak tahu bagaimana kita, orang Indonesia, memuliakan sebuah pernikahan, sementara banyak dari mereka tak menikah karena berbagai alasan. Karier, memang tak ingin menikah karena merepotkan, dan lain-lain. Toh, kebutuhan seperti cinta dan seks bisa mereka dapatkan tanpa harus menikah dan memiliki anak. Hingga akhirnya membuat piramida kependudukan mereka terbalik.

Anime. Salah satu hal dari Jepang yang memang aku lebih banyak mendengar tentang itu dibandingkan hal lain. Pemilik rumah produksi menantikan ketika sebuah anime yang mereka rilis diminati banyak orang di Jepang sana. Penggemar itulah yang menjadi pasar mereka ketika baru 4, 5 minggu sebuah anime rilis mereka sudah mengeluarkan banyak merchandise untuk dijual secara terbatas. Semakin berkembang bisnis itu sekarang, hingga ada saja barang-barang aneh yang bangsa itu ciptakan, namun semata untuk memuaskan kecintaan mereka terhadap karya itu, dan bagi pengembang, ya, seperti yang kalian tahu, disamping karakter mereka yang memang hanya akan membeli barang original buatan dalam negeri sebagai ungkapan bahwa mereka menghargai si pembuat cerita karya aslinya.
Kecintaan itu, yang menurutku, meskipun bangsa Jepang juga memiliki ‘unsur’ pemikir seperti bangsa barat, selama mereka bisa hidup nyaman, aman, karena memang seperti itulah negri mereka sekarang, mereka tak perlu mencari lagi yang lain. Mereka sekarang hanya ‘tinggal’ fokus pada karier, kehidupan ‘dunia’ mereka. Perihal mereka juga tahu ada surga dan neraka, dimana tempat mereka akan pergi setelah mati, dan ‘mungkin’ mereka yakin akan tinggal di surga, serta atas dasar apa, jaminan apa yang mereka punya sehingga bisa dengan santai hidup di dunia tanpa terpikir ‘mungkin nerakalah yang akan jadi tujuan akhir hidup mereka’, aku tak tahu. Mungkin suatu saat kita bisa tanyakan pada mereka.

Kecintaan yang dimiliki bangsa kita juga sebenarnya sama. Atau justru lebih parah. Karena kami hanya menuliskan itu sebagai agama kami di KTP tanpa benar-benar memikirkan ajaran itu, mengaplikasian apa yang ajaran itu ajarankan pada kami di kehidupan kami. Sehingga, ya, seperti ini sajalah terus, Indonesia. Tapi, semoga kita selalu dalam lindunganNya.

Jadi begitulah. Setinggi apapun puncak yang telah kita daki, semaju apapun bangsa kita, diluar sana bangsa lain, telah menjalani hidup dengan, mungkin, pandangan hidup yang lebih ideal, lebih logis, lebih manusiawi dari yang kita anut. Dari pandangan hidup yang kita tahu selama ini. Dari pandangan hidup yang selama ini kita genggam hanya karena itu warisan orang tua, bawaan nenek moyang. Jadi, jangan menyerah mencari kebenaran.


Itu tadi, Indonesia dan Jepang. Sekarang giliran bangsa barat. Bagaimana pendapat kalian mengenai bangsa barat dilihat dari sisi lain selain ‘pemikir’?

Aku melihatnya sebagai bangsa yang memiliki beberapa budaya yang sama seperti Jepang. Minum-minuman keras, seks bebas, dan beberapa pekan lalu media memberitakan demonstrasi yang dilakukan di New York, kalau aku tak salah ingat, oleh sekelompok wanita dimana mereka menuntut agar kaum wanita diberi hak atau kebebasan untuk bertelanjang dada seperti kaum pria, karena mereka menganggap itu juga salah satu bukti kesetaraan gender. Sebenarnya jika ditarik kesimpulan tak ada yang perlu aku ‘komentari’ mengenai bangsa barat. Kenapa? Karena berbeda dengan Jepang, mereka adalah bangsa yang terbuka. Pemikiran mereka terbuka. Mereka mengetahui semua ilmu yang ada di dunia ini. Mereka mampu dengan mudah mendapatkan ilmu bahkan dari luar bumi sekalipun. Dan selama itu logis, masuk akal, sesuai dengan ilmu pengetahuan atau kebenaran yang selama ini telah diketahui, mereka bisa saja mengakui ilmu itu sehingga ‘kebenaran’ dengan mudah datang dan merangkul sebagian dari mereka. Hanya saja, tak sedikit juga orang barat yang tak mendapat kesempatan keluar rumah. Bukan tak ingin, tak ada kesempatan untuk melihat langsung apa yang ada di luar rumah mereka. Tak sedikit juga yang tak terpikir bahwa diluar sana ada hal ‘aneh’ yang patut untuk mereka coba ‘pikirkan’. Yang sedang mencari kebenaran, yang telah mendapat kebenarannya memang sedikit. Namun karena mereka memutuskan mengambil jalan yang memang benar, hidup mereka juga akan benar, di dunia ataupun nanti setelah mereka mati. Karena mereka paham mengapa mereka mengambil jalan itu, sangat mengerti mengapa jalan ini ‘benar’, mereka tak akan mudah terhanyut dengan yang lain. Mereka akan mencintai jalan itu. Cinta yang sesungguhnya. Cinta yang abadi, karena mereka tahu mengapa mereka bisa mencintai jalan itu. Dengan melangkah di jalan yang benar, menjalani hidup dengan cara yang benar, kebaikan dan kualitas hidup, hasil yang baik akan mengikuti. Sedikit demi sedikit, namun jika semua orang barat itu mampu mendapatkan kebaikan hidup, hasil yang baik itu, Amerika yang sekarang sudah menjadi negara adidaya akan menjadi sebesar apalagi di masa depan nanti?

Kalau Indonesia, maaf, aku sedikit bersyukur Indonesia adalah negara yang ‘terpuruk'. Bercanda. Tapi, sungguh, dengan kondisi kami sekarang, negara berkembang, kami mau tak mau pasti melihat ke atas. Kami menyadari benar kondisi kami, yang masih jauh dari kata ‘enak’. Kami tahu benar bahwa banyak negara yang lebih maju di luar sana. Dan yang terpenting, aku bersyukur karena ‘kesadaran’ akan kondisi itu diketahui, menyebar di hampir seluruh elemen masyarakat. Hanya saja, kami tahu kondisi kami, tapi tak ada usaha nyata dari masing-masing individu warga negara Indonesia untuk mengubahnya. Sedih. Orang Indonesia hanya menerima ilmu religi tanpa kemudian mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. “Pasrah, sudah takdir. Rezeki setiap orang, takdir setiap bangsa sudah ada yang mengatur”. Lupa kalau ajaran yang kita anut juga mengajarkan kita untuk berusaha, bekerja keras. “Hidup diri sendiri saja belum bener, mau mikirin negara?” katanya. Setelah tahu ada anak tukang becak, petani, bisa lulus S1 cumlaude di universitas terkemuka di Indonesia dan melanjutkan studi S2 di luar negeri dengan beasiswa penuh, masih akan mengatakan hal seperti itu? Setiap individu memiliki potensinya masing-masing. Dibidang apapun itu, dan tak harus menjadi lulusan terbaik di perguruan tinggi ternama. Mungkin saja kau yang sedang duduk membaca entri ini adalah salah satu yang akan mengubah dunia. Kata temanku, mimpi jangan setengah-setengah. Daripada mengubah Indonesia mengapa tidak mengubah dunia saja sekalian. Dunia belum damai, bung. Masih banyak saudara kita yang kelaparan, kekurangan air, dan menjadi korban kejahatan kemanusiaan. Jadi, jangan diam! Bergerak! Bangun! Pergi sana, cari ilmu! Cari kebenaran dimulai dari apa yang sedang kau anut, kau tekuni terlebih dahulu. Gali passionmu! Tak usah berat dipikir. Sedikit demi sedikit. Yang penting dilalui dengan cara yang benar. Hasil akan mengikuti.

Dan sekali lagi semoga kita tak ‘hidup sekedar hidup’. Bekerja lalu menerima gaji. Hanya itu. Lakukanlah sesuatu. Buatlah sesuatu. Sesuatu yang ‘belum’ dilakukan orang lain. Bukan yang ‘tak’ dilakukan orang lain ya. Mencuri mangga tetangga juga tak dilakukan orang lain. Hal baik yang ‘belum’ dilakukan orang lain. Semua orang melakukan hal baik. Namun yang pertama yang melakukannya, dia lah yang dikenal, dikenang oleh orang-orang. Ketika dikantor kalian melakukan suatu hal baik, menjadi kebiasaan, orang-orang melihatnya dan kemudian mengikutinya, menjadi kebiasaan baik dikantor, memberikan dampak yang baik untuk perusahaan, semua orang akan mengenalmu termasuk atasan. Atau pikirkan dirimu sendiri saja. Kau dan aku ingin yang terbaik untuk hidup kita masing-masing, maka lakukanlah yang terbaik, capailah yang tertinggi meskipun itu dalam hal kecil sekalipun. Ketulusan hati menuju kebaikan dan kerja keras tak akan mengkhianati. Dimulai dari diri sendiri pun tanpa sadar itu adalah kebermanfaatan untuk lingkungan sekitar kita. Barulah kita memikirkan kebermanfaatan hidup kita untuk lingkup yang lebih luas.





Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap bangsa memiliki karakteristiknya masing-masing. Kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Sekarang, apa yang akan kau lakukan untuk menghilangkan kekurangan dan kelemahan negatif yang ada dalam dirimu?


Mari saling berbagi, saling mendoakan. Kau dan aku untuk hidup yang lebih bermanfaat.






Jayalah Indonesiaku!

Salam. :)

Kamis, 06 Oktober 2016

Perubahan Blog (New label, "Daily" and "My Mind")

Aku bukan orang suci.
Aku bukan orang yang selalu benar.
Aku juga sering salah.
Aku masih butuh banyak belajar.


Di zaman yang bebas seperti sekarang, makin banyak orang yang tak segan melempar komentar dan kritik dengan kata-kata kasar, kejam menusuk hati sekalipun.

Untuk itu, aku melakukan sedikit perombakan dalam blogku ini. Aku ingin jujur pada diri sendiri. Aku ingin menunjukkan sisi lain dari diriku yang sebenarnya lebih suka tertawa, bercanda daripada bersikap serius seperti ketika sedang menulis entri-entri 'serius'ku. Bukan berarti benci perbincangan serius, ya. Hanya ada waktunya untuk serius, ada waktunya juga untuk bercanda. Walaupun aku bukan pelawak. Tak punya bakat melawak. Hehe.



Dengan kata lain, intinya, label "Daily" isinya akan aku ubah menjadi entri-entri tulisan 'polos'ku, wkwk, dengan bahasa yang,, entahlah, mungkin aku masih pewe menggunakan bahasa baku seperti ini, tapi aku akan berusaha untuk membuatnya lebih santai. Semoga bisa ya. XPa

Dan entri lama dalam label "Daily" dipindahkan ke label "My Mind". Sok bahasa Inggris, padahal paling payah bahasa Inggris. XD

Serta satu label untuk entri yang memuat pembahasan dengan bahasa Jepang. Rasanya ga bakal nambah si,, wkwk XP



Yah, jadi begitulah. Aku belum yakin apakah bisa lebih giat menulis dengan cara seperti ini atau,,
Sebenarnya tujuan utamanya, karena tak mau menutup-nutupi apapun. Kalau dijudge seseorang tanpa beliau bertanya terlebih dahulu itu 'me-nya-kit-kan', maka lebih baik ngomong duluan, kan? Hehehehe



Jadi, begitulah. Selamat menelusuri blog aneh ini. Kalau sedang tak mood membaca jangan dipaksakan, tapi kalau sudah terlanjur membaca tolong diselesaikan sebelum berkomentar. Hehe. XP



Jayalah Indonesiaku!

Salam. ;)V

Jumat, 19 Agustus 2016

Dedikasi Masa Muda

Menonton anime (kartun Jepang) adalah salah satu hobiku. Aku mengenal kartun dari SD walau tak tahu pasti ketika aku duduk di bangku kelas berapa. Aku yakin anak-anak 1990-an pasti sama sepertiku. Doraemon, Chibi Maruko-chan, P-Man, Ninja Hattori, Dragon Ball, Detective Conan, dan masih banyak lagi. Mungkin yang mengalami zaman itu merasa rindu dengan suasana minggu pagi kalian kala itu.

Sampai saat ini aku masih jadi penikmat anime dan sudah lumayan banyak anime yang kutonton. Tapi aku yakin ada yang hafal judul anime lebih banyak dariku. Meskipun penggemar, tak semua anime aku tonton. Genre yang aku ikuti hanya sport, action, terkadang sci of life, comedy, walau sangat sedikit. Hampir semuanya anime shounen (untuk anak laki-laki). Dan genre yang sering sekali membuatku muak dan kecewa (maaf berlebihan) adalah romance. Akhirnya aku berusaha menghindari jenis cerita yang satu itu. Memang pada dasarnya aku tak menyukai topik percintaan. Sejak masih sekolah aku tak pernah menikmati perbincangan dengan teman-teman jika topiknya itu. Jadi anime-anime seperti Ace of Diamond, Death Note, Naruto, Haikyuu, Zankyou no Terror, Arslan Senki, Code Geass, Tokyo Ghoul, Bungou Stray Dogs-lah yang aku tonton.

Menghadirkan cerita bergenre yang paling aku sukai yakni sport, Ace of Diamond, terutama, kembali membuatku memikirkan hal-hal yang selama ini aku pikirkan jika sedang menonton anime sport. Sesuai dengan judul entri ini, yang juga aku dapat setelah menonton Haruchika, salah satu anime yang menarik perhatianku, aku sering kali memikirkan tentang dedikasi masa muda.

Tak perlu jauh-jauh, masa SMAku aku habiskan tak hanya untuk mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas, tapi aku juga mengikuti ekstrakulikuler olahraga. Dari situlah, aku dapat merasakan atau istilah kerennya, menghayati dan ikut mendalami cerita anime-anime sport yang aku tonton. Dari anime Yowamushi Pedal, aku teringat bagaimana awal-awal aku dan teman-teman kelas satu, yang merupakan anggota baru, memulai aktifitas di eskul itu. Awalnya memang hanya perkenalan, namun minggu-minggu berikutnya otot kami mulai dilatih. Kami menjalani latihan fisik yang memang sangat berat. Porsinya berkali-kali lipat dari biasanya. Ketika puncak kelelahan pun, aku seperti tak bisa lagi menggunakan otakku untuk berpikir walau sebenarnya masih bisa berteriak dalam hati, “Cukup! Aku butuh istirahat! Nafasku habis! Kakiku pegal! Tak sanggup bergerak lagi! Aku tak mau latihan seperti ini! Kakak senior iblis! Mereka mau membunuhku! Besok aku bolos! Titik!” Latihan selesai dan sampai rumah otot diseluruh tubuh mengencang. Badan pegal dan letih yang luar biasa. Keesokan paginya di sekolah pun, aku bertemu dengan anak kelas satu yang lain. Merekapun sama denganku. Badan mereka pegal. Jika kau menyentuh bagian tertentu, hanya menyentuh, itu akan menjadi kesakitan luar biasa untuk kami. Tapi kau tahu, ketika jam istirahat kami pergi ke kantin, ada suara yang sebelum-sebelumnya tak pernah memanggilku. Itu suara senior kami. Aku tak hanya berteman dengan anak kelas satu dari kelas lain. Keseruanku disekolah juga karena kakak-kakak kelas yang kami kenal di eskul. Itu yang membuatku tetap datang latihan keesokkan harinya, esoknya lagi, esoknya lagi, dan hari-hari setelahnya.

Olahraga dalam budaya kita memang tidak identik dengan laki-laki saja. Anak perempuan yang menjadi atlet pun banyak. Tapi ketika melihat anime Ace of Diamond, aku mulai memikirkan dalam tentang ‘ambisi’. Aku tak tahu benar, tapi aku berpikir itu juga salah satu perbedaan laki-laki dan perempuan. Atau aku hanya terbawa anime itu saja? Entahlah. Tapi aku rasa ambisi laki-laki memang lebih besar dari perempuan. Contohnya saja, jika seorang suami gagal dalam pekerjaannya kemungkinan ia marah-marah tak jelas ketika sampai di rumah pun ada. Jadi para istri selalu memaklumi kalau suami mereka terlalu mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan. Itu yang aku tahu. Anime Ace of Diamond menjadi salah satu anime yang sukses di negara asalnya. Cerita dibawakan dengan sangat menarik, dan seperti anime action, anime sport juga sangat seru. Dari situ aku mulai paham tentang ambisi laki-laki. Kalau ambisiku misalnya, aku selalu menjadikan temanku sebagai rival tanpa sepengetahuan mereka. Rival dalam pelajaran maupun olahraga. Tapi aku rasa itu tak sekuat laki-laki yang berjuang untuk melampaui rival mereka. Ambisi ingin menang itu yang membuat para tokoh bisa mati-matian berlatih. Semangat para tokoh yang notabene laki-laki itulah yang tak bisa kutiru. Dari situlah aku merasa bahwa ambisi mereka akan tugas, tanggung jawab, sesuatu yang memang sudah wajar mereka kerjakan itu berbeda dengan anak perempuan. Ketika anak laki-laki berambisi akan sesuatu, bisa saja ia mengabaikan hal-hal berbau perasaan yang mengganggu kerja kerasnya. Berbeda dengan anak perempuan yang masih menggunakan perasaan. Ya, mungkin tak semua anak laki-laki seperti itu, tapi itulah yang aku suka dari kaum adam. Berambisi dan tak lemah.

Tak hanya Ace of Diamond, anime Haikyuu dan anime sport lain juga mengingatkan aku ketika aku berlinang air mata karena kalah di pertandingan. Aku bisa merasakan kesedihan karakter-karakter di anime itu ketika mereka kalah. Sakit. “Kenapa mereka yang menang? Kenapa bukan kami? Kenapa kami kalah? Aku tak mau kalah! Aku ingin menang! Aku ingin menang! Aku ingin bertanding sekali lagi! Kali ini pasti aku yang akan menang! Aku ingin menang!!” atau semacamnya. Suara hati yang tak bisa dicegah untuk keluar. Bukan karena apa-apa. Bukan karena kecewa, merasa latihan neraka yang sudah dijalani tak membuahkan hasil. Bukan juga karena ingin membuktikan pada orang tua atau teman-teman. Ingin menang. Hanya karena ingin menang. Siapa sih, yang tak mau menang? Kalau kata Hinata dan Kageyama, tokoh utama dalam anime Haikyuu. Tak ada alasan kenapa ingin menang. Hanya tak mau kalah saja. “Memangnya ada alasan untuk makan ketika kau lapar?” kata dua karakter yang kebodohannya berhasil mencapai tingkat jenius itu. Ya, meskipun dulu aku juga terkadang menangis walaupun sekolah kami sudah dinyatakan sebagai juara umum.

Tapi kisah di anime, atau mungkin di Jepang, kalau kenyatanya memang seperti yang diceritakan di anime, berbeda dengan di sekolahku dulu dan mungkin juga di sekolah lain di Indonesia. Kegiatan ekstakulikuler olahraga tingkat SMA di Jepang bisa memenuhi kalender dalam setahun dengan latihan. Maksudku porsi latihan mereka lebih banyak. Mereka latihan hampir setiap hari sementara eskulku dulu hanya 2 kali seminggu jika tidak dalam masa persiapan pertandingan. Meskipun jika sudah datang masa pertandingan dan tepat ketika libur sekolah, latihan bisa 10-14 kali dalam seminggu. Selain itu, di Jepang sering sekali diadakan latih tanding dengan sekolah lain. Pun tidak dengan sekolah lain, frekuensi latih tanding eskul SMA di Jepang masih lebih banyak dengan yang pernah kualami. Aku pikir berlatih teknik dengan langsung mempraktikannya dalam latih tanding lebih efektif untuk anak SMA. Libur musim panas di Jepang pun terkenal dengan camp latihan untuk klub-klub ekstrakulikuler olahraga di sekolah menengah di Jepang. Mereka, dengan sekolah lain, menginap dan melakukan latihan bersama dan pastilah menjadi kesempatan baik pula untuk melakukan latih tanding dengan sekolah lain. Aku merasakan bagaimana rasanya menginap di asrama sekolah dengan teman-teman, tetapi itu ketika sedang mengikuti pertandingan agar para senior dan pelatih dapat mengontrol atlet. Sementara ketika libur sekolah kami tetap berlatih seperti biasa.

Belum lagi tokoh utama bodoh adalah hal yang biasa ada dalam beberapa anime sport. Seperti Hinata, Kageyama, Tanaka, dan Noya dalam anime Haikyuu misalnya. Mereka berjuang keras belajar demi menghadapi Ujian Tengah Semester yang berakhir dengan Hinata dan Kageyama harus mengikuti ujian perbaikan sehingga terlambat pergi ke camp pelatihan di Tokyo. Mereka berjuang bahkan sering kali menambah porsi latihan mereka sendiri padahal bisa saja mereka menggunakan waktu itu untuk belajar. Dari situ aku teringat salah satu dosaku. Aku bersyukur selama sekolah aku tak pernah mengalami kendala yang berarti dalam pelajaran kecuali kemalasan dalam menghafal. Diluar itu tak masalah. Bahkan otakku lebih cepat menangkap dan memahami pelajaran diatas yang lain. Sehingga aku tak perlu terlalu banyak menghabiskan waktu belajar untuk setara dengan teman-teman. Tapi di lain pihak seharusnya aku bisa lebih menghabiskan waktu itu untuk berlatih. Entah aku enggan untuk berlatih sendiri atau istilah ‘latihan mandiri’ di sekolah kita tak seterkenal di Jepang, aku menyesal tak bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk berlatih padahal aku tak perlu terlalu khawatir dengan akademikku.

Satu lagi dari anime Ace of Diamond, salah satu karakter pendamping yang tak terlalu berbaur dengan teman-temannya di kelas, menyadarkanku kalau memang ada anak seperti itu. Aku salah satunya meskipun aku tak mencapai level seperti karakter itu. Bukan anak yang mencolok di kelas. Aku pun hanya sesekali berbaur dengan teman-teman, berbincang dan bercanda. Bahkan bisa kukatakan jika aku tak punya teman sebangku mungkin aku hanya akan menyapa teman sekelas ketika ada perlu seperti membicarakan pelajaran beserta tugas dan PRnya. Atau terkadang teman-teman mendekatiku hanya untuk mencontek Pekerjaan Rumah. Hingga akhirnya anak-anak kelas mengenal anak seperti itu sebagai anak pendiam dan penyendiri. Di balik itu, tanpa mereka tahu pribadinya bisa sangat, sangat berbeda ketika ia melakukan aktifitas ekstrakulikulernya. Ketika teman-teman kelasnya datang untuk melihat pertandingan sekolah mereka, mereka akan melihat orang yang sama namun bukan si anak pendiam dan penyendiri, seperti yang mereka kenal di kelas, ketika anak itu turun bertanding. Kalian pasti paham. Seperti, anak itu telah menemukan tempatnya. Meskipun bukan di kelas, meskipun bukan teman-teman sekelasnya, tapi ekstrakulikuler yang ia ikuti beserta anggota dan para pembimbing bisa membuat anak itu terlihat hidup. Bahkan terkadang aku berpikir, anak pendiam di kelas bisa menjadi salah satu pilar kelas karena pribadinya yang mulai terbuka dan supel. Pribadi itu mungkin saja ia dapatkan tak lain dan tak bukan adalah dari aktifitas ekstrakulikulernya.



Semua anime sport itulah yang menyimpulkan semua pemikiranku tentang masa-masa SMA selama ini hingga akhirnya menemukan judul yang pas karena opening song anime Haruchika. Aku bersyukur, aku melalui masa-masa mudaku dengan kegiatan yang bermanfaat. Atau bahkan bisa kubilang kegiatan yang bisa membuatku mengabaikan hal yang lain. Aku benar-benar menikmati masa-masa itu. Rasanya sampai sekarang pun aku masih ingin terus berdiri di atas matras untuk bertanding.

Ada alasan lain tentunya kenapa aku menulis entri ini. Biasanya dihari-hari awal sekolah di SMA, ekstrakulikuler menjadi topik yang banyak diperbincangkan anak-anak kelas satu. Aku yakin beberapa diantara kalian pernah mendengar salah satu anak mengatakan “Tidak ikut eskul apapun. Melelahkan. Merepotkan”. Bertambah besar rasa syukurku aku bukanlah anak yang memiliki pemikiran seperti itu. Atau ketika teman sebangkuku tahu eskul apa yang aku ikuti, dia berkomentar “Kenapa si, kau mau saja merusak badanmu seperti itu? Memangnya tidak sakit?” Walau sebenarnya ia juga anak eskul voli, olahraga yang ketika aku mulai mempelajarinya di SMP aku pesimis apakah tanganku tak akan patah? Aku kan kurus. Hello, tak ada olahraga yang tak beresiko. Olahraga itu keras. Hanya orang berani yang mau mendedikasikan dirinya untuk menjadi atlet. Tak ingat atlet angkat berat yang tangan kirinya tiba-tiba patah di Olimpiade Rio 2016 tempo hari? Maaf menakut-nakuti. Aku masih sedikit merinding melihat videonya.

Kembali ke topik. Tak mengikuti satupun kegiatan ekstrakulikuler bukan berarti salah. Kita tahu ada berbagai macam siswa. Siswa pintar yang patut direkomendasikan mengikuti olimpiade sains. Ada siswa yang memiliki kesibukan di luar sekolah. Ekstrakulikuler pun tak hanya olahraga, jadi ada juga mereka yang mencari kesibukan di OSIS, Pramuka, atau semacamnya. Tak salah. Itu baik. Yang perlu dipertanyakan adalah mereka yang tak masuk ke dalam tipe manapun. Mereka hanya bersekolah seperti itu kewajiban atau kasarnya perintah orang tua. Mereka sekolah seperti “teman-teman melanjutkan sekolah ke SMA itu artinya aku juga”. Sekolah seperti, “itu untuk masa depanku” meskipun ia tak tahu benar apa itu masa depan, atau tak tahu seperti apa pengaruh sekolahnya saat itu untuk masa depannya kelak. Mereka berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda motor hasil ‘meminta’ kepada orang tua. “Aku mau motor keluaran terbaru, kalau tidak aku tak mau berangkat sekolah”. Sepulang sekolah ia tak langsung pulang, tapi bermain dengan teman-temannya. Ia pergi ke restoran cepat saji atau ke mini market membeli makanan ringan yang biasa dibeli orang-orang berdasi, berkantong tebal itu, dengan uang jajan yang ia dapat dari orang tuanya. Lebih parah lagi jika diantara makanan ringan itu ada sebuah kotak kardus kecil dengan tinggi tak lebih dari sejengkal dan ada kata-kata ‘membunuhmu’ tertulis di sana. Di lain kesempatan ia meminta orang tuanya untuk membelikannya handphone model terbaru agar tak kalah dengan teman-temannya. Agar terlihat keren, katanya. Tak hanya sepulang sekolah, di hari libur pun ia pergi hang out dengan teman-temannya. Hanya teman saja rasanya belum gaul, mereka mencari pacar yang ketika ulang tahunnya, ia meminta uang tambahan pada orang tua guna membelikan sang pacar hadiah. Atau, kalian ingin aku mengungkapkan yang terjadi di sini? Tawuran misalnya. Cari masalah agar di perhatikan.

Semakin banyak tingkah konyol anak SMA zaman sekarang, rasa syukurku semakin bertambah. Meskipun yang aku lakukan ketika SMA tak banyak mendominasi kehidupanku yang sekarang, tapi dari segi organisasi aku belajar banyak hal. Hal itu yang mendominasiku saat ini dan aku bersyukur.




Dedikasi masa muda. Aku harap aku, kau, kita semua tak hidup hanya sekedar hidup. Aku harap aku, kau, dan kita semua bisa mencari apa arti hidup kita detik ini, hari ini. Aku harap hidup ini tak sekedar hidup tapi hidup yang berkualitas. Hidup yang memiliki arti. Salah satu yang membedakan kebanyakan kita dengan kebanyakan warga di negara barat sana. Mereka manusia yang memiliki akal dan mereka menggunakan akalnya. Mereka tak hanya sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi, lalu bekerja, menerima gaji, menikah, memiliki anak, dan menghabiskan waktu tua dengan tabungan yang sudah mereka kumpulkan selama ini, tapi juga ketika perjalanan dari rumah ke kantor, otak mereka bekerja. Mereka memikirkan arti hidup mereka, memikirkan bagaimana seharusnya hidup mereka berjalan. Yakin bahwa hidup dengan cara yang benar lah mereka akan mendapatkan ketentraman dalam hidup. Mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya. Juga mencari kebenaran bagaimana agar ketika mereka mati nanti ada sesuatu yang berharga yang bisa orang-orang kenang darinya. Bagaimana agar dunia ingat bahwa mereka pernah hidup.

Pun ketika masa muda. Aku harap kita semua dapat melakukan semua hal yang bermanfaat untuk hidup kita. Aku harap kita bisa melalui hari-hari kita dengan hal yang berarti dan memiliki nilai. “Apa benar masa mudaku harus aku lalui dengan cara seperti ini?” Aku teringat pertanyaan tokoh Chika dalam anime Haruchika yang telah berjuang keras berlatih voli selama masa SMP hingga menjadi pemain handal lalu berganti mengikuti eskul orkestra begitu masuk SMA.

Aku harap adik-adikku mampu menemukan sesuatu yang bisa membuat mereka ‘mabuk’. Membuat mereka mengabaikan hal lain. Totalitas akan satu hal. Aku harap adik-adikku menemukan tempat mereka. Dalam momen kemerdekaan kemarin pun, adik-adikku itu mampu membuatku terhanyut dalam doaku untuk mereka. Melihat mereka menangis untuk negara. Melihat mereka berjuang di masa-masa SMA mereka ini untuk berlatih agar mampu menghantarkan sang saka merah putih kesinggasananya dengan baik. Aku bangga pada mereka. Aku ingin mereka bersyukur dengan apa yang telah mereka lalui. Hari-hari bersama teman-teman baru di karantina. Aku harap mereka tak pernah melupakan apa yang mereka rasakan saat itu. Terus dengan semangat untuk negeri. Terus dengan semangat mengabdi pada Indonesia. Totalitas membangun bangsa. Andhika Bhayangkari. Pengabdian yang tak setengah-setengah.




Setiap anak diciptakan dengan potensialnya masing-masing. Kembangkan itu. Dengan itu berkaryalah. Buat mereka selalu mengenang kalian. Buat dunia tahu siapa kalian. Dengan dedikasi lah garis hidup kalian layak untuk dibukukan.






Manusia yang baik ialah mereka yang mau belajar. Dan aku belajar dari komentar kalian.


Pesimis akan penutupan yang baik, tapi sekian dan terima kasih.










Jaya Indonesiaku!
Salam! :)V