Blogger Widgets

Senin, 25 April 2016

Hai to Gensou no Grimgar



Mungkin kurang pantas karena aku bukan pengamat anime. Tapi dari sekian banyak anime yang sudah pernah aku tonton anime ini memiliki sudut pandang yang berbeda. Entah karena jumlah episode yang sedikit atau apa, tetapi anime ini adalah anime fantasi yang tidak terlalu menfokuskan pada kisah atau informasi-informasi tentang dunia fantasinya. Pengarang tidak terlalu banyak membahas tentang goblin (makhluk fantasi dalam anime ini), atau sihir, maupun tempat-tempat asing. Karena menurutku akan banyak informasi yang muncul jika hal seperti itu dibahas lebih rinci. Seperti jenis-jenis goblin, kekurangan dan kekuatannya. Macam-macam sihir baik yang dipakai pendeta maupun penyihir sendiri, dan lain-lain. Dalam anime memang dibahas tetapi tidak serinci yang aku kira. Anime ini tidak memfokuskan pada pertarungan para tokohnya seperti halnya anime-anime action lain.

Judul : Hai to Gensou no Grimgar (灰と幻想のグリムガル)
Tipe : TV
Episode : 12
Status : Completed
Tayang : 11 Januari 2016 sampai 28 Maret 2016
Produser : Toho Company
Adaptasi : Light Novel
Genre : Action, Adventure, Drama, Fantasy

Melihat anime ini aku merasa dibawa untuk ikut memikirkan apa yang dipikirkan si tokoh utama. Kelompok mereka kehilangan sosok pemimpin yang memang memiliki sifat yang lebih dewasa dibandingkan yang lain. Sebagai gantinya tokoh utamalah yang menggantikan perannya sebagai pemimpin. Ia memikirkan banyak hal tentang apa itu pemimpin? Bagaimana seharusnya menjadi pemimpin? Bagaimana ia harus bersikap? Tak jarang ia kembali memikirkan bagaimana jika pemimpin lama mereka masih hidup, apa yang akan ia lakukan, atau lebih tepatnya, ia pasti bisa mengatasi masalah apapun itu yang ada dalam kelompok.

Bukan permasalahan menghadapi goblin, tetapi masalah kerjasama dengan anggota kelompok yang lain. Bagaimana memahami sifat dan watak teman-temannya yang berbeda-beda. Bagaimana agar ia dapat menerima anggota baru yang notabene sikapnya tak disukai baik olehnya atau oleh teman-temannya. Tapi ia harus membuat anak baru itu senang dengan kelompok barunya. Ia harus memahami sifat anak itu dan membuat teman-temannya menyukainya sehingga dapat menerimanya.

Ketika kau diserahkan untuk menjadi pemimpin dalam kelompok, padahal kau tahu kau tak bisa. Tapi ia berjuang dan seiring berjalannya waktu ia bisa memimpin dengan caranya dan membuat kelompok yang menyenangkan seperti yang diharapkan teman berharganya yang telah tiada.


Tanpa mengabaikan cerita fantasinya pengarang mampu membuat penikmat cerita merasakan arti teman seperjuangan dengan imajinasi masing-masing. Membuatku kembali mengingat rasanya menjadi pemimpin walau dalam kelompok kecil tanpa tahu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang pemimpin.

Bisa dikatakan anime fantasi kadang mendapat gambaran anime dengan cerita berat, tetapi dengan fokus yang berbeda anime ini menjadi lebih halus, lebih tenang, lebih ringan. Ringan karena kita hanya diajak merenung.



Aku memang menyayangkan pemimpin lama mereka yang telah tiada, karena aku menyukai karakternya. TAT

Meski dikatakan pemimpin karakternya tidak digambarkan sebagai seseorang yang selalu menggurui teman-temannya. Ia sosok yang pintar dan selalu dapat diandalkan dan bukan sosok yang tak pernah melakukan hal konyol sama sekali. XD

Ia yang selalu dielu-elukan ketika sang tokoh utama tak tahu bagaimana harus berbuat atau merasa sepi tanpa kehadiran teman berharga dalam kelompok kecil mereka itu. Aku pun, jika aku berada di posisi mereka, akan sangat menyakitkan. Sedih kehilangan sosok seperti pemimpin lama mereka. Dimataku ia sosok seorang kakak yang punggungnya setia terbuka lebar untuk kita jadikan sandaran.

Seperti halnya sosok yang paling kehilangan jika salah satu orang berharga telah pergi, sang tokoh utama pun yang paling terakhir menangisi kepergian teman mereka. Tangisan sesak, menyedihkan membuat penikmat cerita tahu betapa berharganya sosok dewasa itu dalam kelompok kecil si tokoh utama.



Aku rasa, anime dengan beat seperti ini akan selalu kurindukan kehadirannya. Mengupas habis semua yang dipikirkan tokoh dalam cerita meskipun itu hal kecil, atau hanya egonya saja. Lebih peka dengan lingkungan kita, lebih banyak memikirkannya, membuat kita tak akan mudah melupakan setiap detik yang kita lalui. Membuat kita mengerti apa yang kita pelajari detik ini. Membuat pelajaran itu tak hanya mampir di otak kita tetapi benar-benar terpatri, tertanam tak bisa lepas. Sekalipun detik itu adalah detik paling menyakitkan dalam hidup, tapi aku yakin, sedih, perih, sakit, kita membutuhkan itu. Tak selamanya hidup kita disinari indahnya sinar mentari pagi. Ada siang ada malam. Ada sedih ada senang.


Sekian dan terima kasih.



Jaya Indonesiaku!

Salam. :)b

Minggu, 24 April 2016

Yang Lebih Profesional dari Anggota DPR (Anak-anak SMA ditegur sopir bis Transjakarta)

Sekali lagi, belum pernah aku menulis entri seperti ini.


Minggu, 24 April 2016.

Hari itu aku melakukan perjalanan kecil dari rumah saudara kembali ke kost. Aku menggunakan moda transportasi bis Transjakarta. Dari halte Pancoran aku naik bis ke arah PGC dan turun di halte UKI lalu berganti bis ke arah Tanjung Priok. Ketika naik ada segerombolan anak laki-laki yang sepertinya seumuran anak SMA. Mereka berdiri bergerombol di dekat pintu.

Sejak masuk pun mereka sudah ribut-ribut sendiri. Sampai beberapa menit bis berjalan mereka masih mengobrol dan tertawa dengan suara yang cukup mengganggu penumpang lain. Hingga beberapa penumpang yang duduk di daerah wanita menegur walau dengan suara kecil "ssst...". Namun teguran kecil itu tak diindahkan. Mereka tetap saja berbicara, mengganggu penumpang lain.


Hingga akhirnya ketika telah melewati sebuah halte, di jalur busway yang tak macet serta tak ada masalah dengan kondisi bis tiba-tiba bis berhenti. Lebih tepatnya sang sopir menghentikan jalan busnya dan bangkit berdiri.

Dari yang aku lihat beliau berumur sekitar 40 tahun. Sopir laki-laki itu berbadan kurus dan tak terlalu pendek. Beliau berjalan mendekati gerombolan anak itu.

"Kalau kalian ga bisa tenang, turun!" begitu ujar beliau dengan nada yang langsung tinggi.
"Kalian bisa ga hormati penumpang lain?! Kalian sekolah ga si?!" Lalu anak-anak itu diam tak menjawab.
"Sekolah ga?! Diajarin ga si di sekolah?!! Ini bis, bukan metro mini!" Kira-kira begitulah yang beliau katakan. Setelah itu ia kembali duduk dan menjalankan bisnya. Di tegur keras seperti itu tak membuat mereka langsung diam. Masih terdengar sedikit suara-suara berisik dari mulut mereka. Barulah kemudian teguran halus keluar dari mulut petugas Transjakarta yang berdiri di pintu.


Tadinya aku memang terkejut dan sempat bertanya dalam hati bukankah teguran keras itu yang membuat hati atau perasaan penumpang risau dan tak tenang? Karena jujur saja aku sedikit takut jikalau sang sopir mengamuk karena kehilangan kontrol emosinya. Tapi tidak. Aku juga sepertinya menyukai tindakan beliau. Menurutku ia benar-benar loyal dan profesional dalam bekerja. Ia mengerti dan paham benar apa kewajiban dan haknya sebagai petugas Transjakarta. Walaupun kita pegawai, mempunyai atasan, kita tetap punya hak sesuai peraturan yang berlaku atau kita sebut kontrak kerja. Kita bisa saja memarahi atasan jika memang ia tak bekerja sebagaimana mestinya. Kita hidup di dunia yang penuh aturan. Semua ada aturannya, baik yang tertulis atau tidak. Setiap orang juga punya hak asasinya. Sebagai penumpang bukan hanya karena kita membayar lalu kita berhak bertindak seenaknya. Petugas memiliki kewajiban menjaga kenyamanan penumpang lain dan berhak menegur penumpang yang membuat gaduh.
Sebelumnya, ketika menegur sang sopir sempat mengatakan bahwa anaknya sepantaran dengan anak-anak pembuat gaduh itu. Pikirku, mungkin anak-anaknya dididik oleh beliau dengan disiplin tinggi.

Berbeda senior dengan junior. Mungkin karena petugas yang berada di pintu tak kunjung bertindak, sang sopir pun turun tangan. Yang senior memang terlihat bedanya.

Dengan tulisan ini aku berharap akan semakin banyak dari kita yang belajar dari orang lain. "Orang tua lebih banyak makan garam". Memang hal itu tidak pernah salah. Selalu ada saja yang bisa kita pelajari dari mereka yang terjun ke suatu bidang lebih dulu. Selalu ada yang bisa kita ambil pelajaran dari setiap detik kehidupan. Aku harap kita bisa bekerja dengan profesional. Melaksanakan kewajiban dan mengambil apa yang menjadi hak kita. Di dalam kantor sekalipun. Di jalanan sekalipun. Tak peduli apapun profesimu ketika kau bekerja dengan profesional, itu akan tetap terlihat keren dimata orang lain.

Jadi, semangatlah setiap melakukan pekerjaan kalian. Menyapu halaman, mengerjakan PR, ataupun memimpin rapat paripurna. Profesional dengan tak menghilangkan hati nurani dan rasa saling menghormati.


Semangat kerja!






Jaya Indonesiaku!

Salam. :)b

Jumat, 22 April 2016

Trisentra Pendidikan (Studium General oleh Eduwa dan BEM Universitas Negeri Jakarta)

Ini menjadi entri pertama yang aku tulis mengenai sesuatu yang bukan dengan sepenuh hati benar-benar memang aku ingin menulisnya. Kata beliau setelah kau mengikuti sebuah kegiatan, ceritakanlah, tulislah. Lalu publish. Ya, setelah aku pikir-pikir memang baik jika kita menulis. Tentang apapun itu. Tidak harus semua isi blogmu hanya tentang hal yang kau sukai saja. Lagipula dengan begini kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman. Tapi karena aku bukan tipe orang yang senang menyebut nama dan senang dengan gaya bahasa yang aku buat sendiri, maaf jika tulisan di bawah ini akan sangat membosankan untuk dibaca.






Senin, 18 April 2016 aku dan seorang temanku mengikuti sebuah studium general di kampus. Jam 12.30 yang tertera pada banner dan postingan di Facebook yang aku baca, tapi acara dimulai jam 1 siang. Mungkin karena peserta yang belum sepenuhnya datang atau karena yang lain. Dari situ aku dan temanku berbincang sedikit tentang jam karetnya orang Indonesia. Juga tentang kami yang mendapat pembiasaan baik di jurusan kami yang selalu on time karena dosen-dosen di sana adalah mereka yang tidak jarang berhubungan dengan orang Jepang pula.

Acara dibuka lalu setelah kurang dari setengah kursi di auditorium itu diduduki. Tema studium general ketika itu adalah “Trisentra Pendidikan”. Formal, informal dan non formal haruslah berkombinasi dan saling melengkapi begitulah yang mereka sampaikan sebagai pengantar. Sambutan Ketua Pelaksana, Kepala Department Pendidikan dan Peneitian BEM UNJ dan Pembantu Rektor bidang Akademik UNJ sebagai Keynote Speakers. Beliau menyampaikan banyak hal mengenai pendidikan Indonesia.

Sebagai pengantar beliau sempat menyampaikan bahwa kampus kami sedang berusaha agar dapat bersaing dengan kampus-kampus lain. Menyamakan posisi dan memantaskan diri untuk bersaing diluar. Yakni menjadi kampus berakreditasi A, yang saat ini sudah kami pegang. Dari itu sebenarnya aku sempat berpikir, apakah benar akreditasi A yang harus kami tanamkan dalam otak sebagai target? Apakah benar tidak ada masalah dengan cara-cara yang kami lakukan untuk mencapai target tersebut? Aku menyukai beliau. Apalagi beliau lulusan filsafat. Aku menyukainya. Aku juga sepandangan dengannya. Mungkin hal tadi hanya pengantar, yang tak perlu disampaikan dengan bahasa idealisme. Hanya saja aku sedikit memikirkannya. Bagaimana kalau begini, yang menjadi target kita adalah menjadi kampus yang memproduksi tenaga-tenaga kependidikan yang berkualitas. Sama halnya dengan agama. Saat di SD dulu aku diajarkan bahwa asalkan kita sholat 5 waktu, pintar, cantik, kaya raya, itu semua akan mengikuti. Begitu juga dengan ini. Jika kita berfikir tujuan kita adalah mencetak tenaga pendidik berkualitas, profesional demi pendidikan bangsa, akreditasi, penghargaan-penghargaan atau apapun itu pasti akan mengikuti. Karena dengan hati kita yang mencintai Indonesia, menginginkan pendidikan Indonesia yang maju, itu akan mendorong kita berbuat lebih, berkorban, berjuang dalam kerja kita meningkatkan semua unsur-unsur dalam kampus selaku mesin pencetak itu sendiri.

Pesan lain yang ia sampaikan yang aku rasa itu memang pantas disampaikan untukku, “banyak membaca” jangan sampai ternyata ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia tertinggal dengan negara lain. Mungkin saja ilmu kita sebenarnya sudah jadul. Mereka sudah sampai dimana kita masih berjalan pelan disini.

Selain itu, jika siswa-siswa kita dipertemukan dengan siswa-siswa Amerika dan diberi pertanya, siswa dari Amerika akan memaparkan agrumentasinya sementara siswa kita adalah pemaparan definisi. Yang menjadi pertanyaan dalam dunia pendidikan formal kita, apakah yang kita pelajari levelnya sudah setara dengan yang dipelajari mereka di luar sana? Teringat dengan obrolan mengenai RSBI beberapa waktu silam, terjadi kekeliruan dalam mengartikan RSBI. Kita mengartikannya sebagai sekolah yang menggunakan dua bahasa pengantar yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sementara sebenarnya RSBI ialah sekolah dengan level atau bobot ilmu pengetahuan yang di sampaikan setara dengan standar Internasional. Tanpa tambahan bahasa pengantar bahasa Inggris pun sepertinya tak jadi masalah, kita hanya perlu memandang bahwa sekolah RSBI mampu mendidik anak-anak yang mampu disandingkan dengan anak-anak dari negara lain. Agar ketika siswa kita keluar, apa yang sudah ia dapat di sekolah setara dengan siswa di luar negeri pada level yang sama. Melihat fenomena dimana tas anak sekolah lebih besar dari badan si anak itu sendiri juga topik yang menarik. Apa yang seharusnya disampaikan di dalam kelas adalah apa yang memang dibutuhkan agar tidak overload juga tidak kekurangan, begitu bapak pembantu rektor menyampaikan. Memberikan mata pelajaran yang memang dibutuhkan anak sekolah terutama sekolah dasar yang berbadan kecil, meskipun sedikit membuat kemampuan yang dimiliki anak tidak setengah-setengah.

Aku yang tertarik dengan pendidikan karakter sebagai kunci perubahan bangsa pun senang ketika beliau menyinggung soal itu. Beliau membahas tentang manusia yang beradab. Anda tidak beradab jika anda tidak risau kalau terlambat, Anda tidak beradab jika Anda tidak risau teman Anda tidak antri, Anda tidak risau jika anak didik Anda buang sampah sembarangan.

Dua langkah untuk mengubah dunia pendidikan kita adalah dengan memperbaiki kurikulum dan mutu guru. Kurikulum sudah jelas harus terus diperbaiki mengingat perkembangan zaman mengikuti kebutuhan manusia. Dariku sendiri aku masih setia mengharapkan system pendidikan kita fokus pada sekolah dasar, terutama kelas 1 – 3, dalam pembentukkan karakter dan mendidik manusia bermoral. Sementara dalam hal mutu guru, keynote speaker ini mengungkapkan hanya 35 persen dari 1,2 juta jumlah guru di Indonesia adalah lulusan LPTK atau Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Melihat fenomena sekarang guru sudah tidak dipandang sebagai profesi lagi, ungkap beliau. Melainkan salah satu dari berbagai jenis pekerjaan biasa. Jika seseorang tidak diterima bekerja disana sini, maka pelarian terakhir adalah guru. Padahal guru memiliki daya hancur yang besar.

Demokrasi pun menjadi bahasan yang tak terlewatkan karena pendidikan adalah salah satu korban dalam penyelenggaraan demokrasi di negri ini. Oligarki adalah istilah untuk demokrasi yang hanya ada dalam kalangan elit. Mereka mengadakan rapat paripurna membahas proyek-proyek tanpa peduli rakyatnya yang miskin semakin miskin. Dalam sebuah buku karya Farid beliau mengungkapkan demokrasi akan berkembang jika pendidikan masyarakatnya minimal SMA. Dan tingkat pendapatan per kapita 8000 USD. Mengapa minimal SMA? Karena SMA dinilai bisa berpikir kalkulatif rasional. Ketika pemilihan umum, masyarakat dengan pendidikan minimal SMA akan berpikir, jika ia memilih kandidat nomor sekian apa bagusnya. Orang yang tak mampu berpikir kalkulatif rasional ia akan memilih orang yang memberinya uang.

Dalam pendidikan kita, yang menjadi pertanyaan apakah nilai-nilai di sekolah sesuai dengan standar nilai dalam masyarakat? Ataukah nilai-nilai di sekolah dirusak masyarakat? Masyarakat memiliki kewajiban mendidik orang agar beradab. Masyarakat ada untuk membangun peradaban maka dari itu di dalam masyarakat ada education people, orang yang berpendidikan. Orang beradab adalah dia yang tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Mana yang benar dan mana yang salah.

Di Indonesia saat ini keluarga adalah institusi terusak. Dari subuh ke subuh lagi yang ada hanya sinetron. Sementara beliau sempat bercerita tentang tema yang di bahas dalam salah satu edisi sebuah majalah, bahwa di sekolah siswa-siswi Amerika tidak pernah mendapatkan nilai straight A. A didominasi oleh siswa-siswa Cina, Jepang, Korea. Mereka yang mendapatkan nilai straight A adalah anak-anak Asia. Setelah di selidiki ternyata orang tua Asia lebih peduli pendidikan anaknya di bandingkan dengan orang tua Amerika. Ketika anak pulang sekolah orang tua Asia menanyakan bagaimana sekolah mereka sementara orang tua Amerika diam seperti tidak peduli. Hingga akhirnya Amerika mendidik lagi para orang tua. Di samping itu yang menjadi pertanyaan mengapa anak-anak kita tidak kritis? Di sekolah saja anak-anak kita sudah dibiasakan dengan soal multiple choice bukan essay. Anak diminta memilih salah satu dari pilihan jawaban yang sudah disediakan dan bukannya ditanya apa pendapatnya mengenai suatu hal.

Di akhir, pembantu rektor memberi pesan, jangan mengubah sekolah menjadi lembaga kursus. Karen ajika kita mengubah sekolah menjadi lembaga kursus sesungguhnya kita sedang menghancurkan sekolah.



Pembicara kedua memasuki fokus tema yakni Trisentra Pendidikan. Sebelumnya, pembantu rektor menyampaikan bahwa istilah Trisentra adalah istilah yang dibuat oleh teman-teman BEM UNJ dimana seperti yang di sampaikan ketua pelaksana, tiga fokus pendidikan yakni formal, informal dan non formal. Pembicara kedua yang merupakan peraih penghargaan E-Learning Award Depdiknas 2008, Kepala Sekolah Berprestasi 2008 dan Guru Berprestasi 2005 menyampaikan Trisentra Pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni Alam Keluarga, Alam Perguruan dan Alam Pergerakan Pemuda. Beliau banyak bercerita dan menyampaikan pengalaman-pengalaman pribadinya membuat acara siang hari itu berjalan lancar dan audience tertarik untuk senantiasa mendengarkan. Selain itu, terutama ketika menyampaika pendidikan di alam perguruan, yakni sekolah, beliau menunjukkan kondisi dunia pendidikan terutama sekolah menengah di negeri kita. Beliau juga cukup bersenda gurau dengan bahasannya dimana bangsa kita diajarkan dari TK sampai SMA untuk berseragam. Memakai baju yang sama. Sampai wisuda pun kita memakai toga yang sama. Di dunia kerja pun kita dituntut memakai seragam yang sama. Baik itu seragam hijau-hijau ataupun biru-biru. Namun sebenarnya yang ingin disampaikan, bangsa kita tidak dibiasakan untuk tampil berbeda. Untuk tidak sama dengan yang lainnya. Diantara orang-orang ‘berseragam’ yang membuat kita berbeda adalah ide. Aku berpikir akan lebih baiknya jika kita tak pernah menahan atau menghalangi ketika anak-anak kita ingin mengungkapkan sesuatu. Apapun itu. Walau di awal itu hanyalah imajinasi anak, namun seiring berkembang ia, ilmu pengetahuan yang ia dapat mampu menjadikan imajinasi menjadi cita-cita bahkan tujuan yang pasti akan dicapainya.



Orang-orang yang berpikir seperti beliau-beliau itu aku yakin masih banyak diluar sana. Teringat dengan apa yang disampaikan salah satu pembicara dalam seminar “Indonesia Muda Bangkit”, ada empat jenis pekerjaan, PNS, Akademisi, Politikus dan Wirausaha. Jika keempat profesi tersebut dimasukkan kedalam diagram berdasarkan tingkat ‘berani’ dan ‘mampu’, yang tidak berani dan tidak mampu adalah PNS, yang mampu tetapi tidak berani adalah akademisi, yang berani tapi tidak mampu adalah politisi dan yang mampu dan berani adalah wirausaha.

Dari pemaparan itu, aku berpikir bagaimana jika akademisi-akademisi kita lebih berani. para pengamat pendidikan, mereka-mereka yang peduli dengan pendidikan Indonesia diberi kekuasaan untuk mengubah sistem pendidikan Indonesia. Karena mereka adalah orang-orang yang masih aktif terjun langsung dalam lingkungan praktik pendidikan. Mereka yang bersentuhan langsung dengan anak-anak, mahasiswa. Mereka yang setiap hari mendengar langsung kejujuran hati polos anak-anak dan idealisme mahasiswa mereka. Mereka yang aku harap mampu mengontrol diri dan berani bertindak ketika kekuasan untuk mengubah kurikulum diserahkan ke tangan mereka.

Pendidikan kita butuh perhatian lebih. Bukan hanya dari anggota DPR, namun juga dari masyarakat. Karena tanpa masyarakat semua usaha, kebijakan yang dicanangkan tak akan berpengaruh besar.



Itu yang bisa kutulis sebagai penjabaran dari apa yang aku dapat setelah mengikuti Studium General. Aku harap seminar-seminar atau kegiatan apapun itu yang aku ikuti setelah ini bisa aku tulis dan berbagi dengan kalian.

Maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan ini, Aku tak pernah bermaksud menyinggung siapapun. Aku hanya anak yang sedang berusaha menjadi lebih baik untuk lingkungan. Jadi, besar harapanku untuk mendapatkan koreksian dari kalian. Mohon bantuannya. ^_^

Terima kasih.






Jaya Indonesiaku!


Salam. :)




Kamis, 31 Maret 2016

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela (Pendidikan Membangun Bangsa)



“Saya tidak akan hilang kesabaran kalau hanya itu masalahnya.”
Mama jadi salah tingkah ketika guru itu mencondongkan badannya ke depan. “Kalau dia tidak membuat kegaduhan dengan mejanya, dia berdiri. Selama jam pelajaran!”
“Berdiri? Di mana?” tanya Mama kaget.
“Di depan jendela,” jawab guru itu ketus.
“Kenapa dia berdiri di depan jendela?” tanya Mama heran.
“Agar dia bisa memanggil pemusik jalanan!” guru itu nyaris menjerit.
Kuroyanagi, 1981: 14


Mendidik berbeda dengan mengajar. Semua orang mampu mengajarkan asalkan mempunyai ilmu pengetahuan. Tetapi tidak semua orang mampu mendidik. Karena mendidik bukan hanya soal menyampaikan materi tetapi meneruskan dan mengembangkan nilai hidup.

Secara garis besar tujuan pendidikan di sini dan di sana sama saja. Tidak berbeda. Hanya cara mencapai tujuan itulah yang berbeda. Ada cara yang efektif, ada yang tidak. Ada cara yang cepat, ada yang tidak. Ada cara yang simple, ada juga yang membutuhkan segunung properti dalam pelaksanaannya. Bermacam-macam. Sama halnya dengan setiap individu yang dalam mencapai tujuannya mereka menggunakan cara yang berbeda-beda, setiap negara pun memiliki cara yang berbeda untuk mencapai tujuan pendidikan nasionalnya. Namun apakah benar cara tersebut mampu dengan tepat mewujudkan tujuan tersebut? Atau tidak?

Pengalaman melihat-lihat langsung ke sekolah dasar di Jepang memberikan pelajaran berharga. Membaca buku ini memberikan pengetahuan berharga. Betapa tidak, hati berkata bahwa di sinilah kunci sebuah bangsa tumbuh menjadi bangsa yang besar.


Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?
Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.
Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain disana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.


Judul asli : Madogiwa no Totto-chan
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi
Negara : Japan
Genre : Sastra anak-anak, novel autobiografi
Tanggal rilis : 1981
Alih bahasa : Widya Kirana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 272 halaman
Cetakan : Ke-3, September 2003
ISBN : 979-22-0234
(Wikipedia, http://srimuliyani.blogspot.co.id/2014/08/resensi-novel-totto-chan.html)

Hari itu ia benar-benar sial. Dompet kesayangannya jatuh ke dalam kakus! Tidak ada uang di dalamnya, tapi Totto-chan sangat suka dompet itu.
Tapi totto-chan bertekad takkan menangis atau merelakan dompetnya hilang. Ia pergi ke gudang peralatan tukang kebun lalu mengeluarkan gayung kayu bertangkai panjang yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman. Ia berjalan ke belakang sekolah sambil menyeret gayung itu dan mencoba menemukan lubang untuk mengosongkan bak penampungan kotoran. Setelah susah payah mencari, akhirnya ia melihat penutup lubang berbentuk bundar kira-kira satu meter dari situ. Dengan susah payah, ia membuka penutup itu dan akhirnya menemukan lubang yang dicarinya. Totto-chan menjulurkan kepalanya ke dalam.
“Wah, ini sama besarnya dengan kolam di Kuhonbutsu!” serunya.
Kemudian Totto-chan mulai bekerja. Ia mulai mencedok isi bak penampungan kotoran itu. Totto-chan mencedoki kotoran lalu menuangkannya ke tanah di sekitar lubang.
Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.
“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan.
“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tak ingin membuang waktu.
“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaanya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu. Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Kepala sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetnya?” tanyanya.
“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.
Kepala Sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Kemudian pria itu pergi lagi, seperti sebelumnya.
“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya. Ia memandang tumpukan itu. Kalau aku sudah selesai aku bisa memasukkan semua kotoran itu kembali ke dalam bak, tapi bagaimana airnya?
Air kotor terserap cepat ke dalam tanah. Totto-chan berhenti bekerja dan mencoba memikirkan cara memasukkan air kotor kembali ke dalam bak, karena ia telah berjanji kepada Kepala Sekolah akan memasukkan semua kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan tanah yang basah.
Sekarang gundukkan itu benar-benar sudah menggunung dan bak penampungan nyaris kosong, namun dompet Totto-chan belum juga ditemukan. Mungkin tersangkut di pinggir bak atau tenggelam di dasar bak. Tapi Totto-chan tidak peduli. Ia puas karena telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari dompet itu. Kepuasan Totto-chan jelas adalah hasil rasa percaya diri yang ditanamkan Kepala Sekolah dengan mempercayainya dan tidak memarahinya. Tapi, tentu saja hal itu terlalu rumit untuk bisa dimengerti Totto-chan saat itu.
Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-chan dalam situasi seperti itu, akan bereaksi dengan berteriak, “Apa-apaan ini?” atau “Hentikan, itu berbahaya!” atau malah menawarkan bantuan.
Bayangkan, Kepala Sekolah hanya berkata, “Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai, kan?”
Sungguh Kepala Sekolah yang hebat, pikir Mama ketika mendengarkan cerita kejadian itu dari Totto-chan.
Kuroyanagi 1981: 56-59



Ini memang buku lama, dan aku menyayangkan baru membacanya sekarang. Mungkin diantara kalian sudah ada yang membaca buku ini ketika tahun 90-an sampai 2000.

Bahasa yang digunakan ringan. Aku rasa anak kecil pun mampu dengan mudah memahaminya. Tak salah jika setelah terbitnya buku ini tak ada kendala yang berarti ketika buku ini dijadikan bahan ajar di sekolah dasar di Jepang.


Sistem mendidikan anak yang digunakan di Tomoe Gakuen terbukti menjadikan bangsa mereka memiliki warga negara yang berkepribadian dan bermoral baik.

Mereka memberikan kepercayaan pada anak-anak agar anak-anak tidak merasa disepelekan dan dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak patut ikut campur urusan orang dewasa. Mereka mendengar cerita, pendapat, keluhan anak-anak. Mereka mau berbagi dengan anak-anak, bercerita tentang masalah orang lain agar si anak belajar peduli dan belajar memahami masalah orang lain. Mereka tak menekankan mana benar mana salah, membiarkan anak-anak tumbuh sesuai umur, membiarkan alam dan lingkungan mendidik mereka.

Tomoe Gakuen. Bukan sekolah yang hanya sekedar sekolah. Tomoe Gakuen menjadi sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Sekolah yang tak ingin ditinggalkan mereka. Sekolah yang selalu menumbuhkan bahagia dalam hati anak-anak. Menginginkan agar matahari cepat menyambut pagi agar mereka cepat berangkat sekolah dan menginginkan senja tak kunjung datang karena mereka tak mau berpisah dengan ‘sekolah’


Sekolah dasar di sana saat ini menerapkan bermacam-macam aktifitas dalam sekolah. Membersihkan gedung sekolah sendiri agar anak-anak menjaga kebersihan, karena mereka paham beratnya membersihkan sekolah. Mereka mengangkut makanan untuk makan siang dan bersama-sama bertanggung jawab apabila makanan itu tumpah atau tidak habis agar mereka lebih menghargai segumpal nasi. Mereka secara bergiliran membagikan makanan kepada teman-teman. Mereka membuat peraturan di sekolah sendiri.

Anak-anak butuh dihargai. Anak-anak butuh didengar. Mereka butuh belajar menghargai dan memahami masalah orang lain. Biarkan anak-anak tumbuh sesuai usianya. Biarkan rasa ingin tahunya membimbingnya. Yang harus kita lakukan hanya mengawasinya dan jangan berani menghilangkan perhatian setetespun dari pendidikan anak. Semua yang kita lakukan harus bertujuan untuk pendidikan anak bangsa.


Ada hari lain yang sangat berkesan bagi Totto-chan. Hari itu, untuk pertama kalinya ia berenang di kolam renang. Tanpa mengenakan apa-apa!
Bukankah seharusnya aku memakai baju renang kalau berenang? pikir Totto-chan. Waktu pergi ke Kamakura bersama Mama dan Papa, ia membawa baju renang, ban pelampung dan perlengkapan renang lainnya. Ia berusaha mengingat-ingat, memangnya kemarin guru mereka berpesan agar mereka membawa baju renang?
Kemudian, seakan bisa membaca pikirannya, Kepala Sekolah berkata, “Jangan pikirkan baju renang. Pergi dan lihatlah di Aula.”
Ketika Totto-chan dan anak-anak kelas satu lainnya masuk ke Aula, anak-anak yang lebih besar sedang menjerit-jerit kegirangan sambil melepas pakaian mereka, seperti kalau mau mandi. Kemudian mereka berlari keluar dengan tubuh telanjang, susul-menyusul, ke halaman sekolah. Totto-chan dan kawan-kawannya segera meniru anak-anak itu.
Orang mungkin heran mengapa Kepala Sekolah membiarkan anak-anak berenang telanjang. Menurutnya tidak wajar jika anak laki-laki dan perempuan terlalu ingin tahu tentang perbedaan tubuh mereka, sampai melebihi batas kewajaran. Menurutnya pula, tidak wajar jika ada orang yang mati-matian berusaha menyembunyikan tubuh mereka dari orang lain.
Ia ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa semua tubuh itu indah. Di antara murid-murid Tomoe, ada anak yang menderita polio, seperti Yasuaki-chan, yang badannya sangat kecil, atau yang cacat. Kepala Sekolah berpendapat jika mereka bertelanjang dan bermain bersama, rasa malu mereka akan hilang dan itu akan membantu mereka menghilangkan rasa rendah diri. Pendapatnya terbukti. Mula-mula anak-anak yang cacat merasa malu, tapi perasaan itu segera hilang, dan akhirnya mereka benar-benar berhasil menghilangkan rasa malu mereka.
Kuroyanagi 1981: 70-73


Aku bertanya pada teman yang telah membacanya semasa sekolah mereka dulu. Namun mereka berpikiran dari sudut pandang Totto-chan. Sementara jika kalian memusatkan perhatian juga pada kepala sekolah dan Tomoe Gakuen, aku yakin kalian dapat melihat betapa hebatnya jika sebuah sekolah yang hanya bermodalkan gerbong kereta bekas menjadi pengaruh pendidikan sekolah dasar yang menjadikan bangsanya menjadi bangsa besar seperti sekarang.

Betapa jauhnya perbedaan kepedulian pemerintahan kita terhadap pendidikan. Bangsa mereka dengan cepat menanyakan jumlah guru dan buku yang tersisa setelah bencana dan cekatan dalam memperbaiki sarana pendidikan. Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan dasar yang juga ikut mengawasi jalannya sistem pendidikan. 




Selalu berdoa. Semoga Allah SWT. mengampuni dosa kita semua. Senantiasa menuntun kita ke jalan yang dianugerahinya. Semoga para pemimpin diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran. Semoga Allah SWT. memberikan hidayah pada pemimpin-pemimpin bangsa.


Semoga Allah SWT. membukakan pintu hati kita semua. Agar kita lebih peduli pada lingkungan. Pada keluarga kita. Pada pendidikan anak-anak kita. Pada bangsa dan negara. Semoga setiap insan nusantara mampu menjadi agen perubahan untuk bangsa Indonesia yang lebih besar. Untuk bangsa Indonesia yang lebih sadar akan segala kekurangannya.



Tampar kami sebelum terlambat!





Jayalah Indonesiaku.

Salam.
;)V

Jumat, 01 Januari 2016

Review 2015

Ketika kubuka buku diariku untuk melihat apa yang telah aku lakukan selama satu tahun di 2015, sedikit terkejut. Karena ternyata awal tahunku di 2015 dimulai dari buku diari satu jilid sebelumnya. Ternyata banyak hal yang sudah kulalui.

Tentang Januari, aku mulai dari cerita di HIMA Bahasa Jepang. Kami melaksanakan evaluasi akhir kepengurusan secara internal di Depok. Mendapat satu pelajaran dari teman, atau lebih tepatnya dia mendapat pelajaran setelah membaca sebuah buku. “Yang orang inginkan dari kita bukanlah materi, tetapi waktu. Waktu agar kita bisa menjadi bagian dari cerita hidupnya” kira-kira seperti itulah. Dan pesan itulah yang membuat dia yang awalnya memutuskan tidak akan bergabung di evaluasi karena agenda bersama teman-temannya yang lain, akhirnya melangkahkan kaki keluar rumah bergabung bersama kami berangkat ke Depok. Sementara untuk evaluasi di Biro Kestari, mungkin Biro Kestari yang paling banyak mendapat evaluasi, tapi terima kasih untuk teman-teman HIMA yang peduli pada Kestari, peduli pada HIMA. Untuk satu tahun kepengurusan di HIMA, banyak hal telah kulalui bersama teman-teman BPH. Entahlah, tapi dengan saat ini aku menulis entri ini aku lebih merasakan perjuangan yang kemarin kami lalui. Ketua kami bahkan menangis. Akupun sadar banyak kesalahan dan mungkin kedzaliman yang aku perbuat selama mengemban amanah sebagai Kepala Biro Kestari. Rasanya sampai detik ini pun aku ingin meminta maaf kepada teman-teman atas semua perbuatan jahatku. Dan terima kasih, tidak hanya untuk teman-teman BPH, tapi juga semua pengurus HIMA 2014-2015, dosen kemahasiswaan kami, seluruh dosen jurusan bahasa Jepang termasuk dosen pembimbing akademikku, semua keluarga jurusan bahasa Jepang dari angkatan pertama sampai adik-adik kami yang paling kecil, atas dukungan, sokongan dan doa hingga akhirnya kami mampu melalui masa kepengurusan satu tahun yang merupakan amanah yang tak ringan, tanggung jawab yang sangatlah besar. Secara umum, aku dan 10 orang teman-teman BPH berharap HIMA tahun berikutnya akan jauh lebih baik dari HIMA kepengurusan kami.

Selain cerita tentang HIMA, di Januari aku memutuskan untuk belajar di Forum Bidikmisi UNJ (FBM UNJ). Setelah seleksi, wawancara, aku diberi amanah sebagai staff di Divisi Hubungan Masyarakat (HUMAS). Salah seorang senior berpesan, “jangan berpikir apa yang bisa kau dapatkan dari FBM, tetapi apa yang bisa kau berikan untuk FBM”. Di bulan itupun salah satu program kerja Divisi HUMAS dilaksanakan dan kembali berkutat dengan arsip, aku melaksanakan tugas sebagai sekretaris dalam kegiatan Sosialisasi Bidikmisi. Mengerjakan LPJ kegiatan yang ini dan yang itu sebagai akhir kesempatan belajar di HIMA sebagai kepala biro, dan proposal untuk kegiatan di FBM menjadi bukti dimulainya pembelajaran di organisasi tingkat kampus.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hujan yang mengancam Jakarta pun turun kembali di bulan Januari. Aku sempat kesal karena teman-teman kelas yang dimataku terlihat berusaha menjadikan hujan sebagai alasan agar mata kuliah hari tersebut ditiadakan. Aku memang sempat bersuara, bersyukur itu bukan awal konflik diantara kami. Sebenarnya kondisi setiap mahasiswa terkait daerah tempat tinggalnya masing-masing perlu dimengerti. Bahwa tidak semua mahasiswa bisa dengan mudah menembus banjir. Hanya saja dengan sikap yang benar ketika ingin mengutarakan kondisi pribadi bukan malah menjadi provokator untuk mahasiswa lain.



Destinasi dalam perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKL) 2015 diputuskan di bulan Februari. Biaya yang tidak semua mahasiswa mampu melunasinya dalam hitungan hari. Panitiapun terasa akan menanggung beban yang lebih berat daripada yang seharusnya karena terdengar pendapat dari banyak orang tentang panitia yang telah terbentuk. Sebagian besar panitia bukan anak yang sudah terbiasa berkutat dalam kepanitiaan suatu kegiatan. Itu menjadi alasan beberapa anak untuk berujar bahwa mereka khawatir dengan kepanitiaan KKL. Lain lagi tentang keputusan berkunjung ke Provinsi Bali yang bagiku mahasiswa mengedapan ego tanpa melihat siapa yang sebenarnya mereka turut bawa, dengan kata lain tak hanya mahasiswa, peserta KKL, yang semua masih berkepala dua, tetapi juga ada dosen yang kita tidak tahu keadaan beliau sebenarnya. Hingga akhirnya melalui diskusi panjang, suara palu terdengar dengan hasil akhir Bali sebagai tempat yang akan dikunjungi.



Lawanlah kejahatan. Jika kau mati karenanya maka kau mati syahid. Itu salah satu yang aku pelajari di bulan ketiga 2015. Rasulullah SAW. mendidik kaumnya untuk menjadi kaum pemberani. Berani membela agama. Berani membela kebaikan. Berani melawan tindak kejahatan. Berani membela hak milik. Berita tentang begal adalah berita paling hangat ketika itu. Masyarakat termasuk akupun menjadi lebih waspada ketika keluar rumah di malam hari berkat media yang tak pernah lelah memberitakannya untuk masyarakat.

Mengenai aktifitas di organisasi, bulan Maret menjadi bulan persiapan melaksanakan salah satu program Divisi HUMAS, Explore Bidikmisi. Salah satu rapat membuatku merasakan perbedaan antara bersosialisasi di dalam rumah (jurusan Bahasa Jepang) dengan di luar rumah. Perbincangan mengenai tokoh dunia menjadi salah satu topik yang belum pernah aku temui selama aku beraktifitas bersama teman-teman jurusan. Dunia ini luas. Masih banyak hal yang belum kita ketahui. Dan aku bersyukur aku memiliki teman-teman di luar rumah. Ketika itu pun aku berpikir mungkinkah aku ada di zona nyaman? Jawabannya mungkin “tidak”. Aku hanya pandai bersyukur. Hanya karena itu. selalu menyebut namaNya ketika sakit mendera sehingga sakit itu tak terasa. Indonesia punya banyak masalah. Dari mereka yang ada di atas sampai yang di bawah. Carut-marut, hanya bisa menancapkan pisau belati di hati warganya. Tetapi kenapa masih disini? Karena tidak bisa pergi kemanapun. Aku pikir itu jawabannya tetapi meskipun bisa pergi, tidak hanya aku, mungkin kalian juga akan memilih untuk tetap disini. Percayalah, karena kalian cinta Indonesia. Satu hal lagi tentang FBM. Selama menjalani persiapan kegiatan Explore Bidikmisi, satu masalah yang mungkin dimata kalian juga fatal, panitia jarang mengadakan rapat atau sekedar berkumpul karena jadwal yang tak sesuai. Aku hanya bertanya pada teman-teman pengurus, apakah kalian tahu artinya menjadi salah satu pejuang di FBM? Forum Bidikmisi berbeda dengan BEMJ. Forum Bidikmisi menaungi para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi se-universitas, yang artinya pengurusnya berasal dari seluruh fakultas yang ada di UNJ. Yang artinya jadwal kuliahnya berbeda-beda. Jika tak menyanggupi berkumpul atau rapat di akhir pekan bagaimana kepanitiaan berjalan? Di hari kerja pun kalian tak menyanggupi jam-jam sore karena kemungkinan besar rapat akan ditutup pada malam hari. Aku pikir kalian bergabung dengan FBM karena telah paham dengan konsekuensi akhir pekan yang dilalui dengan rapat.

Kalau untuk cerita menariknya ada di lapangan tembak Yoniv Mekanis 201/JY. Peserta upgrading FBM diberi kesempatan mencicipi rasanya naik panser atau mobil amfibi, menembak sasaran, yakni balon, dengan senjata laras panjang setelah diisi 3 amunisi.

Sementara dari perjalanan menyusuri dunia maya, ada beberapa hal yang aku pelajari dan aku suka. Salah satunya tulisan seorang motivator yang terkenal di Indonesia, “tidak ada kritik yang membangun”. Beras yang diberi banyak kritik akan cepat rusak dan membusuk, sementara beras yang diberi pujian atau apresiasi akan tetap putih. Kira-kira seperti itu. Dari situlah aku berpikir, mungkin ini salah satu kesalahan di HIMA 2014-2015. Kami, BPH dan anak-anak 2012, terlalu banyak mengkritik.

Satu hal lagi yang aku katakan ketika aku ada di bulan ini, “Aku tak suka wanita”. Mungkin lebih tepat kalau aku sebut ‘cewek’. Karena mereka lemah dan bodoh. “Hei! Kau pikir kau bukan salah satu dari mereka?”, mungkin kalian akan berujar seperti itu. Aku katakan aku benci bukan berarti aku kuat dan tidak bodoh.

Terakhir untuk bulan ini, “Untukmu agamamu, untukku agamaku. Islam agama yang paling benar. Dan aku percaya itu. Aku yakin agamaku terbaik, karena itu aku memilihnya, dan dengannya aku selamat”.



Di awal bulan April, salah seorang temanku mulai aku anggap rival di salah satu mata kuliah. Aku kembali memikirkan tentang, apa itu rival bagiku. Apa rival baik untukku atau justru buruk untukku? Rasanya aku ingin bertanya padamu, apa arti rival untukmu? Mengenai mata kuliah yang aku maksud, aku berpikir bahwa aku memang benar-benar pemalas terutama berkaitan dengan “membaca buku”. Ditambah lagi, aku merasa tidak mendapatkan pengetahuan dengan cara yang seharusnya, sehingga ketika ilmu disampaikan, ilmu itu hanya lewat di otakku lalu pergi.

Masih dalam masa KKL, di rapat kegiatan Praktek Kebahasaan, aku belajar agar berbicara dengan lebih tertata supaya mereka yang mendengarkan mengerti apa maksudku.

Satu event dari HIMA jurusan bahasa Jepang yang saat itu kepengurusannya dipegang mahasiswa angkatan 2013 dan 2014 adalah Speech dan Kanji Kontes. Hanya satu dua orang dari angkatan 2012 yang mengikuti kompetisi, membuat para dosen gemas dan meminta dengan tegas untuk berpartisipasi. Dan akhirnya aku mengikuti kontes pidato. Kontes dilaksanakan tanggal 12. Pidato berjudul 「母さん、お帰り!」membawaku meraih juara 1 di kompetisi itu. Dan yang mengikuti pengumuman pemenang adalah nyanyian Happy Birthday dari dosen pembimbing akademik serta teman-teman. Hadiah terbaik bisa kubilang. Tapi sepatah kata yang aku katakan saat itu adalah “Maaf, saya belum bisa jadi kakak yang baik untuk kalian”. Mulai hari itu, aku mempersiapkan diri untuk kontes pidato tingkat Jabodetabek di The Japan Foundation, Jakarta. Sebenarnya, kisah yang mengiringi kontes hari itu lebih panjang. Salah satunya, obrolan antar mahasiswa 2012 yang menganggap dosen-dosen lebih memilih mahasiswa 2013. Terlihat dari perlakuan dosen-dosen terhadap KKL berbeda dengan perlakuan dosen-dosen terhadap kontes itu. Dari 5 orang lebih yang saat itu berbincang di jam istirahat hanya aku yang tidak setuju atas anggapan itu. Perdebatan kecil pun ada, tapi aku berusaha menghindari kekeraskepalaanku dan menghindari perdebatan dengan berujar dalam hati “Mungkin mereka lelah dengan kepanitiaan KKL”. Selembar kertas dari buku agendaku yang aku coret dengan ucapan terima kasih untuk dosen, “Sensei memberi feedback. Sensei mengajariku banyak hal. Terima kasih, senseigata. Hontou ni arigatou.” dan “Aku sayang adik-adikku. Maaf ya, aku ga bisa jadi kakak yang baik. Maaf”, menyertaiku hari itu hingga sore menjelang. Dan di malam harinya, ide dari salah satu teman kostku membuatku terkejut karena ulah anak-anak kost. Terima kasih dengan kejutan paling memalukan yang pernah aku terima. Salah satu yang terlupakan mengenai kontes pidato, salah satu teman dekatku membuatku kagum dan belajar darinya. Karena dia rajin dan semangat. Dia selalu mengikuti perlombaan dan mengambil banyak kesempatan. Karena itu aku harus menang di perlombaan tingkat Jabodetabek demi bagiannya juga. Pikirku saat itu.

Dipertengahan bulan April aku sempat berbincang dengan teman terkait kepanitian KKL. Temanku ada di pihak panitia sementara aku, jika boleh aku katakan, aku bukan di pihak siapa-siapa tapi aku berani bilang aku menyalahkan panitia. Aku juga panitia, kalian tahu. Hanya karena satu hal, “Panitia tak mau mengakui kesalahannya”. Andai kata mereka mau mengakui kesalahan, aku yang memang sedari awal tak berniat bergabung menjadi panitia aktif pun akan selalu menerima apapun itu keterbatasan panitia. Yang bisa kulakukan hanya mengkaji (bertanya lebih detail agar tak salah sangka), menyampaikan pendapat, dan berdoa semoga kami diberi kekuatan hingga mata kuliah tersebut selesai.

Akhir April menjadi akhir dari rangkaian kegiatan KKL yakni berkunjung ke Bali. Dari cerita panjang selama satu pekan disana, aku hanya akan menyampaikan hal-hal yang membuatku tertarik. Tari Kecak dan Sendratari Ramayana, lalu Pentas Seni, yang diluar dugaanku, sangat berkesan. Hanya itu yang bisa aku ceritakan karena keterbatasan. Selebihnya, terima kasih teman-teman panitia. Sampai detik ini pun aku senang aku telah diberi kesempatan berkunjung ke tanah kaya akan budaya tersebut.



Bulan Mei, menjadi bulan yang penuh dengan pidato. Bukan karena aku banyak berpidato di bulan ini, tapi karena persiapan sampai pelaksanaan pidato. Pertama, aku ingin minta maaf karena mengecewakan. Aku harap menjadi pembelajaran agar lebih baik. Terima kasih sensei, yang tak pernah lelah mengajariku. Terima kasih untuk dosen-dosen yang lain. Terima kasih teman-teman atas dukungannya.



Semangatku untuk membantu mereka yang serba kekurangan dalam hal pendidikan berkobar di awal Juni setelah mengikuti seminar SM-3T. Semoga kalian pun lolos dalam seleksinya. Amin. Selain seminar, Juni dipenuhi dengan persiapan UAS dan sidang proposal skripsi adalah yang paling mengerikan untukku. Terima kasih. Lalu, micro teaching juga menjadi salah satu menu di bulan Juni. Di pertengahan, Ramadhan menyambut. Aku sudah melalui banyak Ramadhan sampai detik ini. Tapi ketika itu, rasa rindu akan bulan Ramadhan sangat terisa. Beribu terima kasih, aku dipertemukan kembali dengan RamadhanNya. Semoga tahun ini juga.



Hari raya Idul Fitri jatuh di bulan Juli. Entah bagaimana harus mengatakannya. Adikku tumbuh dengan baik. Dan semoga semakin bisa berpikir lebih dewasa. Pikiran itu muncul karena moment lebaran dimana kami berkumpul dengan keluarga besar. Pulang. Mudik. Keluarga besar. Yang artinya kau dilihat oleh mereka, apa perubahan yang ada pada dirimu. Apa yang kau bawa dari dunia luar sana. Apa yang bisa kau tunjukkan dan kau banggakan dihadapan kami. Aku harap kalian mengerti. Rasa sakit, atau mungkin lebih baik jika aku katakan yang sangat disayangkan, ketika mereka tak memberikan kalian kesempatan untuk memperlihatkan semua itu. Mereka hanya menunjukkan raut wajah yang “kenapa kau gunakan ini untuk mengambil buah di dahan pohon yang ada di atas sana, bodoh?! Kau tak mungkin bisa meraihnya!!” Dan kau hanya bisa berujar “Ini caraku” dalam hati. Itu motivasi. Untukmu dan juga untukku. Bagaimana pun kita sudah memilih “ini”. Tak bisa ditukar dengan alat lain. Dengan “ini” kita harus bisa mengambil buah yang ada di atas sana.



Di bulan Agustus, aku sudah ada di Pandeglang, Banten untuk melaksanakan tugas sebagai mahasiswa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Pengabdian Masyarakat. Menjalani satu bulan di desa itu. Akhir perjalanan tersebut bukanlah akhir, tapi awal dari pembelajaran sosialku. Semoga kalian pun bisa menjadi insan bermanfaat untuk lingkungan.



Bulan September, bulannya Praktek Kegiatan Mengajar (PKM) dan persiapan mengikuti pelatihan. Aku masih perlu belajar banyak untuk bisa menjadi guru yang baik. Sangat banyak. Dari suaraku yang kecil, kurangnya persiapan, kurangnya pemahaman tentang teknik atau cara mengajar, dan kurangnya referensi tentang metode pengajaran. Itu untuk PKM. Untuk persiapan pelatihan, pengorbanannya tidak sedikit. Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Yang jelas cerita mengenai persiapan pelatihan adalah yang paling banyak aku tulis di buku diari selama bulan September.



Salah satu temanku yang kuliahnya tertinggal menjadi alasanku berani membuang waktuku di sore hingga petang selama beberapa hari di bulan Oktober. Aku yakin dia bisa. Jadi kenapa dia tidak bisa? Itu yang menjadi pertanyaan. Aku ingin tahu caranya belajar, aku ingin aku yang memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia belajar, aku ingin mencobakan berbagai cara agar dia tak tertinggal.
Sementara dari sekolah tempatku menempuh perkuliahan PKM aku tahu dunia maya bukan hanya untuk kau berbagi status. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan seperti membuat cerita atau cerpen dan essay, dengan kata lain menjadi seorang blogger. Bisnis online, membaca berita sembari berdiskusi, menulis atau menandatangani petisi, sekolah online dan lain-lain.

Di bulan Oktober ini pula, aku mengikuti seminar. Sang pembicara berpesan bahwa seorang guru pun harus eksis. Satu kegiatan yang telah habis kau laksanakan, tulislah. Bagikan. Berilah ilmu di luar kelas. Pesan-pesan beliau memberiku semangat, meskipun pada akhirnya sekarang aku berhutang banyak tulisan pada kalian. Maafkan hambaMu ini, Ya Allah.

Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan (PKMJ) juga menjadi bagian dari bulan Oktober. Satu yang aku sayangkan adalah teman-temanku yang kurang dalam hal berkumpul dengan adik-adik panitia. Karena kecewa dengan kepanitiaan katanya. Entahlah, mungkin karena aku tak terlalu dekat dengan dua angkatan di bawah kami sehingga aku tak tahu duduk perkaranya atau karena hal lain. Selain itu, di PKMJ ini teman-teman grup musik jurusan “merilis” lagu yang mereka buat. Lagu yang kami anggap sebagai hymne HIMA bahasa Jepang.

Suatu malam di Oktober temanku bercerita tentang kekasihnya. Otakku kembali bekerja. Aku bertanya dalam hati “bagaimana jika suamimu kelak bukanlah kekasihmu yang sekarang?”. Menjalin hubungan bertahun-tahun pastilah modalnya tak sedikit, aku tahu. Pulsa untuk selalu menghubungi, waktu untuk bertemu dan bersenang-senang berdua termasuk ongkos untuk menemui sang kekasih, dan uang untuk membelikan hadiah yang dia sukai walau berates-ratus ribu rupiah pun. Teringat pesan dari seorang ustad, setelah aku membaca buku beliau, ingin rasanya aku bilang “daripada buat beli hadiah buat doi ratusan ribu, mending tu duit ente sedekahin. Setelah memberi, minta lah sama Allah jodoh yang ente pingin. Kaya gimana deh, suka-suka ente, minta aja sama Allah.” Pasti sakit jika bukan sang kekasih yang ada disamping ketika akad nikah. Subhanallah. Semoga saudara-saudaraku cepat sadar, bahwa yang kalian lakukan selama ini dengan si dia tak ada manfaatnya. Dia bukan siapa-siapamu. Ingat? Tapi dia menghabiskan waktu dan materimu. Lebih baik kau gunakan uangmu untuk sedekah dan waktumu untuk berdoa.

Dan akhirnya kakiku menginjak tanah Negeri Sakura di akhir Oktober. Sekian.



Terima kasih September. Benar-benar penuh cerita. Aku berusaha untuk menulis lebih detail tentang pelatihan guru yang aku jalani selama 45 hari di The Japan Foundation, Kansai setelah ini. Jadi kali ini aku hanya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yang ingin kusampaikan, aku semakin cinta Indonesia dan aku belajar banyak dari Jepang.



November pun aku lalui dengan banyak aktifitas yang bermanfaat.



Dan di Desember aku dan peserta pelatihan yang lain kembali ke tanah air. Kembali ke dunia nyata. Mengejar ketertinggalan, tugas, UTS susulan, UAS.











Akhir kata, terima kasih untuk dukungan kalian semua selama satu tahun penuh. Terima kasih, Allah. Terima kasihku untuk kedua orang tuaku dan adik tercintaku. Terima kasih guru-guruku. Terima kasih, teman-teman. Dan maaf.


Aku tak akan menyebutkan, semoga “di tahun 2016”, tetapi “Semoga kita selalu dalam lindunganNya. Dilancarkan dan dipermudah segala urusan. Selalu diberi petunjuk agar senantiasa berjalan dijalanNya yang lurus. Diberi hidayah. Dan semoga kita bisa menjadi insan yang lebih baik dan bermanfaat. Untuk agama, keluarga, lingkungan, Indonesia dan dunia. Amin.”




Sekian dariku. Terima kasih. Apabila ada yang tersinggung, aku mengucap maaf yang sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya. Akan lebih dihargai publik rasanya jika kalian dapat menyampaikan kekecewaan, sanggahan, keluh, kritik secara pribadi padaku. Terima kasih.







Jaya Indonesiaku!
Salam.
:)