Blogger Widgets

Jumat, 05 Juli 2013

Review Novel "An Artist of the Floating World" by Kazuo Ishiguro

Resensi

Judul: An Artist of the Floating World
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Rahma Wulandari
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2013
Tebal: 226 halaman


Sinopsis

Jika pada suatu hari yang cerah, kau mendaki jalan curam ke arah bukit dari jembatan kayu kecil yang dikenal sebagai “Jembatan Keraguan”, kau akan mendapati atap rumahku tampak di antara ujung dua pohon gingko. Bahkan, meskipun posisi rumahku tidak terlalu strategis, bangunan itu masih akan tetap mencolok dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya, dan kau akan mendapati dirimu membayangkan sekaya apa pemiliknya.

Namun, aku bukan, dan juga tidak pernah, menjadi orang kaya. Aku membeli rumah ini pada masa sebelum perang dari seorang hebat, Akira Sugimura, dengan harga murah. Tentu dengan negosiasi dan berbagai investigasi yang ditujukan keluarga Akira padaku. Mereka ingin menyerahkan rumah itu pada orang yang tepat. Dan sampai akhir perang, aku tinggal di rumah ini hanya bersama anak ketigaku, seorang wanita yang saat ini sedang bernegosiasi mengenai pernikahan. Istri dan putra pertamaku terbunuh saat perang, sementara anak keduaku telah tinggal bersama suaminya jauh dari rumahku. Karena perang pulalah, aku banyak menghabiskan waktu berdiam diri dirumah, merenovasi rumah dengan banyak kerusakannya, dan menikmati masa tuaku.

Di rumah ini aku mengenang kehidupanku saat aku masih menjadi seorang pelukis yang butuh bimbingan 
hingga sekarang menjadi seorang kakek yang sedang menjalani masa pensiunnya. Mengenang saat aku diterima di firma Tuan Takeda. Bekerja menghasilkan banyak lukisan dan mengambil banyak pelajaran kehidupan darinya. Hingga Si Kura-Kura, yang tak mampu menyesuaikan diri dengan kami yang mampu menghasilkan banyak lukisan dalam waktu singkat, membuatku pindah dan keluar dari firma itu. Kami bersama datang ke villa Tuan Mori dan melanjutkan pembelajaran mengenai seni lukis di sana. Masih kuingat suatu malam saat aku memutuskan untuk tak lagi menjadi seniman di dunia awang-awang dan pergi dengan kepercayaan dari Tuan Mori bahwa aku dapat menjalani kehidupan di luar sana.

Aku masih mengingat kolega-kolegaku di Kedai Mrs Kawakami di Migi-Hidari. Tempat kami berkumpul dan bertukar pikiran mencoba mempertahankan kedai dari sebelum perang pecah hingga akhirnya kini di atas tanah yang dulu berdiri kedai Mrs Kawakami telah berdiri kokoh gedung-gedung tinggi. Keoptimisan kami ternyata tidak mampu mempertahankan tempat investasi kami di tengah kondisi Jepang yang berusaha bangkit dari kekalahan dalam perang.

Selain itu, hal penting lainnya yang sangat kuat ada di ingatanku mengenai negosiasi pernikah putri bungsuku dengan keluarga Miyake yang gagal sesaat sebelum perang hingga negosiasi dengan keluarga Dr Saito yang berjalan lancar.

Suasana Jepang pulih dengan cepat dalam beberapa tahun ini, hatiku dipenuhi dengan kebahagiaan yang murni. Tampaknya, apapun kesalahan yang sempat diperbuat di masa lalu oleh bangsa kita, kini mendapatkan kesempatan baru untuk direlakan. Kita hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk para pemuda ini.


Amanat

“Belajar di firma Takeda,” kataku pada mereka, “telah memberikan sebuah pelajaran penting lebih awal dalam hidupku. Saat itu, memang benar kita harus menghormati seorang guru, dan mempertanyakan wewenang mereka juga sangat penting. Pengalamanku di firma Takeda mengajarkanku agar jangan pernah mengikuti arus dengan membabi buta, namun harus mempertimbangkan benar-benar ke mana arah itu mendorongku. Dan ada satu hal yang ingin kutekankan untuk kalian lakukan, terbanglah di atas semua gelombang kehidupan. Lewatilah semua pengaruh kemunduran dan yang tidak diinginkan yang telah menenggelamkan kita dan melemahkan saraf bangsa kita begitu rupa selama sepuluh, lima belas tahun terakhir ini.” (halaman 80-81)

“Judulnya: “Semangat Patriotisme”, sebuah judul yang mungkin akan membuat kau membayangkan lukisan berisi para tentara sedang berbaris atau semacamnya. Tentu saja, intisari lukisan Kuroda menekankan bahwa semangat patriotisme dimulai dari tempat yang tak terduga, dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari, di tempat kita minum-minum bersama dan teman-teman yang bergaul dengan kita. (halaman 82)


Sabtu, 09 Maret 2013

Kai the GazettE Picture Share

Minna-san, konbanwa. :)
N lagi demen banget ma gayanya Kai-nii nih.. Terutama saat di konser THE DECADE. Jadi ga apa kan kalo tebar piku doang. Hahaha

Karena besok Hari Jadi the GazettE yang ke-11, so,,
To Kai-san, I like your voice, I like your style, keep your smile, be the best leader for the GazettE.
Indonesia e kitte kudasai. Matte imasu yo.. *Datanglah ke Indonesia. Kami menunggumu* :')










My favorite picture :')


Credit picture Kai~MMHV

Senin, 31 Desember 2012

Review 2012

Minna-san, ohisashiburi desu ne. Gomennasai..

Ini malam pergantian tahun. Kalau aku bahas resolusi di sini, sepertinya sudah mainstream ya. Jadi aku tak akan bahas itu. Tapi karena aku bingung juga tentang hal yang mau aku bahas di sini, jadi random aja ya. Ii desuka? Hahahaha

Wah, ini akan jadi pertama kalinya aku bercerita tentang sesuatu yang seharusnya tidak mudah di ungkapkan pada orang lain karena bersifat pribadi. Tapi tak apa. Karena dengan aku berbagi setidaknya aku belajar untuk tak menyembunyikan dan memendam masalah ataupun perasaan mengenai apapun itu seorang diri. :)

Tahun 2012 aku awali dengan hari-hari menyenangkanku di sekolah. bersama teman-teman kelas XII-IPA 3. Kelas kami memenangkan Piala Basket Cup yang diselenggarakan OSIS SMA Negeri 5 Purwokerto. Hebatnya, putra dan putri yang meraih gelar juara I dalam pertandingan itu. Aku memang merasa nyaman dengan teman kelas terakhir masa SMAku itu. Totemo omoshiroi desu.

Di bulan Januari pertama kalinya aku melihat fans service yang dilakukan the GazettE. Hahahaha. Maklum saja ya. Aku baru mengenal the GazettE di tahun 2011. :)

Sementara di kolat sendiri. Panitia PPS Betako Merpati Putih Kolat SMA Negeri 5 Purwokerto mengadakan Kejuaraan Antar Kelas. Terbatas hanya untuk anggota MP di Kolat Smala. Piala yang di perebutkan adalah piala Juara Umum I, II, III, Pesilat Terbaik Putra dan Putri. Kalau aku tidak salah hanya itu. :)
Aku tidak turun bertanding, hanya membantu teman-teman di meja sekretariat atau apapun itu yang bisa dilakukan. :)

Kembali ke kegiatan utamaku yakni belajar. Siswa kelas XII mempersiapkan ujian praktek Seni Musik SMA 5. Guru kami mengambil nilai dari sebuah Drama Musikal yang akan kami persembahkan. Kelasku memulainya dengan membentuk Tim Kreatif. Aku, Iris, Vinda dan Toha, yang sekaligus menjadi Ketua Panitia Kelas, bekerja bersama membuat ceritanya.

Awal tahun 2012 menjadi bulan-bulan sibukku mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi Ujian Praktik, Ujian Akhir Sekolah, Ujian Nasional dan Ujian SNMPTN Tulis jika SNMPTN Undanganku tak diterima.
Berlatih soal setiap hari, tambahan jam pelajaran di sore hari setelah jam sekolah usai, sampai belajar kelompok sendiri bersama teman-teman. Evaluasi intensifikasi, Try Out dari kabupaten, Latihan Ujian Nasional, kami berjuang keras untuk masa depan. Perjuangan anak bangsa menuntut ilmu selama tiga tahun hanya dalam waktu 1 minggu. Bahkan tak ada 7 hari.
Apalagi, semua anak tak hanya memikirkan soal Ujian Nasional. Tapi juga berpikir keras dan sematang mungkin menentukan pilihan Perguruan Tinggi untuk melanjutkan study atau apapun itu jalan yang anak-anak pilih setelah lulus SMA.

Dan selama aku mempersiapkan otak untuk menghadapi Ujian Nasional, hatiku bertarung melatih mental menghadapi hari-hariku yang seperti di dalam penjara. Dikekang dan dipaksa bersabar. Aku hebat ya. Tak jatuh saat otak dan perasaan berada di puncak dalam waktu bersamaan. Sudah ya, jangan bahas itu lagi. hehehe

Sampai bulan Mei, masalah yang aku hadapi di dalam lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Setidaknya aku memikirkannya seperti itu setelah membaca buku harianku sampai bulan itu.

Hasil ujian yang seharusnya aku syukuri, tapi sebenarnya aku sangat kecewa, dan tes di beberapa tempat untuk masuk Universitas. Dari Polines Undip, STIS. dan berakhir di SNMPTN Tulis. Dan di sinilah aku terdampar sekarang. :)

Aku tahu seharusnya aku bersyukur dengan apa yang aku punya. Tapi bulan itu, semester akhirku di SMA itu, aku benar-benar merasa terpuruk. Aku bodoh dan aku benci pada diriku sendiri.
Tapi sekali lagi, aku hebat. Saat ini aku masih bisa merasakan betapa lezatnya nasi dari beras yang tumbuh di tanah ini. Aku bersyukur menjadi wanita yang tidak mudah putus asa walau aku tak bisa menyemangati dan memberi motivasi pada diriku sendiri.

Ya, begitulah setengah tahun 2012-ku. Aku di sini sekarang. Belajar Bahasa Jepang di Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Dengan beasiswa Bidik Misi yang aku peroleh, orang tuaku tak perlu membayar uang kuliah. Dan aku masih bisa makan dengan uang saku yang aku dapat. Alhamdulillah.. :)

Sorekara, aku melalui bulan-bulan yang tersisa di tahun 2012 dengan teman-teman baru di kampus. Sekolah baruku. Menyenangkan,, dan yah, kalian tahu, ada langit ada bumi, ada hitam ada putih. tapi sampai sekarang aku berhasil memberikan kesan yang baik pada setiap orang yang mengenalku di ibukota ini.

Semoga di tahun 2013 aku bisa menjadi anak yang lebih baik dalam berbagai hal baik. Aku ingin menghasilkan sesuatu yang bisa aku banggakan. :')

Ganbatte kudasai.!!!
I believe i can do it.





Jakarta, 31 Desember 2012

Sabtu, 17 November 2012

Ayo belajar! ”勉強しましょ”


Hai,hai,hai.. XDD
Belum ada 1 semester belajar bahasa Jepang tapi udah betingkah. gpp deh. XD
Mari berbacot.!! ^O^ *plak*


***



みんあさん、こんばんは。。

じゃ、何? XD
ごめんなさい。。

私はニダデス。18歳です。生年月日は1994年4月12日です。
プルワォケルトから来ました。
ジャカルタ国立大学の学生です。毎日8時から勉強します。月曜日8時から11時40分までべんきょうします。日本ぶんかとぶんぽうを勉強します。日本ぶんかはO.111でDwi先生に習います。そして、ぶんぽうはD.105で勉強します。月曜日はぶんぽうをYuni.M先生に習います。火曜日8時から14時20分まで勉強します。PIPと会話とインドネシア語を勉強します。PIPはFIPで勉強します。会話は私がYuniarsih先生に習います。インドネシア語はFISで勉強します。2時半にせんぱいと友達と勉強します。水曜日はぶんぽうとちょうかいとひょうきを勉強します。ぶんぽうは私がYuni.M先生に習います。ちょうかいはエルエル室でEky先生に習います。そして、Viana先生は私にひょうきを教えます。水曜日は8時から16時20分まで勉強します。でも、12時40分から14時20分までに勉強しません。私は友達と12時40分からひょうきを勉強します。Viana先生に習いません。がんばって下さい。木曜日8時から16時20分までPIPを勉強して、PAIを勉強して、ぶんぽうを勉強して、ちょうかいを勉強します。PAIはFISで勉強します。私は金曜日が好きです。ぶんぽうをだけ勉強しますから。9時40分にうちへ帰ります。土曜日と日曜日に大学へ行きません。大学で勉強しませんから。一人でうちで勉強します。

趣味は歌を聞くこととまんがを読むことと日記を書くことです。まんがの絵を書くができませんが、ギターとピアノを少しいができます。ガゼットがとても好きです。ガゼットは日本のグルップバンドです。私と友達はインドネシアでガゼットのコンサートへ行きたいですよ。ルキとれいたとウルハとアオイとカイに会いたいです。ガゼットの音楽はとてもすてきです。私がとても好きです。ガゼットが上手ですね。

これで終わりました。明日書きましょ。。^^


***
Ya, udah deh. itu dulu. XDD
Besok-besok lagi..
Dah.. ^__^ 

NB:Tolong koreksi ya nihongonya. :)

Selasa, 13 November 2012

Indonesia dan Jepang dalam Kebersihan


Karena ujian tertulis UTS PIP ga bisa diadain, jadi ini deh tugasnya... ^__^

***


67 tahun sudah Indonesia merdeka. Indonesia berkembang menjadi jauh lebih baik dari masa lalu di semua bidang kehidupan. Mulai dari pendidikan, sektor pembangunan, ekonomi, sosial budaya, politik, bahkan pertahanan dan keamanan. Indonesia ,yang merupakan negara bekas jajahan banyak negara, mencontoh sistem-sistem yang sudah lebih dulu digunakan bangsa lain baik di negaranya atau di Indonesia saat mereka menjajah. Seperti dalam bidang pendidikan atau sektor pembangunan dan tata kota.

Secara garis besar, Indonesia sudah belajar banyak mengenai tatanan negara dalam sektor pembangunan. Kita pun dapat melihatnya bahwa negara kita sama halnya dengan negara lain dalam hal tata kota. Namun bila diamati lebih jauh hal kecil yang membuat Indonesia berbeda dengan negara lain sangatlah jelas terlihat, yakni kebersihan. Hal itu membuat kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta sebagai ibukota negara, tak nyaman dipandang walau tak ada perbedaan yang sangat menonjol mengenai tata kotanya. Sampah yang berserakan dimana-mana serta keadaan jalanan yang kurang perbaikan membuat kota kita tak sedap dipandang mata. Bukan salah presiden, mentri lingkungan hidup, pejabat pemerintahan atau petugas kebersihan, tetapi karena seluruh masyarakat Indonesia itu sendiri. Jika kita baik dalam meniru sistem-sistem dari luar negeri, mengapa masyarakat kita tidak bisa meniru kebiasaan bangsa lain yang bersih, rapi dan selalu menjaga kebersihan lingkungannya?

Kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat-sangat rendah terutama dalam hal kebersihan. Mahasiswa yang memiliki berpendidikan tinggi saja buang sampah di dalam ruang kelasnya, apalagi masyarakat kecil yang tinggal di pinggir sungai. Seolah-olah mahasiswa tidak mengenal tempat pembuangan akhir, masyarakat kecil pun tak mengenal apa yang dinamakan tempat sampah. Hal mendasar yang menjadi penyebabnya ialah kemalasan. Kemalasan itu sendiri dikarenakan lepas dari jaman penjajahan masyarakat dilayani dan disediakan apapun yang dibutuhkan. Indonesia selalu menjadi konsumen setia produk-produk bangsa lain. Layaknya seorang anak yang dimanja sedari kecil, ia akan malas saat beranjak dewasa dan tak tahu apa yang harus dilakukan saat segalanya yang selama ini ia dapatkan dengan mudah hilang secara tiba-tiba.

Dalam sistem pembelajaran Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta dan penyelenggara pendidikan tinggi lainnya banyak pembicaraan mengenai bagaimana masyarakat Jepang dengan segala kepatuhan akan peraturan-peraturan di negara mereka termasuk menjaga kebersihan. Mahasiswa jurusan Bahasa Jepang secara tidak sadar mereka harus bersikap seperti halnya masyarakat Jepang terutama dalam berbicara dan bersikap dengan orang lain. Dari dosen sebagian besar telah terbiasa dengan kehidupan di Jepang, mahasiswa mereka berusaha menyesuaikan diri mulai dari kedisiplinan hingga kebersihan. Selalu tepat waktu seperti halnya masyarakat Jepang, dan juga menjaga kebersihan.


***


Jepang adalah negara dengan luas 378.000 km2 dan jumlah penduduk 127 juta jiwa pada tahun 2010. Dengan keadaan demikian dapat kita bayangkan seberapa padatnya negeri Sakura tersebut. Banyak yang menggambarkan Jepang dengan lingkungan yang banyak gedung dan sedikit pohon, sungai-sungai yang tercemar oleh limbah pabrik, udara yang penuh asap karena pencemaran udara, suara bising karena suara mesin. Namun semua pemikiran luar itu sangat salah, karena Jepang adalah sebuah negara yang penuh disiplin dan sangat  menghargai lingkungan hidup, sungai-sungai yang jernih, udara yang bersih, lingkungan yang tertata rapi tanpa sampah. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat di negara maju tersebut sangat berbeda dengan masyarakat kita.

Di jepang tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan, karena kedisiplinan yang luar biasa, menjadikan ketaatan terhadap aturan begitu hebat, tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebagai contoh kecil, ketika seorang perokok berjalan-jalan ditaman mereka membawa asbak dikantong mereka untuk membuang debu rokok dan puntung rokok mereka, yang didesain khusus, yang nantinya bila menemukan tempat sampah mereka akan membuangnya ke tempat sampah. Hutan-hutan di Jepang terjaga walaupun letaknya bersebelahan langsung dengan daerah padat penduduk. Aturan tentang ijin mendirikan bangunan, aturan tentang lingkungan dan hutan begitu ketat dan sangat  dipatuhi orang-orang Jepang. Di Jepang, mobil-mobil dan kendaraan yang tidak lolos uji emisi tidak diijinkan berjalan, bahkan hampir tidak ada mobil solar yang diijinkan berjalan karena tidak ada yang lolos uji emisi. Bandingkan dengan Indonesia, bagaimana Metro Mini, truk-truk yang katanya sudah lolos KIR di dinas perhubungan mengeluarkan asap tebal yang menyesakkan dada, membuat jalan jadi gelap hitam oleh polusi. Pembagian jenis sampah dan penjadwalan pembuangan sampah pun ada. Secara umum sampah dibagi menjadi 2 yaitu sampah yang bisa dibakar dan tidak bisa dibakar, tetapi ada pembagian khusus lain, misalnya sampah elektronik, sampah bahan-bahan berbahaya (korek gas, batu baterai, silet), botol plastik, gelas, botol aluminium dll. Dan pelaksanaannya begitu dipatuhi oleh masyarakat. Belum lagi penjadwalan dalam pembuangan sampah, misal hari Selasa dan Jumat untuk sampah elektroik.

Di Jepang semua serba teratur dan disiplin. Dan masyarakatnya pun, dengan kesadaran dari diri sendiri, mereka mematuhi setiap peraturan yang ada sekecil apapun peraturan tersebut. Mereka akan merasa malu bila melanggar peraturan. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang memiliki slogan “Peraturan ada untuk dilanggar”. Bagaimana kita akan mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang layak dan nyaman seperti yang kita idamkan bila kita bertindak semaunya sendiri, seperti membuang sampah di sembarang tempat. Karena pemerintahannya, yang dapat dikatakan kurang tegas bila di bandingkan pemerintahan jaman dulu, maka tidak heran jika masyarakat semakin betah dengan cara-cara praktis yang semestinya tidak dilakukan karena melanggar peraturan yang berlaku.

Di Indonesia semua kalangan pernah melanggar peraturan-peraturan kecil di masyarakat seperti peraturan membuang sampah. Dari kalangan berpendidikan hingga masyarakat kecil. Tak jarang kita temui sampah-sampah di dalam laci meja di sekolah-sekolah. Bahkan di dalam ruang kelas di sebuah universitas tak sedikit sampah yang berserakan. Hal tersebut sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswa yang berpendidikan tinggi.

Seorang mahasiswa saja seperti itu bagaimana dengan rakyat kecil? Masyarakat mengeluhkan banjir yang sering terjadi di ibukota Jakarta. Memprotes pemerintah yang dinilai kurang tanggap menangani masalah di masyarakat. Namun apa itu sepenuhnya salah pemerintah? Masyarakat yang tinggal di daerah kumuh atau didekat sungai sangat kental akan kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat juga pengelolaan sampah yang kurang baik. Itu adalah salah satu sebab kenapa Indonesia yang secara garis besar memiliki sistem pemerintahan yang tak jauh berbeda dengan negara lain terlihat sangat tidak menyenangkan dari segi keindahan kota-kotanya.

Dalam dunia pendidikan, pemerintahan sudah menyelenggarakan pendidikan karakter dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi pun ada. Di tambah dengan pendidikan karakter dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Dalam Pembelajaran Pendidikan Bahasa Jepang contohnya, seorang mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan dosen-dosennya. Para dosen dalam pembelajaran bahasa Jepang sebagian besar adalah mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan orang-orang Jepang yang mayoritas memiliki karakter yang sudah terbentuk dan memiliki kebiasaan baik. Dengan demikian, mahasiswa harus disiplin waktu dan menaati aturan yang berlaku selama menuntut ilmu dengan para pengajar tersebut. Waktu yang tak sebentar akan mendukung terbentuknya karakter dan kebiasaan disiplin serta menaati peraturan.

Di sekolah-sekolah pun tak berbeda. Pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan di selenggarakan. Namun tanpa adanya kebiasaan melakukannya karakter seseorang akan sangat sulit terbentuk. Peserta didik sekarang masih menganggap remeh pendidikan karakter tersebut. Seharusnya para pengajar tidak hanya mengajarkan teori tentang pembentukan karakter saja. Bahkan dengan praktik tak sedikit siswa yang melaksanakannya karena perintah bukan karena kesadaran diri sendiri. Pembentukkan karakter akan lebih mudah ditangkap oleh siswa jika kita memberikan waktu pada siswa tersebut untuk berpikir. Berbicara dan berbincang dengan siswa tentang karakter bangsa dan membandingkannya dengan negara lain dipastikan, akan lebih mudah ditangkap. Interaktif dengan siswa dan mengajak siswa untuk berpikir bagaimana karakter dibentuk, apa yang harus mereka lakukan menghadapi suatu situasi, bagaimana mereka harus bertindak, apa kebiasaan-kebiasaan baik yang seharusnya mereka terapkan. Tanyakan pada siswa itu sendiri bagaimana dan apa saja kebiasaan-kebiasaan itu dengan sedikit demi sedikit menuntun mereka kearah yang benar. Siswa akan lebih terbiasa berpikir dan spontan menghadapi suatu permasalahan. Sehingga di kemudian hari Indonesia memiliki penerus bangsa yang dapat berpikir kritis, kreatif, serta tidak selalu menggantungkan hidupnya pada bangsa lain.


***


Masalah yang timbul di dunia ini bukan salah siapapun selain manusia itu sendiri. Jadi jika kita hendak menyalahkan orang lain akan lebih baik jika kita melihat diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika kita merasa sudah benar, tegurlah orang-orang yang masih setia dengan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka terhadap lingkungan, namun jika kita sama dengan mereka perbaiki diri, buang kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Mengubah kebiasaan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apalagi kebiasaan semua masyarakat Indonesia. Namun dari diri sendiri dengan niat yang tulus karena mendambakan lingkungan tempat tinggal yang bersih dan indah akan membuka mata banyak orang dengan niat yang sama.


Kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat-sangat rendah terutama dalam hal kebersihan. Hal mendasar yang menjadi penyebabnya ialah kemalasan. Kemalasan itu sendiri dikarenakan lepas dari jaman penjajahan masyarakat dilayani dan disediakan apapun yang dibutuhkan. Indonesia selalu menjadi konsumen setia produk-produk bangsa lain.

Kita dapat melihat bahwa negara kita sama halnya dengan negara lain dalam hal tata kota. Namun bila diamati lebih jauh hal kecil yang membuat Indonesia berbeda dengan negara lain sangatlah jelas terlihat, yakni kebersihan. Hal itu membuat kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta sebagai ibukota negara, tak nyaman dipandang walau tak ada perbedaan yang sangat menonjol mengenai tata kotanya. Sampah yang berserakan dimana-mana serta keadaan jalanan yang kurang perbaikan membuat kota kita tak sedap dipandang mata.

Di Jepang semua serba teratur dan disiplin. Dan masyarakatnya pun, dengan kesadaran dari diri sendiri, mereka mematuhi setiap peraturan yang ada sekecil apapun peraturan tersebut. Mereka akan merasa malu bila melanggar peraturan. Bandingkan dengan masyarakat Indonesia yang memiliki slogan “Peraturan ada untuk dilanggar”. Di Indonesia semua kalangan pernah melanggar peraturan-peraturan kecil di masyarakat seperti peraturan membuang sampah. Dari kalangan berpendidikan hingga masyarakat kecil. Tak jarang kita temui sampah-sampah di dalam laci meja di sekolah-sekolah. Bahkan di dalam ruang kelas di sebuah universitas tak sedikit sampah yang berserakan. Hal tersebut sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswa yang berpendidikan tinggi.

Keharusan seorang mahasiswa menyesuaikan diri dengan dosen-dosen mereka yang sebagian besar sudah terbiasa dengan kehidupan orang-orang Jepang yang mayoritas memiliki karakter yang sudah terbentuk dan memiliki kebiasaan baik, mendukung terbentuknya karakter mahasiswa yang disiplin waktu dan menaati aturan yang berlaku.



***



Sedikit ko.. :p
Sisany unek-unek sendiri. XD