Blogger Widgets

Jumat, 05 September 2014

Jiyuu Matsuri 2014, "日イ In Wonderland" (bagian pertama)



Tau Jimat UNJ? Ada yang tau, ada yang engga. Sebagian besar pecinta jejepangan domisili Jabodetabek pasti tau..

Jiyuu Matsuri UNJ atau yang lebih dikenal Jimat UNJ, adalah festival kebudayaan Indonesia - Jepang. Acara ini meliputi seminar, workshop, lomba akademik SMA dan se-derajat, lomba umum, dan banyak demo kebudayaan. Acara ini di selenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta. Dan lagi acara ini diselenggarakan setiap tahun dong... Dan untuk tahun ini Jiyuu Matsuri mengusung tema "日イ In Wonderland" yang artinya Jepang dan Indonesia dalam Dunia Fantasi.. Yeeeee... \(^O^)/
Waduuuuh, kebayang ga si serunya nanti bakal kaya gimana... ><)8

Nah, pasti minna-san penasaran kan,, emang kapan si?, dimana? ..
Ok.. ok..
Jadiii,, Jiyuu Matsuri ini akan di selenggarakan tanggal 1-2 November 2014 bertempat di Kampus A Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun Muka, Jakarta Timur.

Pingin tau juga dong,, acara lomba-lomba yang seabreg itu ada apaan aja???. Ups, tapi sekarang saya mau kasih tau Pra Eventnya dulu nih..
Yup,, Jiyuu Matsuri pun ada Pra Eventnya. Yakni Kompetisi Band, Dance Cover, Karaoke, dan Jingle.

Ini dia posternya...


Ayoooo,,,, yang punya band..... Bisa bikin jingle..... Suka ngdance.... Punya suara bagus.... Ikutaaaaaaaaaaan... ><)8
Mumpung belum ditutup pendaftarannya.. ;)b

Hm,, kalo saya si mimpi bisa bikin jingle sendiri.. Tehee.. ;PV
Kalo kamu gimana?? XD


Ya udah deh,, kalo mau tau info lebih lanjut bisa langsung dibuka aja blog Jimat-nya...


Jya, sampe ketemu dengan kabar selanjutnya mengenai Jiyuu Matsuri UNJ. Mata ne.. >__0)V

Kamis, 12 Juni 2014

Mendidik Kebiasaan Baik untuk Lingkungan

Sampah menjadi penyebab banyak permasalahan di lingkungan, salah satunya banjir. Bencana yang identic dengan Ibukota Jakarta. Setiap tahun dalam dua tahun terakhir sebagian besar wilayah di Ibukota Jakarta terendam banjir saat musim penghujan tiba. Sampah yang menumpuk dan warga yang membuang sampah sembarang ke sungai merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir. Sistem perairan yang tersumbat dan sungai yang semakin lama semakin dangkal. Kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi masalah kecil yang merugikan berjuta-juta masyarakat Indonesia. Kebiasaan buruk tersebut bukan permasalahan bagi segelintir orang saja. Kebiasaan buruk lahir dan hampir mendarah daging pada diri seseorang dikarenakan kebiasaan yang tumbuh sedari kecil. Tak hanya kebiasaan baik, banyak masyarakat yang memiliki kebiasaan buruk karena pendidikannya sejak kecil.

Membuang sampah pada tempatnya serta menjaga kebersihan lingkungan memang terdengar mudah. Namun jika itu bukan merupakan kebiasaan yang ada pada diri sendiri akan menjadi beban yang berat. Oleh karena itu, langkah awal yang seharusnya dilakukan adalah menanamkan kebiasaan baik sejak dini. Pendidikan karakter dan budi pekerti sebenarnya telah ada sejak dulu dalam sistem pendidikan di Indonesia. Hanya saja, Indonesia terus-menerus menguatkan teori tanpa adanya praktek. Mengintip sistem pendidikan di Negri Sakura, anak usia SD kelas 1 hingga 3 tak dibebani dengan pelajaran dan tas yang berat berisi bermacam-macam buku teks, tetapi mereka di bentuk kebiasaan, kepribadian, dan moralnya. Menjaga kebersihan kelas dan sekolah mereka sendiri, dengan usaha dari pendidik agar siswa mereka menanamkan pada otak dan hati mereka bahwa kelas dan sekolah tersebut adalah milik mereka. Barang kepunyaan sendiri sudah semestinya untuk kita jaga kondisi dan kebersihannya. Seperti itulah pemikir-pemikir Jepang menanamkan kebiasaan baik pada anak. Dari kelas 1 SD hingga 3 SD bukan waktu yang singkat memang. Namun berkat itulah kebiasaan baik membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan mampu mendarah daging pada semua warga negara Jepang. Selain itu, guru dalam jenjang pendidikan ini bukan hanya bertindak sebagai orang yang menyuruh siswanya membersihkan dan menjaga kebersihan kelas serta sekolahnya. Guru juga berperan sebagai tauladan atau panutan. Dengan kata lain, guru ikut melakukan hal-hal yang siswa-siswanya lakukan. Atau dapat kita katakan guru yang pertama akan melakukan disusul siswa-siswanya yang tentu disertai ajakan sang guru agar siswa-siswa berminat untuk ikut serta. Selain itu, ajakan merupakan hal yang sangat mudah dipahami ketika kita diharuskan memasuki dunia peserta didik agar peserta didik tersebut mudah kita bawa ke dunia pendidik.

Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun enggan membuang sampah sembarangan ataupun melanggar rambu lalu lintas di jalan bukan karena orang lain atau polisi melihat mereka. Alasan satu-satunya hanyalah anak-anak. Orang dewasa enggan melakukannya karena anak-anak akan melihat mereka. Bagi negara yang warganya menganggap pendidikan anak sangatlah penting, mudah saja mencari alasan mengapa mereka menghindari kebiasaan buruk sebisa mungkin. Karena negara pulalah mereka enggan melakukannya. Karena saat anak-anak melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan, anak-anak akan mencontohnya dan akan menumbuhkan kebiasaan buruk dibenak mereka. Anak yang tumbuh dengan kebiasaan buruk adalah cerminan negara mereka di masa depan. Mudah mungkin sepertinya untuk diterapkan pada anak-anak karena akan sulit mengubah sifat dan kebiasaan pada orang dewasa yang sudah bertahun-tahun hidup dengan kebiasaan yang entah baik atau tidak. Namun dengan adanya penyadaran dari orang lain, setidaknya akan timbul niat kita untuk membuang kebiasaan buruk dan mencoba melatih kebiasaan baik.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Individualisme seakan mulai merebak dimasyarakat. Hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan tak pernah sesekali melihat lingkungannya. Tak pernah memperdulikan anak-anak dan masa depan bangsa. Tak pernah mau menyadari bahwa masa depan bangsa berada di tangan diri kita sendiri. Masyarakat Indonesia tidak akan memikirkan bagaimana pandangan dan pendapat anak-anak saat melihat mereka membuang sampah sembarangan ataupun merusak lingkungan. Masyarakat Indonesia tak pernah memikirkan hal sekecil itu. Hal kecil yang dapat berdampak besar pada masa depan Bangsa Indonesia.

Sifat individualisme masyarakat Indonesia tak lepas dari sifat konsumtif yang sudah berlebih. Masyarakat Indonesia sudah dimanjakan dengan segala fasilitas yang ada yang didatangkan dari luar negri. Konsumtif yang berujung pemborosan, mengkonsumsi produk luar negri tanpa mau melirik sedikit pun produk dalam negri juga produk-produk anak bangsa sendiri, akan menjadi penghancur masa depan bangsa jika tidak ada kesadaran diri. Mungkin masyarakat kalangan atas berpikir bahwa kepandaian dan kesuksesan mereka layak dihargai dengan produk-produk branded tersebut. Namun tidak adanya kesadaran diri mereka bahwa mereka sedang di jajah bangsa asing sedikit demi sedikit adalah kebodohan yang paling fatal. Sesuatu yang berlebihan memang selalu berdampak negatif. Begitupun dengan sifat konsumtif masyarakat Indonesia yang menimbulkan individualisme yang pada akhirnya tak ada satupun masyarakat Indonesia yang sadar bahwa masa depan bangsanya berada ditangannya sendiri. Tak akan pernah timbul kesadaran bahwa lingkungan membutuhkan perhatian semua lapisan masyarakat agar lingkungan tak enggan dengan masyarakat Indonesia dan akan terus memberikan tempat aman, rasa nyaman untuk kita tinggali.

Dalam pengelolaan sampah pun sebenarnya pengetahuan masyarakat masih kurang. Sejak dulu penggolongan sampah agar mudah di olah tak diterapkan dan kebanyakan masyarakat tak peduli dengan penggolongan dan pengolahan sampah. Padahal banyak negara telah menerapkan sistem tersebut secara menyeluruh dan yang menjadi pembeda dengan Indonesia, sistem tersebut berjalan karena adanya pengetahuan masyarakat tentang penggolongan sampah, seperti sampah organic, nonorganic, basah maupun kering.

Pengetahuan memang hal yang berharga tapi tanpa adanya penerapan semua pengetahuan di dunia ini akan sia-sia. Ilmu pengetahuan tidak hanya sebatas hal yang perlu diingat, dimengerti tetapi juga harus diterapkan dan dimanfaatkan untuk membuat hidup manusia lebih baik. Begitupun dengan masyarakat Indonesia. Tidak hanya sebagai bahan ajar, ilmu pengetahuan sekecil apapun itu harus diterapkan karena tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak bermanfaat untuk manusia. Begitu juga dengan ilmu dalam mendidik, membentuk pribadi yang baik pada anak, dan mendarahdagingkan kebiasaan baik pada anak, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan pada khususnya.

Pintar tanpa adanya kebiasaan, kepribadian dan moral yang baik adalah hal yang sia-sia. Tak peduli seberapa bodoh dalam pelajaran, asalkan kita memiliki kebiasaan baik, pribadi yang baik, sikap dan moral yang baik pula. Dengan kebiasaan baik, kita akan menjadi manusia yang lebih bermanfaat di masyarakat juga demi lingkungan.

Selasa, 31 Desember 2013

Review 2013

Bulan Februari menjadi awal aku menjalani Semester II-ku di Jurusan Bahasa Jepang Universitas Negeri Jakarta. Dengan IP 3,62 aku belajar bersama teman-temanku di kelas A. Menantang, tapi aku senang. Semoga dengan berada dikelas ini aku bisa seperti teman-temanku ini yang kemampuan Bahasa Jepangnya diatas rata-rata mahasiswa tahun pertama. Dalam hal hobi aku mulai belajar banyak hal salah satunya menulis fanfiction. Kalian bisa baca karya-karyaku jika kalian berkenan. Walau bukan penulis professional tapi aku senang dapat mengungkapkan isi otakku dan yang pasti berkarya. Aku juga di beri kepercayaan oleh temanku di dunia maya untuk menjadi salah satu di admin di fan pagesnya. Danpada tanggal 23, keponakanku Rafi merayakan ulang tahunnya yang ke 4.

Di bulan ketiga aku mendaftar menjadi staff Biro Kestari HIMA Bahasa Jepang. Sementara itu, saudaraku datang dari Kalimantan Tengah untuk liburan di Jakarta. Dan dalam kuliahku, di bulan Maret pertama kalinya aku mengobrol dengan orang Jepang. Walau tak terlalu banyak berbicara ini memberi kesan yang,, sejujurnya tak terlalu istimewa untukku, tapi aku menghargainya. Sampai bulan ini pun aku berusaha berlatih menulis buku harian dalam bahasa Jepang. Satu hal lagi yang berkesan untukku bulan Maret lalu, aku merasakan dekat dengan seorang teman di dunia maya. Ia perhatian dan baik padaku. Mungkin ia bisa mendengarkan ceritaku, pikirku saat itu.

Di bulan berikutnya, kalian tahu sahabatku berulang tahun. Sebelumnya aku sudah membuat blog pribadi untuk kami berempat. Hanya saja sampai sekarang pun hanya aku yang mengisi entri di blog itu. Suatu hari nanti akan kuajak mereka lagi. Dan seminggu setelah ulang tahun fitri,,,, yup. Itu hari ulang tahunku. Aku memang tak terlalu menganggapnya istimewa, entah kenapa. Tapi tahun ini aku mendapatkan hadiah special dari temanku. (Kalian bisa lihat di entriku. //_\\)

Sebuah program kerja dari Forum Bidik Misi yaitu Kampung Bidik Misi Jilid 3 diadakan pada bulan Mei. Menyenangkan, tak terlalu banyak materi karena kami melaksanakan kegiatan di Bumi Perkemahan Cibubur. Kami dibagi dalam ‘keluarga’ yang selanjutnya kami mengatur sendiri keluarga masing-masing.

Hari Raya Idul Fitri jatuh pada bulan Agustus tahun 2013 ini. Dan aku berlebaran ceria dengan keluarga di kampung halaman Purwokerto. Awalnya aku dan Rani, teman dunia mayaku berencana bertemu di Cilacap, tapi ia tak bisa mudik ke Cilacap tahun ini. Kemudian, bulan Agustus menjadi berkesan saat aku merenungkan arti Indonesia untukku. Entahlah, tapi aku benar-benar sayang Indonesia. ^^

Semester III dimulai bulan September. Dan dibulan ini aku sudah menjadi ‘anak kost’ dengan mata kuliah di semester III yang semakin banyak. Di semester ini mahasiswa tahun ke-2 mendapat pengajaran di Mata Kuliah Berbicara langsung dari orang Jepang yang merupakan dosen tidak tetap di jurusan kami. Sebagai hiburan aku dan teman-teman datang ke Jak-Japan Matsuri yang digelar di Monas. Lumayan menyenangkan, tapi tak sepenuhnya berkesan.

Lanjut ke bulan Oktober, HIMA Jurusan Bahasa Jepang mengadakan PKMJ yang di jurusan kami bernama LTJD. Aku menjadi panitia acara di kegiatan yang merupakan program Dikti ini. Memang, aku terlambat mendaftar menjadi panitia. Pada awalnya aku tak berminat menjadi panitia karena malas pergi jauh, menginap, yang mengharuskan membawa banyak barang. Tapi pada akhirnya, aku mendaftar dan diterima. Aku bersyukur karena pada akhirnya aku memilih menjadi panitia. Aku merasakan sepenuhnya keikhlasan dari hati melaksanakan kegiatan itu. LTJD bak pembukaan untukku. Pembukaan pembelajaranku. Aku belajar banyak hal semenjak LTJD itu. Walau sebenarnya aku tak merasakan ikatan yang kuat antar panitia, tapi perasaanku yang melaksanakan LTJD sepenuh hati hanya untuk adik-adikku mampu menutupi itu. Aku tak benar-benar menutupnya, aku menyimpan itu untuk aku selesaikan. Ketua haruslah mampu mengayomi anak buahnya karena ia sebagai payung dan menjadi magnet bagi anggota-anggotanya. Kesan itulah yang tak aku dapatkan. Aku tak merasakan kesungguguhan dan keseriusan panitia LTJD di kepanitiaan itu sendiri. Konyol? Memang. Entah kenapa, aku tak merasakan itu. Padahal di rapat terakhir sebelum hari h saja, hatiku tergerak. Syukur aku bisa menahannya. Aku menyayangi adik-adikku walau aku tak memahami mereka satu per satu. Tapi aku menyayangkan, saat kita tak sungguh-sungguh mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Dari ketidaksungguhan itu, mudah bagi masalah menghampiri kita. Pasca LTJD, hatiku sempat terusik dan tak tenang. Tak ada yang menyadari mungkin, aku menutupinya dengan sedikit bercerita itu pun hanya pada orang-orang tertentu. Aku berusaha memecahkannya sendiri. Karena dari dulu, itulah aku. Aku belajar memahami diriku sendiri. Belajar yang benar-benar belajar. Aku tahu arti, maksud, tujuan dari belajarku itu. Dan saat aku mendapatkan kesimpulannya itu benar-benar tertanam di otakku, aku sangat merasakannya. Aku mencari tahu apa sifat burukku,, dan hal yang tersulit adalah mengetahui apa yang kita tidak tahu. Aku belajar memperhatikan lingkungan, orang-orang sekitar dan pribadinya, aku juga belajar berbicara, berusaha kritis seperti aku yang biasanya.

UTS semester 099 di adakan sekitar bulan November. Aku tak terlampau yakin hasilnya akan mencapai target. T_T Saat itu aku merasa kurang semangat dalam belajar. Proker terbesar HIMA Jurusan Bahasa Jepang diadakan di bulan ini. Tepatnya tanggal 16-17 November. Aku mendaftar menjadi anggota sie kesehatan di acara Jiyuu Matsuri 2013 ini. Dan disini lahanku mengambil ilmu. Banyak? Banget! Aku belajar tentang attitude. Aku belajar menjaga perasaan orang lain. Aku belajar menjalin hubungan baik dengan orang lain. Belajar mengerti orang lain, belajar menerima kritik dan saran, belajar mencari solusi setiap masalah, dan belajar bagaimana membuat orang disekeliling kita merasa nyaman dengan kita. Aku belajar dari pengalaman dan itu memang sangat berharga. Aku merasakan kerasnya itu. Saat pengalaman tak hanya mendidik dan mengajari kita dengan satu bantang lidi tapi 1000 batang lidi yang dijadikan satu. Sakit? Pasti. Tapi dari situ aku belajar menjadi aku yang lebih baik lagi. Persiapan yang lebih awal adalah kunci guna menjadikan event keluarga Nihongogakka tahun depan lebih baik lagi. Belajar dari pengalaman tahun ini yang benar-benar memberikan banyak pengalaman dan benar-benar membuka mata kita untuk belajar banyak hal. Semuanya. Tak lagi 1 atau 2. Di luar sana pun masih banyak yang harus kita pelajari. Dan di akhir November, mahasiswa Nihongogakka yang mengikuti Mata Kuliah Ilmu Alamiah Dasar melaksanakan Outing Class ke Taman Mini Indonesia Indah. Menarik dan banyak ilmu pengetahuan. Menyenangkan ada di sana. Selepasnya aku dan beberapa anak Nihongogakka menyaksikan Hyper Wave Festival oleh Honda dengan bintang tamu Vamps. Sama seperti Jak-Japan Matsuri, lumayan menyenangkan, tak terlampau berkesan, dan melelahkan. XP

Sampai pada penghujung tahun, bulan Desember. Pemilu UNJ di selenggarakan. Mulai dari Pemilihan Ketua BEM Jurusan, BEM Fakultas, BEM Universitas hingga Rektor. Melihat kandidat-kandidat ketua HIMA Bahasa Jepang, aku teringat bahwa pembelajaranku masih berlanjut. Terus hingga aku benar-benar mendapatkan jawabannya dan beralih ke materi selanjutnya, takkan pernah berhenti. Setiap individu memang memiliki sifat yang berbeda, tapi untuk menjadi seorang pemimpin selain ia harus jujur, amanah, cerdas dan dapat dipercaya, ia tak boleh keras kepala. Dan pemimpin bagiku, ia adalah orang yang dingin diantara yang paling dingin. Sebenarnya, aku sangat merindukkan sosok pemimpin yang mengayomi dan mampu membuatku nyaman di HIMA. Aku menetapkan pilihanku dan tanggal 20 Desember penghitungan suara untuk Pemilihan Ketua HIMA. Setelah itu forum JIMAT 2014 diadakan lagi. 27 Desember aku menyampaikan apa yang selama ini kupikirkan pada dosen pembimbing akademikku. Terlampau terbawa perasaan menurut orang lain. Sebenarnya menurutku juga. Hanya saja aku mengerti. Itulah aku. Terus berlanjut dan proses belajar itu takkan pernah berhenti. Dari situ aku mempunyai tanggung jawab pada diriku sendiri. Aku harus mulai berlatih berbicara, merangkai setiap kata yang akan kuucapkan dan mengubah pertanyaan ‘kenapa?’ menjadi ‘bagaimana?’. Ujian Akhir Semester dilaksanakan sejak tanggal 19 Desember. Masih merasakan seperti saat UTS. -_-  Dan hari ini, UAS berakhir. Aku senang dengan kegiatanku sampai hari ini. Aku benar-benar belajar dari pengalaman. Sebagai penutup,, aku merindukan Kolat Smala.. T_T

Pesan :

Lakukan semuanya dengan hati. Aku yakin apapun hasilnya nanti kau akan merasa puas dengan itu. Dan saat kau melakukan dengan sungguh-sungguh, maka kau akan sangat terkesan dan arti dari semua yang kau lakukan akan kau dapakan seutuhnya.

Memang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tapi jangan pernah menyesal jika kau ditampar oleh pengalaman.

Jangan pernah takut mengambil resiko. Karena dari situ kau akan belajar banyak hal dan menjadi lebih baik. Selama itu baik kenapa tak kau coba untuk melakukannya?

Kau tak pernah salah. Kau salah hanya saat kau mengatakan “Aku tidak salah.”

Jangan meninggalkan masalah yang belum terpecahkan. Saat kau meninggalkannya kau akan merasa masalah itu sudah tak ada, tapi tanpa kau sadari masalah itu menumpuk di belakangmu tanpa ada yang terselesaikan satupun.

Hadapi masalahmu dan selesaikan. Dari situ kau belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Paksa! Coba! Pasti bisa!

Sampaikan! Belajar memahami orang lain! Ingat, kau selalu katakan bahwa kau menyayangi mereka semua!




Jakarta, 31 Desember 2013






Jumat, 05 Juli 2013

Review Novel "An Artist of the Floating World" by Kazuo Ishiguro

Resensi

Judul: An Artist of the Floating World
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Rahma Wulandari
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2013
Tebal: 226 halaman


Sinopsis

Jika pada suatu hari yang cerah, kau mendaki jalan curam ke arah bukit dari jembatan kayu kecil yang dikenal sebagai “Jembatan Keraguan”, kau akan mendapati atap rumahku tampak di antara ujung dua pohon gingko. Bahkan, meskipun posisi rumahku tidak terlalu strategis, bangunan itu masih akan tetap mencolok dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya, dan kau akan mendapati dirimu membayangkan sekaya apa pemiliknya.

Namun, aku bukan, dan juga tidak pernah, menjadi orang kaya. Aku membeli rumah ini pada masa sebelum perang dari seorang hebat, Akira Sugimura, dengan harga murah. Tentu dengan negosiasi dan berbagai investigasi yang ditujukan keluarga Akira padaku. Mereka ingin menyerahkan rumah itu pada orang yang tepat. Dan sampai akhir perang, aku tinggal di rumah ini hanya bersama anak ketigaku, seorang wanita yang saat ini sedang bernegosiasi mengenai pernikahan. Istri dan putra pertamaku terbunuh saat perang, sementara anak keduaku telah tinggal bersama suaminya jauh dari rumahku. Karena perang pulalah, aku banyak menghabiskan waktu berdiam diri dirumah, merenovasi rumah dengan banyak kerusakannya, dan menikmati masa tuaku.

Di rumah ini aku mengenang kehidupanku saat aku masih menjadi seorang pelukis yang butuh bimbingan 
hingga sekarang menjadi seorang kakek yang sedang menjalani masa pensiunnya. Mengenang saat aku diterima di firma Tuan Takeda. Bekerja menghasilkan banyak lukisan dan mengambil banyak pelajaran kehidupan darinya. Hingga Si Kura-Kura, yang tak mampu menyesuaikan diri dengan kami yang mampu menghasilkan banyak lukisan dalam waktu singkat, membuatku pindah dan keluar dari firma itu. Kami bersama datang ke villa Tuan Mori dan melanjutkan pembelajaran mengenai seni lukis di sana. Masih kuingat suatu malam saat aku memutuskan untuk tak lagi menjadi seniman di dunia awang-awang dan pergi dengan kepercayaan dari Tuan Mori bahwa aku dapat menjalani kehidupan di luar sana.

Aku masih mengingat kolega-kolegaku di Kedai Mrs Kawakami di Migi-Hidari. Tempat kami berkumpul dan bertukar pikiran mencoba mempertahankan kedai dari sebelum perang pecah hingga akhirnya kini di atas tanah yang dulu berdiri kedai Mrs Kawakami telah berdiri kokoh gedung-gedung tinggi. Keoptimisan kami ternyata tidak mampu mempertahankan tempat investasi kami di tengah kondisi Jepang yang berusaha bangkit dari kekalahan dalam perang.

Selain itu, hal penting lainnya yang sangat kuat ada di ingatanku mengenai negosiasi pernikah putri bungsuku dengan keluarga Miyake yang gagal sesaat sebelum perang hingga negosiasi dengan keluarga Dr Saito yang berjalan lancar.

Suasana Jepang pulih dengan cepat dalam beberapa tahun ini, hatiku dipenuhi dengan kebahagiaan yang murni. Tampaknya, apapun kesalahan yang sempat diperbuat di masa lalu oleh bangsa kita, kini mendapatkan kesempatan baru untuk direlakan. Kita hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk para pemuda ini.


Amanat

“Belajar di firma Takeda,” kataku pada mereka, “telah memberikan sebuah pelajaran penting lebih awal dalam hidupku. Saat itu, memang benar kita harus menghormati seorang guru, dan mempertanyakan wewenang mereka juga sangat penting. Pengalamanku di firma Takeda mengajarkanku agar jangan pernah mengikuti arus dengan membabi buta, namun harus mempertimbangkan benar-benar ke mana arah itu mendorongku. Dan ada satu hal yang ingin kutekankan untuk kalian lakukan, terbanglah di atas semua gelombang kehidupan. Lewatilah semua pengaruh kemunduran dan yang tidak diinginkan yang telah menenggelamkan kita dan melemahkan saraf bangsa kita begitu rupa selama sepuluh, lima belas tahun terakhir ini.” (halaman 80-81)

“Judulnya: “Semangat Patriotisme”, sebuah judul yang mungkin akan membuat kau membayangkan lukisan berisi para tentara sedang berbaris atau semacamnya. Tentu saja, intisari lukisan Kuroda menekankan bahwa semangat patriotisme dimulai dari tempat yang tak terduga, dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari, di tempat kita minum-minum bersama dan teman-teman yang bergaul dengan kita. (halaman 82)


Sabtu, 09 Maret 2013

Kai the GazettE Picture Share

Minna-san, konbanwa. :)
N lagi demen banget ma gayanya Kai-nii nih.. Terutama saat di konser THE DECADE. Jadi ga apa kan kalo tebar piku doang. Hahaha

Karena besok Hari Jadi the GazettE yang ke-11, so,,
To Kai-san, I like your voice, I like your style, keep your smile, be the best leader for the GazettE.
Indonesia e kitte kudasai. Matte imasu yo.. *Datanglah ke Indonesia. Kami menunggumu* :')










My favorite picture :')


Credit picture Kai~MMHV